Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi
SELAMA ini saya mengira warga Yogyakarta adalah juara dalam urusan makan dan minum manis. Maklum, gudeg identik dengan rasa manis. Belum lagi aneka jajanan dan minumannya.
Ternyata saya keliru. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, justru Jambi menempati peringkat pertama provinsi dengan konsumsi makanan manis tertinggi di Indonesia. Yogyakarta harus puas berada di posisi kedua.
Secara nasional, 47,5 persen penduduk Indonesia mengonsumsi makanan manis sedikitnya sekali setiap hari. Dengan kata lain, hampir satu dari dua orang Indonesia memiliki kebiasaan makan makanan manis setiap hari.
Jambi mencatat angka tertinggi, yakni 61,8 persen, disusul DI Yogyakarta (60,3 persen), Jawa Tengah (58,7 persen), dan Jawa Timur (56,5 persen). Artinya, di keempat provinsi tersebut, lebih dari separuh penduduknya mengonsumsi makanan manis setiap hari.
Daftar sepuluh besar kemudian dilengkapi Bangka Belitung (54,2 persen), Sulawesi Tenggara (53,6 persen), Bali (52,9 persen), Kalimantan Selatan (52,3 persen), Lampung (50,8 persen), dan Jawa Barat (50,4 persen).
Angka-angka itu menunjukkan bahwa kebiasaan mengonsumsi makanan manis bukan fenomena yang terjadi di satu atau dua daerah saja. Hampir di seluruh Indonesia, makanan manis telah menjadi bagian dari pola makan sehari-hari.
Masalahnya, tubuh kita tidak selalu bersahabat dengan gula. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa konsumsi gula berlebih merupakan salah satu faktor risiko terjadinya obesitas, diabetes melitus tipe 2, penyakit jantung dan pembuluh darah, gangguan metabolik, hingga kerusakan gigi.
Risiko tersebut semakin besar jika disertai pola makan yang kurang seimbang, jarang berolahraga, sering begadang, dan berat badan berlebih.
Memang, data SKI ini tidak berarti bahwa orang yang gemar makan manis pasti akan terkena diabetes. Namun, data tersebut merupakan peringatan dini. Bila pola konsumsi seperti ini terus berlangsung tanpa perubahan gaya hidup, Indonesia berpotensi menghadapi peningkatan jumlah penyandang obesitas, diabetes, penyakit jantung, dan berbagai penyakit tidak menular lainnya pada tahun-tahun mendatang.
Kabar baiknya, masa depan itu sifatnya belum pasti. Kita masih bisa mengubah arahnya mulai hari ini. Mengurangi makanan dan minuman manis, memperbanyak makanan alami yang kaya serat, rutin bergerak, tidur yang cukup, serta menjaga berat badan tetap ideal merupakan langkah sederhana yang manfaatnya sangat besar bagi kesehatan.
Ada pepatah lama yang tetap relevan hingga sekarang: lebih baik mencegah daripada mengobati. Jangan menunggu gula darah naik, baru mengurangi gula. Jangan menunggu divonis diabetes, baru mengubah pola makan.
Mulailah sekarang. Sebab, kesehatan hari esok ditentukan oleh pilihan yang kita buat hari ini. Termasuk memilih untuk mengatakan “cukup” pada makanan dan minuman yang terlalu manis. (jto)






