Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi
BISAKAH lidah dilatih? Bisa. Bukan dengan senam lidah, melainkan dengan mengurangi rangsangan rasa manis yang selama ini membuatnya terbiasa.
Saya teringat nasihat dokter saya. Sebagai diabetesi, saya harus membatasi konsumsi makanan dan minuman manis. Bahkan penggunaan pemanis rendah kalori seperti stevia pun sebaiknya tidak berlebihan.
Bukan karena stevia sama dengan gula pasir. Pemanis rendah kalori seperti stevia memang berbeda dengan gula dan pada umumnya tidak menyebabkan kenaikan gula darah seperti sukrosa. Tetapi ada alasan lain yang menurut saya menarik.
Lidah perlu dilatih agar tidak selalu mencari rasa manis. Menurut dokter saya, kalau terlalu sering diberi rasa manis, lidah akan terus mengharapkannya.
Sebaliknya, kalau konsumsi rasa manis dikurangi secara bertahap, selera kita dapat berubah. Makanan yang dahulu terasa hambar, lama-kelamaan bisa terasa nikmat. Kita pun tidak lagi merasa harus menambahkan gula atau pemanis.
Sebenarnya, proses seperti ini tidak hanya penting bagi diabetesi. Bahkan jauh lebih baik jika kebiasaan mengenal berbagai rasa sudah dibangun sejak awal kehidupan.
Dimulai Sejak Bayi
Bayi berusia di bawah enam bulan, pada umumnya, belum membutuhkan makanan atau minuman lain selain air susu ibu (ASI). Karena itu, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan menjadi rekomendasi kesehatan yang penting.
Ini bukan sekadar persoalan memenuhi kebutuhan nutrisi bayi. Pada masa tersebut, bayi juga belum perlu diperkenalkan dengan berbagai makanan dan minuman yang mengandung gula tambahan.
Setelah memasuki usia sekitar enam bulan, makanan pendamping ASI mulai diperkenalkan. Di sinilah orang tua mempunyai kesempatan yang sangat baik untuk memperkenalkan beragam rasa alami makanan kepada anak. Tidak perlu buru-buru membuat makanan anak menjadi manis agar terasa enak.
Buah, sayuran, umbi-umbian, kacang-kacangan, telur, ikan, daging dan berbagai bahan makanan memiliki rasa alami masing-masing. Biarkan anak mengenal dan menikmati rasa tersebut. Sebab, selera makan bukan sesuatu yang sepenuhnya sudah jadi sejak lahir. Kebiasaan dan pengalaman makan ikut membentuknya.
Jangan Biasakan Rasa Manis
Masalahnya, lingkungan kita justru sering melakukan sebaliknya. Anak kecil mudah sekali mendapatkan minuman manis, biskuit, permen, cokelat, es krim, kue dan berbagai makanan olahan dengan rasa manis yang kuat.
Sering kali orang tua berpikir, “Yang penting anak mau makan.”
Akhirnya makanan dibuat semakin manis. Padahal, kalau kebiasaan itu berlangsung terus, anak bisa semakin terbiasa dengan rasa manis yang kuat. Makanan yang sebenarnya cukup manis secara alami akhirnya dianggap tidak manis.
Di sinilah pentingnya orang tua memahami bahwa membentuk selera anak juga merupakan bagian dari pendidikan kesehatan.
Anak yang sejak kecil terbiasa menikmati rasa makanan yang tidak terlalu manis akan lebih mudah menerima pola makan yang sehat ketika dewasa.
Diabetesi Perlu Belajar Lagi
Bagaimana dengan orang dewasa yang sudah telanjur terbiasa dengan makanan dan minuman manis? Tidak ada kata terlambat. Saya sendiri melihatnya sebagai sebuah proses belajar kembali.
Ketika gula dan pemanis dikurangi, mungkin pada awalnya makanan terasa kurang nikmat. Kopi tanpa gula terasa berbeda. Teh tanpa gula terasa hambar. Makanan yang biasanya diberi saus manis tiba-tiba terasa kurang menggugah selera.
Lidah membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri.
Kurangi rasa manis secara bertahap. Kalau biasanya menggunakan dua sendok gula, misalnya, bisa dikurangi menjadi satu setengah, kemudian satu, lalu setengah. Pada akhirnya, mungkin kita bisa menikmati minuman tanpa gula sama sekali.
Yang terjadi sebenarnya bukan lidah kehilangan kemampuan merasakan manis. Kita sedang mengubah kebiasaan dan tingkat kemanisan yang dianggap nikmat.
Setelah terbiasa, rasa manis yang dahulu terasa biasa saja bahkan bisa terasa terlalu manis.
Jangan Takut pada Stevia
Dalam proses ini, saya tidak menganggap stevia sebagai sesuatu yang harus ditakuti.
Pemanis rendah kalori dapat menjadi pilihan bagi sebagian orang yang ingin mengurangi konsumsi gula. Tetapi kalau tujuan kita adalah membangun kebiasaan makan yang lebih sehat, tidak ada salahnya secara bertahap mengurangi ketergantungan pada rasa manis secara keseluruhan.
Sebab, target akhirnya bukan sekadar mengganti gula pasir dengan pemanis lain.
Targetnya adalah tidak lagi membutuhkan rasa manis yang kuat untuk menikmati makanan dan minuman.
Bagi diabetesi, kebiasaan ini tentu sangat membantu dalam mengendalikan asupan karbohidrat dan gula, meskipun pengendalian gula darah tetap membutuhkan pola makan keseluruhan, aktivitas fisik, pemantauan glukosa dan pengelolaan diabetes yang tepat.
Mari Melatih Lidah
Mungkin selama ini kita lebih sering mendengar istilah “diet” daripada “melatih lidah”.
Padahal, keduanya bisa berjalan bersama.
Diet memaksa kita memilih makanan yang lebih sehat. Sementara melatih lidah membuat pilihan tersebut lama-kelamaan terasa biasa, bahkan menyenangkan.
Inilah kabar baiknya: selera kita tidak harus menjadi tawanan kebiasaan lama. Lidah bisa belajar menikmati rasa yang lebih alami. Otak pun dapat menyesuaikan diri. Yang hari ini terasa hambar, beberapa waktu kemudian bisa menjadi makanan favorit.
Jadi, jangan takut memulai. Kurangi sedikit demi sedikit. Nikmati rasa alami makanan. Beri kesempatan kepada lidah untuk belajar.(jto)






