Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi
“SUDAH puasa kok masih olahraga? Memangnya masih perlu?” Pertanyaan itu terlontar dari seorang diabetesi kepada temannya.
Saya memang tidak ditanya. Namun karena topiknya menarik, saya ikut menyampaikan pendapat. “Puasa dan olahraga itu dua hal yang berbeda,” kata saya.
Puasa mengatur kapan kita makan. Sementara olahraga mengatur bagaimana tubuh menggunakan energi yang dimilikinya. Keduanya saling melengkapi, bukan saling menggantikan.
Banyak orang mengira selama berpuasa tubuh sudah otomatis membakar lemak sehingga olahraga tidak lagi diperlukan. Anggapan itu tidak sepenuhnya benar.
Bagi diabetesi, olahraga tetap memiliki peran penting. Saat otot bekerja, otot akan mengambil glukosa dari dalam darah sebagai sumber energi.
Proses ini membantu menurunkan kadar gula darah sekaligus meningkatkan sensitivitas tubuh terhadap insulin. Dalam jangka panjang, manfaatnya jauh lebih besar daripada sekadar menurunkan angka gula darah sesaat.
Namun, olahraga saat berpuasa memang membutuhkan strategi. Waktu pelaksanaannya harus dipilih dengan cermat.
Saya sendiri lebih suka berolahraga menjelang azan Magrib. Sebelum berangkat, saya sudah menghitung durasi olahraga hari itu. Targetnya sederhana: sekitar 15 menit setelah selesai berolahraga, waktu berbuka sudah tiba.
Mengapa demikian? Karena setelah berolahraga tubuh membutuhkan cairan dan energi untuk mengganti yang hilang. Jika waktu berbuka sudah dekat, saya bisa segera minum air putih, makan secukupnya, dan mengembalikan energi tanpa harus menunggu terlalu lama. Risiko dehidrasi maupun gula darah turun terlalu rendah pun dapat diminimalkan.
Sebaliknya, saya pernah mencoba berolahraga setelah Subuh. Saat itu saya merasa tubuh masih segar sehingga menganggap waktu tersebut paling ideal.
Ternyata saya keliru. Setelah olahraga, saya masih harus menunggu belasan jam hingga waktu berbuka. Tubuh kehilangan banyak cairan tanpa kesempatan menggantinya.
Menjelang sore badan terasa lemas, mulut kering, dan tenaga terkuras. Bukannya sehat yang diperoleh, justru kondisi tubuh menjadi kurang nyaman.
Pengalaman itulah yang mengubah kebiasaan saya. Tentu saja, tidak semua diabetesi memiliki kondisi yang sama. Jenis obat, penggunaan insulin, usia, tingkat kebugaran, dan adanya komplikasi dapat memengaruhi waktu olahraga yang paling aman.
Karena itu, setiap orang perlu menyesuaikan dengan kondisi masing-masing, bahkan bila perlu berkonsultasi dengan dokter.
Selain memilih waktu yang tepat, intensitas olahraga juga perlu diperhatikan. Saat berpuasa, olahraga ringan hingga sedang seperti berjalan kaki, bersepeda santai, atau senam lebih dianjurkan dibanding latihan yang terlalu berat. Durasi sekitar 30–60 menit umumnya sudah cukup memberikan manfaat tanpa membebani tubuh secara berlebihan.
Jadi, puasa bukan alasan untuk berhenti bergerak. Sebaliknya, puasa dan olahraga dapat menjadi pasangan yang sangat baik dalam membantu mengendalikan gula darah, menjaga berat badan, meningkatkan kebugaran, dan membuat tubuh tetap sehat. Kuncinya bukan memilih salah satu, melainkan mengatur waktu dan intensitasnya dengan bijak.
Bagi diabetesi, yang terpenting bukan sekadar berpuasa atau sekadar berolahraga, tetapi menjalankan keduanya dengan cara yang aman dan terencana.(jto)






