Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi
MUNGKIN teaser ini sering lewat di linimasa media sosial Anda: “Coklat Diabetesi. Coklat bebas gula yang aman untuk diabetesi.” Benarkah produk yang berlabel sugar free atau bebas gula benar-benar aman untuk diabetesi?
Banyak diabetesi terjebak oleh diksi bebas gula dalam iklan makanan dan minuman. Seolah-olah, jika tidak mengandung gula, produk tersebut pasti tidak menyebabkan sugar spike atau lonjakan gula darah.
Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu.
Gula darah tidak hanya naik karena makanan atau minuman mengandung gula. Gula darah juga dapat meningkat akibat konsumsi karbohidrat yang berlebihan. Di dalam sistem metabolisme tubuh, karbohidrat akan dipecah menjadi glukosa yang kemudian masuk ke dalam aliran darah.
Glukosa yang berhasil masuk ke dalam sel dengan bantuan insulin akan dimanfaatkan sebagai sumber energi. Sebaliknya, glukosa yang tidak dapat masuk ke dalam sel akan tetap berada di dalam darah sehingga kadar gula darah meningkat.
Karena itu, jangan langsung tergiur ketika membaca label “sugar free”, “bebas gula”, atau klaim sejenis.
Luangkan waktu beberapa detik untuk membaca Informasi Nilai Gizi pada kemasannya. Yang paling penting bukan hanya kandungan gula, tetapi juga jumlah karbohidrat total per sajian.
Sebagai ilustrasi, bayangkan ada minuman cokelat dengan informasi gizi sebagai berikut:
– Gula: 0 gram
– Karbohidrat total: 18 gram
– Protein: 3 gram
– Lemak: 5 gram
Apakah minuman tersebut aman untuk diabetesi?
Jawabannya: belum tentu.
Meskipun tidak mengandung gula, 18 gram karbohidrat tetap akan dicerna menjadi glukosa. Dampaknya terhadap gula darah bergantung pada banyak faktor, antara lain jumlah yang dikonsumsi, komposisi bahan, aktivitas fisik, serta kondisi metabolisme masing-masing diabetesi.
Bagaimana dengan kakao?
Buah kakao adalah bahan baku cokelat. Bubuk kakao murni tanpa tambahan gula sebenarnya tetap mengandung karbohidrat. Dalam setiap 100 gram bubuk kakao murni terdapat sekitar 50–60 gram karbohidrat. Namun, lebih dari separuhnya berupa serat pangan. Akibatnya, karbohidrat yang benar-benar dapat diserap tubuh jauh lebih rendah dibandingkan angka karbohidrat totalnya.
Ketika kakao diolah menjadi berbagai produk cokelat, komposisinya berubah.
Dark chocolate dengan kandungan kakao 85 persen umumnya memiliki karbohidrat lebih rendah dibandingkan dark chocolate 70 persen. Sementara itu, milk chocolate biasanya mengandung karbohidrat lebih tinggi lagi karena ditambah gula dan susu selama proses pembuatannya.
Artinya, semakin banyak bahan tambahan yang digunakan, terutama gula dan susu, semakin besar pula kemungkinan kandungan karbohidratnya meningkat.
Jadi, bagaimana cara menikmati cokelat dengan lebih aman?
Jika Anda menyukai dunia kuliner, cobalah membuat sendiri makanan atau minuman berbahan kakao di rumah. Gunakan bubuk kakao murni tanpa gula, pilih pemanis yang sesuai bila diperlukan, dan atur sendiri jumlah bahan yang digunakan.
Dengan membuat sendiri, Anda memiliki kendali penuh terhadap kandungan gula, karbohidrat, kalori, maupun ukuran porsinya. Anda tidak perlu bergantung pada berbagai klaim pemasaran yang belum tentu mencerminkan kandungan gizinya secara utuh.
Memang sedikit lebih repot. Namun, hasilnya jauh lebih menenangkan karena Anda mengetahui persis apa yang masuk ke dalam tubuh.
Siapa tahu, dari hobi meracik makanan dan minuman berbahan kakao itu, justru lahir peluang usaha baru. Anda bisa menjadi produsen makanan dan minuman home made yang benar-benar memahami kebutuhan diabetesi.
Ingat, yang paling perlu diwaspadai bukan sekadar gula, melainkan total karbohidrat yang kita konsumsi. Sebab, pada akhirnya karbohidrat itulah yang akan diubah menjadi glukosa di dalam darah.(jto)






