KEDALUWARSA

joko intarto

Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi

BELAKANGAN ini saya cukup sering mendengar keluhan dari para diabetesi. Glucometer yang baru dibeli tiba-tiba tidak bisa dipakai mengukur gula darah. Ada yang menampilkan tulisan error. Ada pula yang mengeluarkan angka yang tidak masuk akal.

Bacaan Lainnya

Lucunya, alat tersebut masih baru. Bahkan ada yang usianya belum genap sebulan.

Awalnya banyak yang menyangka penyebabnya adalah kualitas glucometer yang buruk. Padahal, belum tentu demikian.

Seorang kawan pernah bertanya kepada saya, “Merk glucometer apa yang bagus, tetapi harganya terjangkau?”

Saya jelaskan bahwa pada dasarnya hampir semua merek glucometer yang beredar secara resmi di Indonesia memiliki kualitas yang baik. Apalagi kalau produk tersebut telah memiliki sertifikat SNI. Artinya, alat itu sudah melewati serangkaian pengujian mutu sesuai Standar Nasional Indonesia sehingga layak dipasarkan.

Karena itu, menurut saya, persoalannya bukan memilih merek yang paling bagus. Yang jauh lebih penting justru memastikan kelengkapan paket yang kita beli.

Satu paket glucometer setidaknya berisi alat pembaca kadar gula darah, pena penusuk (lancing device), jarum (lancet), serta strip test untuk menguji sampel darah. Biasanya semua perlengkapan tersebut masih dilengkapi bonus berupa tas kecil agar mudah dibawa saat bepergian atau berolahraga.

Memilih Glucometer

Saat ini membeli glucometer sangat mudah. Hampir semua apotek menjualnya. Toko alat kesehatan tentu lebih lengkap lagi.

Kalau malas keluar rumah, tinggal buka marketplace langganan. Mau lewat Si Hijau, Si Oranye, atau Si Biru, pilihannya sama-sama banyak.

Kalau membeli secara daring, saya punya satu saran: Pilihlah merek glucometer yang strip test dan jarumnya dijual di apotek terdekat dengan rumah Anda. Lebih bagus lagi kalau apotek tersebut buka 24 jam.

Mengapa? Cepat atau lambat Anda pasti kehabisan strip test atau jarum. Bayangkan kalau persediaannya habis pada malam hari atau saat hari libur. Penjual di marketplace biasanya sudah tidak melayani pengiriman. Akhirnya Anda tetap harus mencari ke apotek terdekat.

Cek Masa Kedaluwarsa

Nah, di sinilah letak masalah yang sering diabaikan. Ternyata masih banyak diabetesi yang tidak sadar bahwa ada komponen glucometer yang memiliki masa kedaluwarsa, yaitu strip test. Selama ini kata “kedaluwarsa” lebih identik dengan makanan atau minuman. Akibatnya, banyak orang lupa memeriksa tanggal kedaluwarsa strip test sebelum membelinya.

Padahal, strip test adalah komponen yang paling menentukan keberhasilan pengukuran gula darah. Di dalamnya terdapat bahan kimia dan enzim yang bereaksi dengan glukosa pada sampel darah. Seiring bertambahnya usia penyimpanan, terutama ketika mendekati masa kedaluwarsa atau disimpan dalam kondisi yang kurang baik, kinerja enzim tersebut dapat menurun. Akibatnya, hasil pengukuran bisa menjadi kurang akurat atau bahkan gagal terbaca sama sekali.

Berdasarkan pengalaman saya, akurasi strip test yang masa kedaluwarsanya tinggal sekitar tiga bulan sudah mulai menurun. Seorang teman bahkan menunjukkan glucometernya yang hanya menampilkan kode error setiap kali dipakai.

Karena itu, sebelum membeli, selalu periksa tanggal kedaluwarsanya. Kalau bisa, pilih strip test yang masa berlakunya masih panjang. Syukur-syukur masih tersisa satu tahun atau lebih. Pokoknya, semakin jauh dari masa kedaluwarsa, semakin baik.

Strip test umumnya dijual dalam kemasan 25, 50, atau 100 lembar. Untuk pemakaian pribadi di rumah, saya justru lebih menyarankan membeli kemasan 25 lembar.

Mengapa? Karena rata-rata diabetesi hanya melakukan pemeriksaan gula darah sekitar tiga sampai lima kali dalam seminggu. Dengan frekuensi seperti itu, satu kotak berisi 25 strip biasanya habis dalam waktu sekitar dua bulan. Kalau saat membeli masa kedaluwarsanya masih enam bulan lagi, berarti seluruh strip masih sempat digunakan ketika akurasinya masih baik.

Saya pernah tergiur membeli kemasan 50 lembar karena harganya lebih murah. Secara hitung-hitungan memang lebih hemat. Sayangnya, ketika strip yang tersisa masih cukup banyak, masa kedaluwarsanya tinggal sekitar tiga bulan.

Saya mencoba menggunakannya beberapa kali. Hasilnya tidak lagi meyakinkan. Ada yang sulit membaca sampel darah, ada pula yang memberikan hasil yang berbeda-beda. Sejak saat itu saya lebih memilih membeli kemasan kecil meskipun harga per strip sedikit lebih mahal.

Glucometer adalah Kompas Diabetesi

Menurut saya, setiap diabetesi wajib memiliki glucometer sendiri. Alat kecil ini memberi petunjuk tentang kondisi gula darah kapan saja diperlukan.

Tanpa glucometer, diabetesi ibarat mengendarai sepeda motor tanpa speedometer. Mesin memang tetap hidup dan motor tetap berjalan. Namun kita tidak pernah tahu sedang melaju pelan atau terlalu kencang. Kita juga tidak tahu kapan harus mengurangi atau menambah kecepatan.

Bagi saya, fungsi glucometer bukan sekadar mengetahui kadar gula darah. Alat ini juga menjadi “guru pribadi” yang mengajari saya memilih makanan.

Caranya sederhana. Saya mengukur gula darah sebelum makan. Lalu mengukurnya lagi sekitar satu jam setelah makan. Dari situ saya bisa melihat bagaimana tubuh saya bereaksi terhadap makanan tersebut. Kalau kenaikan gula darah terlalu tinggi, makanan itu saya coret dari daftar menu.

Cara sederhana ini membuat saya akhirnya menghapus durian dari daftar makanan favorit. Tiga kali saya melakukan pengujian. Hasilnya sama. Satu jam setelah makan durian, gula darah saya bukan sekadar naik, tetapi “terbang” hingga mencapai 315 mg/dL.

Belakangan saya juga mulai mengurangi lalampa, lemper, klepon, ketan susu, dan hampir semua makanan berbahan beras ketan. Penyebabnya sama. Satu jam setelah makan, gula darah saya naik hingga 171 mg/dL.

Setiap orang memiliki respons tubuh yang berbeda. Apa yang aman bagi saya belum tentu aman bagi Anda. Sebaliknya, makanan yang membuat gula darah saya melonjak belum tentu menimbulkan efek yang sama pada orang lain.

Karena itu, jangan hanya mengandalkan pengalaman orang lain. Gunakan glucometer untuk mengenali tubuh Anda sendiri. Susun daftar makanan, minuman, dan buah-buahan berdasarkan hasil pengukuran gula darah Anda, bukan berdasarkan mitos atau cerita dari media sosial.

Percayalah, glucometer bukan sekadar alat ukur gula darah. Ia adalah sahabat yang membantu diabetesi mengambil keputusan setiap hari. Dan agar sahabat kecil itu tetap bekerja dengan baik, jangan lupa selalu memeriksa satu hal yang sering terlupakan: masa kedaluwarsa strip test-nya.(jto)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *