Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi
DI kampung halaman saya, Grobogan, Jawa Tengah, tanaman okra bukan lagi tanaman asing. Hingga di pelosok desa, masyarakat telah biasa membudidayakan sayuran berbentuk buah tersebut.
Hasil panennya dibeli oleh sebuah perusahaan di Semarang. Setelah diolah, buah okra kemudian diekspor ke Jepang. Kabarnya, Jepang merupakan negara tujuan ekspor terbesar perusahaan tersebut saat ini.
Meski pada dasarnya merupakan jenis sayuran, buah okra ternyata memiliki manfaat lain bagi kesehatan. Berdasarkan hasil penelitian, mengonsumsi okra dalam jumlah tertentu dapat membantu diabetesi mengendalikan gula darah.
Beberapa tahun lalu, penelitian mengenai okra masih berada pada tahap awal. Hasilnya memang menjanjikan, tetapi belum cukup kuat untuk dijadikan dasar rekomendasi medis.
Belakangan, penelitian yang lebih besar dan lebih baik mulai bermunculan. Hasilnya semakin konsisten. Okra terbukti berpotensi membantu menurunkan kadar gula darah puasa, bahkan memberi dampak positif terhadap profil kolesterol.
Namun, hingga kini belum ada penelitian yang menempatkan okra sebagai terapi utama diabetes. Posisi okra tetap sebagai sayuran bergizi yang baik dikonsumsi diabetesi. Bukankah pada dasarnya okra memang tanaman pangan, bukan tanaman obat?
Jauh sebelum para ilmuwan menelitinya, masyarakat di berbagai belahan dunia telah lebih dahulu menanam dan mengonsumsi okra sebagai bahan pangan. Para ahli memperkirakan tanaman ini berasal dari kawasan Afrika Timur atau Afrika Timur Laut. Dari sana, okra menyebar ke Timur Tengah, India, Asia Tenggara, hingga Jepang mengikuti jalur perdagangan dan perpindahan penduduk.
Di India, okra dikenal sebagai lady’s finger dan menjadi salah satu sayuran favorit. Di Jepang, okra bahkan sudah menjadi bagian dari menu sehari-hari karena teksturnya yang khas dan kandungan gizinya yang tinggi. Indonesia pun telah lama mengenal okra, meski popularitasnya masih kalah dibanding bayam, kangkung, sawi, atau kacang panjang.
Baru setelah masyarakat mengonsumsinya selama ratusan, bahkan ribuan tahun, para peneliti mulai bertanya, mengapa sayuran ini tampak memberikan manfaat bagi kesehatan?
Dari situlah lahir berbagai penelitian yang kini mulai mengungkap peran serat, polifenol, flavonoid, dan lendir alami okra dalam membantu memperlambat penyerapan glukosa serta menjaga metabolisme tubuh.
Artinya, penelitian tidak menciptakan manfaat okra. Penelitian hanya menjelaskan secara ilmiah manfaat yang mungkin telah lama dinikmati masyarakat.
Karena itu, saya mempunyai sebuah gagasan sederhana. Mengapa para diabetesi tidak mulai menanam okra sendiri di rumah?
Okra termasuk tanaman yang mudah dibudidayakan. Ia tidak memerlukan lahan luas. Empat pot berukuran sedang yang diletakkan di halaman, teras, atau samping rumah sudah cukup untuk memulai. Dengan perawatan sederhana berupa penyiraman, pemupukan, dan sinar matahari yang cukup, tanaman ini akan tumbuh subur.
Yang menarik, okra bukan tanaman sekali panen.
Tanaman ini terus menghasilkan bunga dan buah secara bergantian. Buah muda dapat dipetik setiap dua atau tiga hari sekali.
Selama dirawat dengan baik, okra dapat tetap produktif dalam waktu yang cukup lama, bahkan lebih dari satu musim tanam.
Bayangkan betapa menyenangkannya memetik sendiri okra segar dari halaman rumah, lalu mengolahnya menjadi sayur bening, tumisan, atau campuran sup untuk keluarga.
Kalau pun penelitian suatu hari nanti menemukan manfaat okra yang lebih besar lagi bagi diabetesi, anggaplah itu sebagai bonus.(jto)






