RISKS.ID – Harga Minyak Mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) kembali melemah pada Juli 2026. Pemerintah menetapkan rata-rata ICP sebesar US$81,68 per barel, turun US$1,77 dari posisi Juni yang mencapai US$83,45 per barel.
Penurunan tersebut mengikuti pelemahan sejumlah harga minyak acuan dunia. Kondisi pasar mulai berubah setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah mereda dan distribusi minyak global berangsur normal.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman mengatakan pergerakan ICP mencerminkan kondisi pasar internasional.
“Penetapan ICP bulan Juli 2026 sebesar US$81,68 per barel mencerminkan dinamika pasar minyak mentah global yang mengalami penyesuaian menyusul meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah serta berangsur pulihnya arus pasokan minyak dunia,” kata Laode.
Harga Brent juga turun menjadi US$83,97 per barel dari US$84,43 per barel pada bulan sebelumnya. Sementara WTI berada di US$79,22 per barel, turun US$2,57.
Penurunan lebih tajam terjadi pada Basket OPEC. Rata-rata harganya terkoreksi US$7 menjadi US$82,74 per barel.
Pemulihan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz turut memberi pengaruh terhadap sentimen pasar. Jalur tersebut memiliki peran penting dalam distribusi minyak dunia.
Data International Energy Agency (IEA) menunjukkan pasokan minyak global mencapai 98,8 juta barel per hari pada Juni 2026. Pasokan meningkat 4,1 juta barel per hari seiring membaiknya kondisi distribusi.
Meski tekanan harga mulai mereda, pemerintah tetap mencermati risiko geopolitik dan perubahan pasokan global. Perkembangan tersebut dapat kembali memengaruhi harga minyak pada bulan berikutnya.
Pemerintah memastikan formula ICP tetap diterapkan secara transparan agar harga minyak Indonesia mencerminkan perkembangan pasar internasional.






