Cerita Jasidin, Dulu Kuli Bangunan, Kini Jadi Miliarder

jasidin
Jasidin bersama Toyota Vellfire miliknya. Foto: RISKS.ID

RISKS.ID — Sekilas, tidak ada yang istimewa dari sosok lelaki yang tinggal di Desa Tanjung Anom, Kecamatan Rakit, Kabupaten Banjarnegara, itu.

Kulitnya gelap, khas orang yang bertahun-tahun akrab dengan panas matahari. Wajahnya pun sederhana, wajah lelaki desa yang tidak dibuat-buat. Rambutnya tipis. Pakaiannya pun jauh dari kesan mewah.

Bacaan Lainnya

Tetapi begitu berbicara, kesan berbeda segera terasa.

Nada suaranya tegas. Cara menyampaikan sesuatu lugas. Tidak banyak basa-basi.

Barangkali karakter itulah yang selama puluhan tahun membuat Jasidin dipercaya banyak orang.

Lebih dari tiga dekade lalu, ia hanyalah seorang pekerja kasar.

Kini, lelaki 59 tahun itu telah menjelma menjadi miliarder. Selain pengusaha, Jasidin juga peternak ikan dan petani. Penghasilannya datang dari berbagai arah.

Ada proyek.

Ada ikan.

Ada sawah.

Dan ada aset yang terus ia bangun.

Yang menarik, sebagian besar perjalanan itu dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: tenaga.

 

Pemuda Miskin yang Berani Bermimpi

Jasidin muda bukanlah siapa-siapa.

Ia lahir dan tumbuh dari keluarga miskin di desanya. Tidak ada kekayaan yang bisa diwariskan. Tidak ada perusahaan keluarga yang kelak bisa diteruskan.

Namun, sejak muda ia memiliki modal yang tidak terlihat: percaya diri dan disiplin.

Ia juga memiliki optimisme yang besar.

Pada usia 22 tahun, misalnya, ia berani mengambil keputusan yang bagi sebagian orang mungkin dianggap nekat.

Ia melamar Salimah, gadis pujaannya dari desa tetangga.

Saat itu Jasidin belum memiliki pekerjaan tetap.

Tetapi ia tidak menunggu sampai kehidupannya mapan untuk membangun rumah tangga.

“Hari Minggu kenalan, hari Rabu kami menikah. Meski waktu itu saya belum punya pekerjaan tetap,” kata Jasidin saat ditemui di rumahnya.

Keputusan itu ternyata menjadi awal perjalanan panjang sebuah keluarga.

Kini, pernikahan tersebut telah menghadirkan dua anak dan lima cucu.

Namun, setelah menikah, persoalan baru segera datang.

Keluarga harus makan.

Kebutuhan harus dipenuhi.

Sementara pekerjaan tetap belum ada.

Jasidin tidak mau menyerah pada keadaan.

 

Meninggalkan Kampung demi Bertahan Hidup

Pada 1986, Jasidin mengikuti program transmigrasi ke Lampung Utara.

Di sana, dia mencoba menjadi petani singkong.

Harapannya sederhana: bisa memperoleh penghasilan dari tanah dan membangun kehidupan yang lebih baik.

Namun, hasilnya belum sesuai harapan.

Pendapatan dari bertani singkong tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan.

Jasidin kemudian memilih jalan lain.

Merantau.

Jakarta menjadi tujuannya.

Ia datang tanpa membawa modal besar.

Yang ia miliki hanya keberanian dan tenaga.

Di ibu kota, pekerjaan pertamanya adalah menjadi tukang gali pada sebuah proyek di kawasan Kemang.

“Pekerjaan pertama saya, saat itu menjadi tukang gali di sebuah proyek di Kemang, Jakarta,” tuturnya.

Pekerjaan itu jauh dari mudah.

Namun, Jasidin tidak pernah mengeluh karena harus memulai dari bawah.

Ia bekerja.

Belajar.

Mengamati.

Dan membangun hubungan dengan orang-orang yang ditemuinya di dunia proyek.

Ia mungkin tidak menyadarinya ketika itu, tetapi pengalaman tersebut kelak menjadi modal yang jauh lebih berharga daripada uang.

Tahun 1990, Tenaga Berubah Menjadi Kepercayaan

Perubahan besar terjadi pada 1990. Jasidin dipercaya menjadi mandor.

Dari seorang pekerja yang sebelumnya mengandalkan tenaga, ia mulai mendapatkan tanggung jawab untuk mengatur pekerjaan dan pekerja.

Bidang yang menjadi keahliannya adalah bekisting.

Pekerjaan yang berkaitan dengan cetakan konstruksi beton itu menjadi spesialisasi Jasidin.

Namun, ia tidak pernah membatasi diri.

Pekerjaan lain, termasuk pengecoran dan berbagai pekerjaan konstruksi lainnya, tetap ia terima.

Prinsipnya sederhana.

Selama pekerjaan bisa dilakukan dan menghasilkan, ia siap mengerjakannya.

Sebagai mandor, tanggung jawabnya pun berubah.

Ia bukan hanya dituntut mampu bekerja.

Ia harus mampu mengatur orang.

Mengejar target.

Menjaga kualitas pekerjaan.

Dan memastikan proyek berjalan sesuai keinginan pemberi kerja.

Di sinilah karakter Jasidin semakin terbentuk.

Disiplin menjadi kebiasaan.

Ketegasan menjadi cara bekerja.

Dan kepercayaan menjadi modal utama.

 

Dari Satu Proyek ke Perusahaan Besar

Dunia proyek mempertemukan Jasidin dengan banyak orang.

Dari satu pekerjaan, ia mendapatkan kenalan.

Dari kenalan, muncul pekerjaan berikutnya.

Relasi itu terus berkembang.

Hingga akhirnya, Jasidin dipercaya mengerjakan berbagai proyek dari perusahaan-perusahaan besar.

Nama-nama seperti PT Kajima, PT PP, Bumi Jaya Abadi, Pelindo, dan Wika pernah menjadi bagian dari perjalanan profesionalnya.

Di hadapan perusahaan-perusahaan besar tersebut, Jasidin tetap datang sebagai dirinya sendiri.

Sederhana.

Lugas.

Tegas.

Ia tidak membutuhkan penampilan mewah untuk menunjukkan kemampuan.

Hasil kerja yang berbicara.

Kepercayaan yang menentukan.

Dan pekerjaan yang selesai dengan baik menjadi jalan untuk mendapatkan proyek berikutnya.

Jasidin pun perlahan bukan lagi sekadar mandor.

Ia berkembang menjadi pengusaha di bidang pekerjaan konstruksi.

Dari proyek pabrik hingga tower.

Dari pekerjaan bekisting hingga pengecoran.

Termasuk sejumlah proyek lainnya.

Semua dikerjakan dengan prinsip yang sama: pekerjaan harus selesai dengan baik dan kepercayaan jangan sampai hilang.

 

Ketika Proyek Berhenti, Ikan Tetap Menghasilkan

Ada satu hal yang membuat pola kehidupan Jasidin berbeda dari banyak orang yang hanya mengandalkan pekerjaan proyek.

Ia tidak membiarkan dirinya bergantung pada satu sumber penghasilan.

Proyek konstruksi memang bisa memberikan penghasilan besar.

Tetapi proyek tidak selalu ada.

Ada masa pekerjaan ramai.

Ada masa pekerjaan sepi.

Jasidin memahami siklus itu.

Karena itu, sejak beberapa waktu lalu ia membangun sumber penghasilan lain.

Kolam ikan.

Kini, di sekitar kehidupannya terdapat 19 kolam ikan.

Ketika tidak ada proyek, Jasidin tidak menghabiskan waktunya dengan duduk menunggu pekerjaan datang.

Ia turun ke kolam.

Memeriksa ikan.

Mengurus pakan.

Mengawasi pertumbuhan.

Dan ketika waktunya tiba, ikan-ikan itu dipanen.

Kolam tersebut menjadi semacam lumbung uang bagi Jasidin.

Pekerjaan proyek boleh berhenti sementara.

Tetapi kehidupan tetap berjalan.

Dan ikan-ikan itu tetap tumbuh.

 

Sawah yang Tidak Pernah Dibiarkan Menganggur

Hal yang sama ia lakukan terhadap sawah.

Hasil kerja puluhan tahun tidak seluruhnya ia habiskan untuk kebutuhan konsumtif.

Sebagian ia ubah menjadi aset.

Tanah.

Sawah.

Kolam.

Rumah.

Kini Jasidin memiliki 22 petak sawah.

Sawah-sawah itu ditanami padi dan sebagian kebun pepaya dan durian.

Ketika musim tanam tiba, ia mengurus sawah.

Ketika musim panen datang, hasilnya menjadi pemasukan.

Bagi Jasidin, bertani bukan pekerjaan masa lalu.

Justru menjadi salah satu bagian dari strategi kehidupannya.

Ia memahami bahwa sumber penghasilan harus terus dibuat berlapis.

Jika proyek menghasilkan, uang masuk dari proyek.

Jika proyek sedang sepi, kolam ikan bisa menjadi sumber pemasukan.

Sawah juga terus berproduksi.

Dengan cara itu, penghasilannya tidak pernah benar-benar berhenti.

Tujuh Rumah dan Dua Mobil

Kerja keras yang berlangsung puluhan tahun akhirnya meninggalkan jejak yang bisa dilihat.

Jasidin kini memiliki 22 petak sawah.

Ada 19 kolam ikan.

Ia juga memiliki tujuh unit rumah.

Di garasinya terdapat dua kendaraan, Toyota Vellfire dan Toyota Vios.

Tetapi jika melihat sosoknya, semua pencapaian tersebut terasa seperti sebuah kontras.

Ia tidak tampil seperti seorang pengusaha besar.

Kulitnya tetap gelap.

Wajahnya tetap sederhana.

Rambutnya tetap tipis.

Gaya bicaranya tetap lugas.

Dan kehidupan sehari-harinya tetap dekat dengan sawah serta kolam ikan.

Mungkin karena itulah Jasidin terlihat seperti orang yang tidak pernah benar-benar meninggalkan masa lalunya.

Ia masih menjadi lelaki desa.

Hanya saja, perjalanan hidup membuatnya memiliki lebih banyak pilihan.

 

Tidak Ada Penghasilan yang Benar-Benar Kecil

Jasidin seperti membangun banyak pintu untuk kehidupan ekonominya.

Satu pintu dari proyek konstruksi.

Satu pintu dari ikan.

Satu pintu dari pertanian.

Aset berupa rumah dan tanah menjadi penopang lainnya.

Semua tidak dibangun sekaligus.

Semuanya dimulai dari sedikit.

Dari penghasilan yang dikumpulkan.

Dari kesempatan yang tidak dilewatkan.

Dari kepercayaan yang dijaga.

Dan dari kebiasaan bekerja keras.

Jasidin barangkali tidak pernah belajar teori tentang diversifikasi usaha.

Namun, kehidupannya justru mempraktikkan teori itu secara alami.

Ia tidak ingin ketika proyek berhenti, penghasilannya ikut berhenti.

Karena itu ia memiliki sawah.

Ia tidak ingin ketika hasil sawah belum bisa dipanen, pemasukan berhenti.

Karena itu ia memiliki kolam ikan.

Dan ketika ada proyek, ia kembali bekerja.

Semua bergerak bersamaan.

Semua menjadi sumber penghasilan.

 

Dari Kuli Gali Menjadi Pengusaha

Jika ditarik ke belakang, perjalanan Jasidin sebenarnya sangat sederhana.

Ia pernah menjadi anak muda dari keluarga miskin.

Ia pernah menikah ketika belum mempunyai pekerjaan tetap.

Ia pernah mencoba menjadi petani singkong di Lampung Utara.

Ia pernah menjadi kuli gali di Kemang.

Kemudian dipercaya menjadi mandor pada 1990.

Dari mandor, ia membangun relasi.

Dari relasi, ia mendapatkan proyek.

Dari proyek, ia membangun aset.

Dari aset, ia membangun sumber penghasilan lain.

Dan kini, pada usia 59 tahun, Jasidin menikmati hasil dari perjalanan panjang tersebut.

Namun, satu hal yang tampaknya tidak berubah.

Ia masih bekerja.

Masih mengurus ikan.

Masih memperhatikan sawah.

Masih memikirkan proyek.

Sebab bagi Jasidin, sukses bukan berarti berhenti bekerja.

Sukses adalah ketika seseorang mampu membuat hasil kerja kerasnya terus bekerja untuk kehidupan.

Dulu, Jasidin menjual tenaganya untuk mendapatkan uang.

Kini, uang yang ia kumpulkan selama puluhan tahun telah berubah menjadi sawah, kolam, rumah, usaha, dan jaringan pekerjaan.

Perjalanannya seperti mengajarkan satu hal sederhana:

Jangan menunggu kaya untuk mulai membangun. Mulailah dari apa yang dimiliki, jaga kepercayaan, bekerja keras, lalu biarkan waktu yang mengubah sedikit demi sedikit menjadi sesuatu yang besar.

Dan Jasidin telah membuktikannya.

Dari seorang kuli gali.

Menjadi mandor.

Menjadi pengusaha.

Menjadi petani.

Menjadi peternak ikan.

Dan akhirnya menjadi seorang lelaki desa dengan banyak lumbung penghasilan yang membuat dapurnya tetap menyala, bahkan ketika satu pintu pekerjaan sedang tertutup.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *