Oleh: JOKO INTARTO
Diebetesi
JAWAB semua pertanyaan pada aplikasi digital ini. Dalam beberapa saat, Anda akan tahu, berapa level gula yang ada di dalamnya. Begitulah cara kerja aplikasi unik yang dinamakan Kalkulator Nutri Level yang dikembangkan Kementerian Kesehatan.
Minggu pagi saya bersepeda di kawasan Car Free Day (CFD) Jalan Rasuna Said, Kuningan. Di depan kantor Kementerian Kesehatan, saya melihat beberapa booth yang menggelar kegiatan edukasi kesehatan. Salah satunya langsung menarik perhatian saya: booth sosialisasi Nutri-Level.
Awalnya saya hanya berniat mampir sebentar. Ternyata saya menghabiskan waktu cukup lama di sana. Petugas yang berjaga dengan ramah menjelaskan apa itu Nutri-Level, mengapa pemerintah memperkenalkannya, dan bagaimana cara menggunakannya saat memilih makanan atau minuman.
Yang paling menarik perhatian saya di booth itu adalah aplikasi kalkulator digital. Pengunjung dapat memasukkan komposisi nutrisi suatu makanan atau minuman, lalu aplikasi itu akan menunjukkan level produk tersebut. Dari simulasi sederhana itu saya jadi tahu manfaat nutri-level sebagai alat bantu masyarakat agar lebih bijaksana memilih produk makanan atau minuman dalam kemasan.
Selama ini, membaca tabel informasi nilai gizi di kemasan memang tidak mudah. Tulisannya kecil. Angka-angkanya cukup banyak. Istilah teknisnya sulit dipahami. Hal ini membuat banyak orang enggan membacanya.
Akibatnya, banyak konsumen membeli makanan atau minuman tanpa benar-benar mengetahui kandungan gula, garam, dan lemak jenuhnya.
Di sinilah nutri-level hadir sebagai penyederhana informasi. Sistem pelabelan pada bagian depan kemasan ini mengelompokkan produk berdasarkan kandungan gula, garam, dan lemak jenuh ke dalam empat tingkat, yaitu A, B, C, dan D. Level A menunjukkan kandungan yang paling rendah, sedangkan level D menunjukkan kandungan yang paling tinggi.
Dengan melihat satu huruf di dalam lingkaran berwarna, konsumen dapat memperoleh gambaran cepat mengenai profil gizi suatu produk tanpa harus mengurai angka-angka pada tabel informasi nilai gizi.
Kehadiran nutri-level memang sudah mendesak. Sebab Indonesia menghadapi peningkatan penyakit tidak menular atau penyakit degeneratif yang dipicu oleh perubahan gaya hidup.
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi diabetes terus meningkat dibandingkan satu dekade sebelumnya.
Hipertensi, obesitas, penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal juga menjadi penyebab utama kesakitan dan kematian. Pola makan tinggi gula, garam, dan lemak, ditambah kurangnya aktivitas fisik, menjadi faktor risiko yang paling sering disebut.
Karena itu pemerintah berupaya mendorong masyarakat agar lebih bijak memilih makanan dan minuman. Nutri-level bukan dimaksudkan untuk melarang orang membeli suatu produk, melainkan memberikan informasi yang mudah dipahami sebelum keputusan membeli diambil. Harapannya, konsumen secara sukarela akan beralih kepada produk yang memiliki profil gizi lebih baik sehingga risiko penyakit degeneratif dapat ditekan.
Indonesia bukanlah negara pertama yang menerapkan pelabelan gizi sederhana seperti ini. Singapura telah lebih dahulu memperkenalkan nutri-grade pada minuman berpemanis. Malaysia menerapkan sistem healthier choice logo sebagai panduan memilih produk yang lebih sehat.
Thailand juga telah lama menggunakan berbagai bentuk pelabelan gizi pada bagian depan kemasan untuk membantu konsumen mengambil keputusan yang lebih baik. Pengalaman negara-negara tersebut menunjukkan bahwa informasi yang sederhana lebih mudah dipahami masyarakat dibandingkan tabel gizi yang panjang dan penuh angka.
Indonesia kemudian mengembangkan nutri-level dengan pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat Indonesia.
Kebijakan nutri-level mulai diperkenalkan melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 yang diterbitkan pada April 2026. Penerapannya dilakukan secara bertahap, dimulai dari pangan olahan siap saji, terutama minuman. Selanjutnya, pencantuman Nutri-Level pada pangan olahan dalam kemasan akan dilakukan secara bertahap sesuai ketentuan yang disusun pemerintah bersama BPOM.
Penerapan nutri-level dalam praktik mulai bisa dijumpai di lapangan. Salah satu contohnya adalah produk minuman Kopi Kenangan yang telah mencantumkan informasi nutri-level pada menu dan produknya.
Langkah ini menunjukkan bahwa dunia usaha mulai beradaptasi dengan kebijakan pemerintah sekaligus memberikan informasi yang lebih transparan kepada konsumen.
Ke depan, pasti akan semakin banyak produsen makanan dan minuman yang menerapkan pelabelan serupa sehingga masyarakat semakin mudah membandingkan kandungan gizi sebelum menentukan pilihan.
Sebagai konsumen, saya melihat manfaat Nutri-Level sangat praktis. Di depan rak minimarket, misalnya, kita sering dihadapkan pada beberapa produk yang tampak serupa. Dulu kita harus membandingkan angka demi angka pada tabel informasi nilai gizi. Kini, cukup melihat label nutri-level untuk memperoleh gambaran awal mana yang relatif lebih baik.
Bagi saya yang hidup sebagai diabetesi, manfaatnya terasa lebih besar lagi. Label ini menjadi semacam alarm ketika memilih makanan atau minuman. Produk dengan Level A atau B tentu lebih menarik perhatian dibandingkan produk yang memperoleh Level C atau D.
Nutri-level bukan pengganti penghitungan karbohidrat, bukan pula pengganti pemeriksaan gula darah. Namun, label ini dapat menjadi panduan praktis agar keputusan membeli makanan tidak hanya didasarkan pada rasa, harga, atau promosi.
Booth kecil di sudut Car Free Day itu mengingatkan saya bahwa menjaga kesehatan tidak selalu dimulai dari rumah sakit atau ruang praktik dokter. Kadang-kadang, semuanya berawal dari keputusan sederhana di depan rak toko.
Mulai sekarang, biasakan melirik nutri-level sebelum membeli makanan atau minuman dalam kemasan. Temukan huruf A, B, C, atau D di dalam lingkaran yang tertera pada label.
Hanya perlu beberapa detik untuk melihatnya, tetapi informasi sederhana itu dapat membantu Anda memilih produk yang lebih sehat. Jangan menunggu sakit untuk mulai memperhatikan apa yang Anda konsumsi. Jadikan nutri-level sebagai “panduan pertama” sebelum setiap keputusan membeli makanan dan minuman.(jto)






