Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi
SEBAGAI diabetesi, saya sering mendapat pertanyaan sederhana: “Bukankah mengendalikan gula darah itu cukup dengan mengurangi makan manis?” Jawabannya ternyata tidak sesederhana.
Pilihan makanan memang berada di tangan kita. Tetapi pilihan itu sangat dipengaruhi oleh lingkungan makanan di sekitar kita. Ketika produk tinggi gula, tinggi lemak, dan rendah nilai gizi memenuhi rak-rak toko dengan kemasan yang menarik, konsumen sering kali mengambil keputusan hanya dalam hitungan detik.
Di sinilah menariknya kebijakan nutri-grade di Singapura. Negeri jiran itu tidak hanya meminta masyarakat untuk lebih bijak memilih makanan. Mereka juga mengubah cara industri makanan dan minuman bekerja.
Sejak 2022, Singapura menerapkan kewajiban pencantuman label nutri-grade pada minuman kemasan tertentu. Sistem ini memberi tanda sederhana berupa peringkat huruf, mulai dari Grade A hingga D, berdasarkan kandungan gula dan lemak jenuh. Tujuannya bukan untuk melarang konsumen yang membeli minuman manis, melainkan untuk memberi informasi yang mudah dipahami sekaligus mendorong produsen memperbaiki produknya.
Hasil awalnya menarik. Sebelum dan setelah kebijakan diterapkan, industri minuman Singapura mulai melakukan reformulasi. Banyak produsen mengurangi kadar gula agar produknya memperoleh kategori yang lebih baik. Artinya, nutri-grade bekerja bukan hanya di meja makan konsumen, tetapi juga di ruang produksi pabrik.
Inilah pelajaran penting dari Singapura. Perubahan kesehatan masyarakat tidak selalu dimulai dari rumah sakit. Kadang-kadang ia dimulai dari label kecil yang ditempel di botol minuman.
Namun, apakah nutri-grade sudah terbukti menurunkan angka diabetes di Singapura? Belum.
Kebijakan nutri-grade telah menunjukkan perubahan pada tahap yang lebih awal: konsumen mendapatkan informasi yang lebih jelas, industri terdorong memperbaiki produk, dan lingkungan pangan menjadi lebih mendukung pilihan sehat. Ibarat perjalanan panjang, nutri-grade adalah rambu jalan agar masyarakat tidak tersesat.
Indonesia kini mulai memperkenalkan nutri-level. Kita tentu tidak perlu sekadar menyalin kebijakan Singapura. Setiap negara memiliki karakter konsumsi dan tantangan kesehatan yang berbeda.
Kita tidak cukup hanya meminta masyarakat mengubah perilaku. Kita juga harus mengubah lingkungan yang membentuk perilaku tersebut. Sebab diabetes bukan hanya persoalan apa yang dimakan seseorang hari ini. Diabetes adalah hasil dari pola hidup yang dibangun setiap hari, termasuk dari makanan yang tersedia di sekitar kita.
Mencegah penyakit degeneratif berarti bekerja dari hulu sebelum sibuk menangani akibatnya di hilir. Singapura memberi contoh: sebelum mengubah angka penyakit, pemerintah memperbaiki terlebih dahulu aturan main di industri makanan dan minuman.(jto)






