LUKA KECIL BERUJUNG AMPUTASI

Joko Intarto
Bersama Pak Hadi Sutikno di Warung Gudeg Khas Jogja di Jalan Ampera. Foto: Istimewa

Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi

CERITA ini saya dapatkan secara tidak sengaja. Penuturnya, sebut saja Pak Kandar, seorang pensiunan polisi yang beberapa bulan lalu menjalani amputasi kaki kanannya.

Bacaan Lainnya

“Padahal awalnya hanya luka kecil di jempol kaki. Karena tidak saya perhatikan, luka tersebut akhirnya infeksi dan diamputasi,” kata Pak Kandar.

Bagi diabetesi, luka sekecil apa pun memang tidak boleh dianggap enteng. Cerita Pak Kandar menjadi contoh nyata bahwa luka yang bagi orang lain mungkin tergolong sepele, bagi diabetesi bisa berkembang menjadi masalah serius.

Mengapa bisa begitu? Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak saraf dan pembuluh darah. Kerusakan saraf membuat diabetesi sering tidak merasakan luka dengan baik. Luka kecil, lecet, atau bahkan luka akibat gesekan sepatu bisa saja tidak disadari.

Di sisi lain, gangguan pembuluh darah dapat membuat aliran darah ke kaki tidak optimal. Akibatnya, oksigen dan zat-zat yang dibutuhkan untuk memperbaiki jaringan tidak sampai dengan baik ke lokasi luka. Kondisi gula darah yang tinggi juga dapat mengganggu kemampuan tubuh melawan infeksi.

Luka yang semula kecil akhirnya menjadi pintu masuk bagi bakteri. Jika tidak segera ditangani, infeksi dapat berkembang dari jaringan kulit ke jaringan yang lebih dalam. Dalam kondisi yang berat, jaringan bisa mengalami kematian atau infeksi dapat menyebar sehingga amputasi menjadi salah satu pilihan untuk menyelamatkan nyawa.

Proses dari luka, infeksi, hingga amputasi pada diabetesi ternyata bisa berlangsung cukup cepat. Dalam kasus Pak Kandar, semuanya terjadi hanya dalam hitungan beberapa bulan.
Padahal, Pak Kandar sudah mengalami diabetes selama lebih dari 30 tahun.

“Selama 30 tahun, saya tidak pernah mengalami masalah dengan luka pada anggota tubuh. Padahal lukanya lebih serius. Tapi kali ini lukanya kecil saja, eh, malah berujung diamputasi,” katanya.

Pengalaman Pak Kandar mengingatkan saya pada satu hal sederhana: jangan menunggu luka menjadi parah untuk mulai memperhatikannya.

Setelah Amputasi, Kaki Sebelahnya Bengkak

Setelah diamputasi, penderitaan Pak Kandar ternyata belum selesai. Kini ia menghadapi masalah baru: kaki kirinya bengkak. Bentuknya seperti ada air yang tergenang di dalam kaki.

“Apakah terlalu banyak makan garam?” tanya saya.

Garam memang dapat berpengaruh terhadap pembengkakan. Kandungan natrium yang tinggi membuat tubuh menahan lebih banyak cairan. Pada orang yang rentan mengalami edema, kondisi tersebut dapat membuat kaki atau tungkai tampak semakin bengkak.

Karena itu, mengurangi konsumsi garam merupakan langkah yang masuk akal, terutama jika makanan sehari-hari memang tinggi garam.

Tetapi ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: kaki bengkak pada diabetesi tidak selalu disebabkan oleh terlalu banyak makan garam.

Pembengkakan pada kaki juga bisa berkaitan dengan berbagai kondisi lain, termasuk gangguan pembuluh darah, masalah jantung atau ginjal, infeksi, maupun gangguan aliran darah atau pembekuan darah. Terlebih lagi, Pak Kandar baru saja menjalani amputasi.

Karena itu, bila pembengkakan menetap, semakin berat, hanya terjadi pada satu kaki, atau disertai nyeri, kemerahan, terasa panas, sesak napas, atau keluhan lain, sebaiknya diperiksa oleh dokter. Mengurangi garam boleh dilakukan, tetapi jangan sampai pembengkakan hanya dianggap sebagai akibat makanan asin.

Saya kemudian menyarankan Pak Kandar untuk mengurangi konsumsi garam. “Lha, istri saya tiap hari masak gudeg, opor, krecek, sambal goreng,” kata Pak Kandar.

Bu Kandar, yang asli Prambanan, memang merupakan pedagang nasi gudeg khas Jogja. Ia membuka warung kaki lima di Jl. Ampera Raya.

Meski sederhana, warungnya tergolong laris. Saat saya mampir untuk sarapan sekitar pukul 07.30, Bu Kandar sudah bersiap-siap menutup warung.
“Sudah mau habis,” katanya.

Sambil sarapan, kami saling bertukar pengalaman. Pak Kandar pun tertarik dengan pengalaman saya yang telah mengelola diabetes tanpa obat selama lebih dari 800 hari.
“Saya masih minum obat dan masih suntik insulin,” katanya.

Tiba-tiba Bu Kandar nyeletuk. “Apa ada obat khusus agar beliau tidak gampang marah? Beliau ini hobinya marah-marah saja,” kata Bu Kandar.

Saya pun balik bertanya kepada Pak Kandar. “Apakah dengan marah-marah, gula darahnya langsung turun jadi normal? Kalau memang begitu, baguslah, marah-marah saja,” kata saya.

Pak Kandar hanya tertawa mendengar tanggapan saya.

Percakapan pagi itu akhirnya menjadi pelajaran kecil yang cukup panjang: tentang luka, diabetes, amputasi, makanan, garam, dan tentu saja—tentang kehidupan sehari-hari seorang diabetesi.

Dan dari cerita Pak Kandar, saya kembali diingatkan bahwa dalam mengelola diabetes, luka kecil pun jangan pernah dianggap masalah kecil.(jto)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *