STOP GULA

joko intarto

Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi

“APAKAH gula merah lebih aman daripada gula pasir?” Pertanyaan semacam ini masih sering muncul di kalangan penyandang diabetes. Sekilas terdengar masuk akal. Gula merah dianggap lebih alami, sementara gula pasir dianggap lebih berbahaya. Benarkah demikian?

Bacaan Lainnya

Jawabannya: gula merah bukan berarti aman bagi penyandang diabetes.

Memang, jika dibandingkan dari kandungan gizinya, gula merah dapat memiliki perbedaan tertentu dibandingkan gula pasir. Namun, istilah “lebih aman” jangan sampai diterjemahkan menjadi “boleh dikonsumsi lebih banyak”.

Bagaimanapun, gula merah tetaplah gula. Bagi penyandang diabetes, persoalannya bukan semata-mata apakah gula tersebut berasal dari tebu, kelapa, atau sumber lainnya. Yang perlu diperhatikan adalah jumlah gula dan karbohidrat yang masuk ke dalam tubuh serta dampaknya terhadap kadar glukosa darah.

Karena itu, mengganti gula pasir dengan gula merah bukanlah solusi untuk mengendalikan diabetes. Bagaimana dengan Gula Pengganti? Lalu bagaimana dengan pemanis pengganti gula?

Saat ini tersedia berbagai jenis pemanis yang digunakan sebagai pengganti gula, termasuk pemanis yang berasal dari tanaman seperti stevia. Produk-produk tersebut memang dapat menjadi pilihan dalam kondisi tertentu, terutama bagi orang yang ingin mengurangi konsumsi gula.

Namun, menurut saya, ada pilihan yang lebih sederhana: kalau tidak perlu menggunakan pemanis, mengapa harus menggunakannya? Lidah kita memang sudah terbiasa dengan rasa manis. Karena itu, ketika mulai mengurangi gula, makanan atau minuman yang biasanya terasa nikmat bisa mendadak terasa hambar.

Tetapi lidah juga bisa dilatih. Semakin sering kita mengurangi rasa manis, semakin lama selera kita akan beradaptasi. Kopi tanpa gula, misalnya, yang pada awalnya terasa pahit, lama-kelamaan bisa dinikmati justru karena rasa asli kopinya.

Jangan Takut Kekurangan Gula

Ada satu kekhawatiran lain yang sering muncul: kalau tidak makan gula, nanti tubuh kekurangan gula. Kekhawatiran itu sebenarnya tidak perlu.

Tubuh kita tidak harus mendapatkan gula dalam bentuk gula pasir, gula merah, atau minuman manis. Karbohidrat yang kita konsumsi dari makanan akan dipecah melalui proses pencernaan menjadi glukosa dan digunakan sebagai sumber energi.

Bagi penyandang diabetes, justru persoalannya adalah bagaimana tubuh mengelola glukosa tersebut. Jika pengaturan glukosa dalam tubuh sudah menghadapi masalah, mengapa kita harus menambah bebannya dengan mengonsumsi gula tambahan?

Karena itu, bagi saya, prinsipnya sederhana: kalau bisa tanpa gula, mengapa harus memakai gula? Bukan berarti penyandang diabetes harus takut terhadap setiap makanan yang mengandung karbohidrat. Tubuh tetap membutuhkan energi dan zat gizi. Yang perlu dilakukan adalah mengatur jenis, jumlah, dan pola konsumsi makanan secara bijak.

Jadi, jangan terjebak pada pertanyaan: “Gula mana yang paling aman?” Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apakah saya benar-benar membutuhkan tambahan gula?”

Kalau jawabannya tidak, pilihan terbaik justru bukan mencari gula yang “lebih aman”, melainkan berhenti menambahkan gula.

Stop gula bukan berarti stop makan. Stop gula berarti belajar lebih bijak dalam memilih makanan dan minuman apa saja yang harus masuk ke dalam tubuh kita.

Semoga bermanfaat.(jto)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *