RISKS.ID – Allianz Global Investors Asset Management Indonesia (AllianzGI Indonesia) menilai ketangguhan makroekonomi Indonesia makin memperkuat daya tarik emas sebagai instrumen investasi bagi investor domestik.
President Director AllianzGI Indonesia Aliyahdin Saugi mengatakan fundamental ekonomi Indonesia tetap solid memasuki tahun 2026. Pertumbuhan ekonomi masih ditopang konsumsi domestik dan investasi infrastruktur, sementara inflasi bergerak dalam target Bank Indonesia (BI) dan nilai tukar rupiah relatif stabil di tengah volatilitas global.
“Dalam konteks ini, emas menjadi instrumen diversifikasi yang semakin relevan bagi investor Indonesia,” ujar Adi, sapaan Aliyahdin, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (11/12).
Adi menjelaskan kombinasi antara ketidakpastian global dan ketahanan domestik memberi ruang bagi emas untuk berperan sebagai penyeimbang portofolio. Dalam situasi seperti ini, kata dia, emas semakin menarik sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan potensi depresiasi mata uang. Peran emas sebagai aset diversifikasi juga menguat mengingat portofolio investor umumnya didominasi saham dan obligasi.
Menurut dia, kenaikan harga emas global belakangan ini turut mendorong tren serupa di pasar domestik. Permintaan ritel meningkat, platform emas digital berkembang, dan regulasi bullion bank memperkuat ekosistem emas nasional.
“Semua ini membuka peluang bagi investor untuk memanfaatkan emas sebagai aset pelindung di tengah dinamika global,” ujarnya.
Dari sisi global, AllianzGI melihat perubahan struktural pasar sebagai salah satu pendorong utama performa emas. Korelasi emas yang rendah dengan ekuitas dan obligasi pemerintah AS, serta sifatnya sebagai aset riil yang menjaga daya beli, menjadikan logam mulia itu sebagai jangkar efektif dalam portofolio.
Dalam portofolio multi-aset, AllianzGI menganggap masih ada ruang untuk menambah porsi investasi emas. Ke depan, relevansi strategis emas diperkirakan terus meningkat hingga 2026 dan seterusnya. Ketidakseimbangan fiskal negara maju, fragmentasi geopolitik, dan dedolarisasi menjadi faktor jangka panjang yang mendukung penguatan harga emas.
Selain itu, ketika instrumen safe haven tradisional mulai kehilangan sebagian fungsi perlindungannya, karakteristik emas—mulai dari korelasi rendah, likuiditas tinggi, nilai intrinsik, hingga perannya sebagai aset riil—dinilai AllianzGI akan membuatnya semakin penting dalam portofolio terdiversifikasi.






