RISKS.ID – Ketidakseimbangan hormon steroid seperti testosteron, estrogen, dan progesteron dapat memicu berbagai gangguan kesehatan pada perempuan, pria, maupun anak. Kondisi ini dapat menimbulkan jerawat persisten, siklus menstruasi tidak teratur, masalah kesuburan, hingga penyakit serius seperti Congenital Adrenal Hyperplasia (CAH).
“Dalam praktik klinis, kami melihat bahwa hormon tidak pernah bekerja sendirian. Respons tubuh terhadap hormon sangat dipengaruhi jalur metabolik seperti glikolisis, siklus TCA (Tricarboxylic Acid Cycle), hingga one-carbon metabolism,” ujar Prof. Dr. dr. Noroyondo Wibowo, Sp.OG, sebagaimana dikutip dalam siaran pers Prodia, Kamis (12/12).
Menurut dia, perubahan kecil pada metabolit-metabolit tersebut dapat mengubah cara tubuh memproduksi maupun merespons hormon steroid. Pemahaman itu penting untuk mengetahui kondisi wellness seseorang. Siklus TCA sendiri merupakan “mesin energi” tubuh. Ketika jalurnya terganggu, produksi energi sel menurun dan metabolisme hormon ikut terdampak.
Pemeriksaan metabolit TCA disebut dapat membantu dokter menelusuri akar gangguan metabolik atau hormonal dengan lebih akurat.
Di Indonesia, pemeriksaan hormon rutin umumnya masih mengandalkan metode imunologi. Metode itu bekerja baik untuk hormon berkadar tinggi, tetapi kurang sensitif untuk hormon berkadar sangat rendah, seperti androgen pada perempuan dan anak.
Dalam kondisi demikian, teknologi Mass Spectrometry (LC–MS/MS) dinilai lebih efektif karena dapat mengukur molekul berdasarkan massa dan muatan, membaca hormon dalam kadar sangat kecil, dan menghasilkan data berpresisi tinggi.
Pemeriksaan hormon berbasis LC–MS/MS memungkinkan penilaian metabolit androgen dan hormon steroid lain secara lebih komprehensif, termasuk Rasio Testosteron/DHT, Androsterone, dan Steroid Hormone Panel.
“Teknologi mass spectrometry ini bukan hanya mengenai genomik, tetapi juga multiomics lainnya untuk mengetahui kondisi tubuh secara menyeluruh, membantu prediksi dini penyakit, serta merancang strategi pengobatan yang lebih personal sesuai kondisi unik individu,” kata Direktur Utama Prodia Dewi Muliaty.






