Kisah Anak Patah Kaki Korban Banjir di Aceh Tamiang: Pertolongan Itu Datang dari Langit

evakuasi korban banjir aceh tamiang
Tim medis TNI AL membawa anak korban banjir bandang di Aceh Tamiang yang mengalami patah kaki ke KRI dr. Soeharso-990 untuk jalani perawatan medis, Kamis (11/12). Foto: Dispen TNI AL

Air bah itu datang tanpa mengetuk. Dalam hitungan menit, Dusun Kuala Pusung Kapal di Aceh Tamiang berubah menjadi lautan cokelat pekat. Rumah-rumah terendam, suara minta tolong bersahut-sahutan, dan warga berlari sekencang yang mereka bisa, menyelamatkan apa pun yang tertinggal dari amukan banjir bandang.

RISKS.ID – Di salah satu sudut kampung, seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun terbaring di lantai kayu yang basah. Napasnya tersengal pelan, matanya berkaca-kaca menahan perih yang menusuki tulang. Kakinya patah saat arus deras menghantam rumah, menyeret perabotan dan puing bangunan ke segala arah.

Bacaan Lainnya

Ibunya duduk di sampingnya, menggenggam tangan kecil itu seolah itu satu-satunya hal yang masih bisa dia lakukan. Sesekali suara lirih sang ibu terdengar, mengelus rambut anaknya, memintanya bertahan sebentar lagi. Jalan menuju rumah sakit mustahil dilalui. Motor tenggelam, mobil tak bisa melintas, dan perahu kecil warga kewalahan menembus derasnya arus sungai yang meluap.

Waktu berjalan lambat. Rasa panik bercampur dengan ketidakberdayaan. Sampai akhirnya—suara itu terdengar.

Deru baling-baling menghentak udara desa yang sepi.

Ketika Harapan Menjelma Baling-Baling Helikopter

Pada Kamis (11/12) siang, helikopter Panther HS-1302 milik TNI Angkatan Laut mendekat dari arah pantai. Warga yang sedang membersihkan sisa lumpur spontan menghentikan aktivitasnya. Mereka menengadah, beberapa mengangkat tangan, seolah menyapa pertolongan yang lama mereka nantikan.

Di balik kokpit helikopter itu, para personel TNI AL sudah menerima laporan mendesak: seorang anak terjebak dan membutuhkan penanganan medis segera. Jalur darat tak mungkin ditembus. Satu-satunya cara adalah udara.

“Evakuasi dilakukan setelah tim menerima laporan kondisi korban yang membutuhkan penanganan medis segera serta sulit dijangkau melalui jalur darat,” ujar Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksamana Pertama TNI Tunggul.

Helikopter itu diterbangkan dari kapal rumah sakit KRI dr. Soeharso-990 yang sedang lego jangkar di perairan Aceh Tamiang. Kapal tersebut memang disiagakan sebagai pusat penanganan medis untuk korban banjir bandang yang tersebar di wilayah Aceh dan Sumatera.

Ketika helikopter mendarat di lapangan kecil desa, suara mesin memekakkan telinga. Debu dan serpihan dedaunan berputar-putar terbawa angin dari baling-baling. Tim evakuasi bergegas turun membawa tandu, menembus kerumunan warga yang sudah menunggu sejak pagi.

Anak itu digendong perlahan, agar kakinya yang patah tidak bergerak. Matanya memejam kuat menahan nyeri. Ibunya berjalan di samping tandu, berusaha terlihat tegar meski wajahnya pucat dan matanya bengkak karena kelelahan.

Beberapa warga ikut membantu membersihkan jalur, membuka jalan bagi tim penyelamat. Ada yang berseru pelan, “Sabar ya, Nak…”

Ada pula yang menunduk, berdoa lirih.

Saat pintu helikopter tertutup dan baling-baling kembali berputar, seluruh desa berdiri dalam diam. Mereka tahu, di dalam helikopter itu ada satu nyawa kecil yang sedang diperjuangkan.

Perjalanan Singkat yang Menentukan

Di udara, suara mesin mengisi seluruh ruangan. Petugas medis terus mengawasi kondisi penting anak tersebut. Penyangga dipasang untuk memastikan kaki yang patah tidak bergeser selama penerbangan.

Melalui jendela, desa yang terendam tampak mengecil. Garis sungai yang meluap terlihat seperti pita cokelat yang memanjang tak berujung. Rumah-rumah warga tampak seperti titik kecil, sebagian terendam hingga atap.

Bagi anak itu, mungkin semuanya terasa seperti mimpi buruk yang belum selesai. Namun, di dalam helikopter yang berguncang lembut itu, untuk pertama kalinya sejak banjir datang, ada secercah kepastian: dia sedang menuju tempat yang aman.

KRI dr. Soeharso, Rumah Sakit Terapung yang Melegenda

Setibanya di KRI dr. Soeharso-990, tim medis langsung mengambil alih. Anak itu dibawa menuju ruang perawatan dengan peralatan medis lengkap. Dokter ortopedi yang sudah bersiaga segera melakukan pemeriksaan detail.

“Pemeriksaan awal menunjukkan adanya patah tulang pada bagian kaki dan korban kini menjalani perawatan intensif oleh dokter ortopedi serta tenaga kesehatan di kapal tersebut,” jelas Tunggul.

Di dalam kapal, suasana tidak pernah benar-benar berhenti. Dokter dan perawat berkeliling dari satu ranjang ke ranjang lain, menangani korban banjir yang datang dari berbagai titik. Namun untuk anak ini, perhatian penuh diberikan. Dia ditenangkan, diberi obat penghilang rasa sakit, dan kakinya dipasang imobilisasi.

Tidak lama kemudian, kabar yang dinanti pihak keluarga pun datang. Kondisinya stabil. Namun dia tetap harus menjalani observasi ketat.

“Kondisi korban dilaporkan stabil dan terus mendapat pemantauan dari tim medis KRI dr. Soeharso-990,” tambah Tunggul.

Ibunya yang akhirnya tiba di kapal dengan perahu nelayan kecil langsung memeluk anaknya. Tangis yang ia tahan sejak pagi akhirnya pecah di pangkuan para perawat yang menenangkannya.

Evakuasi ini adalah satu cerita dari ratusan wajah duka di Aceh Tamiang. Banjir bandang tidak hanya merusak rumah, tetapi juga memutus akses, memisahkan keluarga, dan menghancurkan rasa aman. Di tengah situasi itu, keberadaan TNI AL menjadi penyambung harapan.

“Tindakan ini menjadi bukti kuatnya dukungan TNI AL dalam proses pemulihan pascabencana banjir bandang di Aceh dan Sumatera,” tegas Tunggul.

Dia menambahkan seluruh personel serta alutsista yang dikerahkan tidak akan mengendurkan semangat memberikan pelayanan terbaik bagi korban banjir.

Bagi warga dusun, terutama bagi satu anak yang kini terbaring di ruang perawatan KRI dr. Soeharso, aksi penyelamatan ini bukan sekadar misi rutin militer.
Ini adalah garis tipis antara kehilangan dan kesempatan untuk bertahan hidup.

Di desa yang kembali sunyi setelah helikopter terbang pergi, warga masih menatap ke langit dari waktu ke waktu. Sebab kini mereka tahu: di balik awan kelabu pascabencana, harapan bisa datang kapan saja—bahkan dari arah laut.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *