Prabowo di Tanah Bencana: Maaf, Saya Tidak Punya Tongkat Nabi Musa

prabowo subianto
Presiden Prabowo Subianto memeluk warga saat meninjau langsung lokasi terdampak bencana di Bener Meriah, Aceh, Jumat (12/12). Foto: Tim Media Prabowo

RISKS.ID – Hujan masih turun rintik ketika rombongan Presiden RI Prabowo Subianto memasuki wilayah Bener Meriah, Aceh. Aroma tanah basah bercampur lumpur yang terbawa banjir bandang masih terasa pekat di udara.

Di kiri kanan jalan, rumah-rumah warga tampak porak-poranda; beberapa tinggal menyisakan rangka, sementara yang lain rata dengan tanah. Anak-anak duduk di terpal biru, sebagian memeluk selimut bantuan, sebagian lagi menatap langit seakan mencari jawaban kapan semua ini berakhir.

Bacaan Lainnya

Dalam suasana seperti inilah Prabowo berdiri di hadapan para pengungsi, bukan sebagai sosok yang serba bisa, tetapi sebagai pemimpin yang mengakui keterbatasannya.

“Saya minta maaf karena Presiden RI tidak punya tongkat Nabi Musa,” katanya, suaranya parau tersapu dingin pegunungan. “Tapi kita akan bekerja keras untuk bantu saudara-saudara sekalian,” sambung dia.

Kalimat itu disambut tatapan campuran: sebagian mengangguk pelan, sebagian menunduk sambil mengusap pipi mereka yang masih basah. Ada rasa lelah, tetapi juga secercah harapan yang seakan baru menyala.

Menyapa Pengungsi Satu per Satu

Di Posko Pengungsian Jembatan Aceh Tamiang, Prabowo menyapa para penyintas tanpa banyak protokol. Dia duduk lesehan bersama warga di lantai SMP 2 Wih Pesam, tempat ratusan orang berlindung sejak banjir melanda akhir November.

Seorang ibu muda bercerita soal anaknya yang masih trauma setiap mendengar suara air deras. Seorang lelaki tua memperlihatkan foto rumahnya yang hanyut tersapu arus. Prabowo mendengarkan semuanya tanpa tergesa, sesekali menepuk bahu atau menggenggam tangan warga yang bersuara lirih.

Bagi sebagian orang, kedatangan seorang presiden mungkin sekadar agenda kerja. Namun bagi warga setempat, kehadiran Prabowo menjadi ruang kecil untuk mencurahkan rasa kehilangan yang tak terkatakan.

Di hadapan warga, Prabowo mengungkapkan skala penanganan yang sudah dikerjakan pemerintah. Puluhan helikopter dan pesawat telah disiagakan untuk menjangkau wilayah yang terisolasi. Jalur darat masih banyak yang putus, sehingga udara menjadi satu-satunya akses untuk menyalurkan bantuan, evakuasi medis, hingga pendataan korban.

“Kita sudah kerahkan puluhan helikopter, puluhan pesawat. Kita sudah siapkan juga rencana untuk mengganti semua rumah,” ujarnya tegas.

Janji itu bukan sekadar administrasi pembangunan. Bagi warga yang kehilangan atap, tempat makan, dan segala identitas yang pernah mereka miliki, rumah baru berarti kesempatan memulai kembali hidup dari nol—dengan martabat yang tetap utuh.

Pesan yang Berat Namun Perlu

Meski banyak langkah cepat telah ditempuh, Prabowo tak menutupi bahwa pemulihan akan memakan waktu. Proses pendataan, pembangunan, hingga pemulihan infrastruktur tidak bisa diselesaikan dalam hitungan hari.

“Tentunya kita butuh kesabaran. Tidak bisa kita seketika selesaikan semua itu,” katanya kepada warga yang mengangguk pelan.

Kesabaran—bagi mereka yang tinggal di tenda pengungsian—bukanlah penghiburan ringan. Itu berarti malam-malam yang masih dingin, antrean logistik yang kadang telat datang, serta trauma yang tak hilang hanya dengan janji.

Kedatangan Prabowo kali ini merupakan kunjungan ketiganya sejak bencana menghantam Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di sela-sela kesibukannya, termasuk lawatan ke Pakistan dan Rusia, dia kembali terbang ke Aceh untuk memastikan penanganan tak melambat.

Langkah itu menunjukkan satu hal: bahwa krisis domestik tetap menjadi pusat perhatian, meski agenda luar negeri harus dijalankan bersamaan.

Di tengah puing bencana Aceh, suara presiden yang berkata bahwa dia bukan Nabi Musa mungkin terasa getir, tetapi kejujuran itu pula yang membuat warga tahu bahwa pemulihan membutuhkan lebih dari sekadar harapan. Dia membutuhkan kerja panjang dan gotong royong yang tak terputus.

Dan di antara air mata, lumpur, dan tenda-tenda darurat yang berjajar, warga Aceh menunggu satu hal: bahwa janji pemulihan yang diucapkan hari ini benar-benar diwujudkan hingga mereka bisa pulang ke rumah, atau rumah yang baru, dengan kehidupan yang kembali berjalan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *