Perbanas Proyeksikan Pertumbuhan Kredit 2026 Masih Single Digit

BANK
Ilustrasi bank. Foto: iStock

RISKS.ID – Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan pada 2026 masih berada di kisaran single digit. Sikap konservatif industri perbankan tersebut dipengaruhi oleh belum kuatnya permintaan dari sektor riil serta masih tingginya ketidakpastian ekonomi global.

Ketua Bidang Riset dan Kajian Ekonomi Perbankan Perbanas Aviliani mengatakan, meski likuiditas perbankan relatif memadai, dorongan permintaan kredit dari dunia usaha belum menunjukkan penguatan yang signifikan. Kondisi ini membuat bank cenderung berhati-hati dalam menyalurkan pembiayaan.

Bacaan Lainnya

“Rata-rata bank masih konservatif untuk tetap single digit. Mereka masih mengatakan tumbuh sekitar 8–9 persen, karena mereka masih belum melihat pemicu permintaan kredit yang cukup tinggi,” ujar Aviliani saat dihubungi di Jakarta, Selasa.

Menurutnya, optimisme pertumbuhan kredit baru akan terbentuk apabila belanja dan aktivitas investasi badan usaha milik negara (BUMN) kembali meningkat. Skala belanja dan investasi BUMN yang besar dinilai kerap menjadi pemicu awal tumbuhnya permintaan kredit di sektor perbankan.

Namun demikian, realisasi kredit dari BUMN saat ini masih terbatas pada entitas tertentu, terutama yang proyeknya telah memasuki tahap implementasi. Aviliani berharap mekanisme pengambilan keputusan investasi BUMN dapat disederhanakan agar pergerakan sektor riil bisa berlangsung lebih cepat.

Dari sisi swasta, Aviliani menilai minat terhadap kredit masih ada, meski belum merata. Permintaan kredit umumnya datang dari pelaku usaha yang telah memiliki kepastian permintaan atau bergerak di sektor dengan prospek jangka panjang. Sementara itu, pelaku usaha lainnya masih bersikap wait and see di tengah dinamika dan ketidakpastian global.

Adapun segmen usaha kecil dan menengah (UKM) dinilai belum menjadi pendorong utama pertumbuhan kredit. Aviliani mengingatkan, UKM masih menghadapi tantangan keterbatasan permintaan dan inovasi.

Ia menekankan perlunya perbaikan model bisnis agar UKM dapat terintegrasi ke dalam rantai pasok perusahaan menengah dan besar. Dengan demikian, UKM diharapkan mampu tumbuh berkelanjutan serta meningkatkan kontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), kredit perbankan pada November 2025 tumbuh 7,74 persen secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh kredit investasi yang mencatatkan pertumbuhan dua digit, sementara kredit modal kerja masih berada dalam tren rendah.

Aviliani menilai pertumbuhan kredit investasi saat ini memang relatif baik. Namun, aliran pembiayaan tersebut lebih banyak mengarah ke sektor padat modal yang relatif minim menyerap tenaga kerja dan cenderung melakukan efisiensi.

“Oleh karena itu, perlu ada insentif yang mendorong penciptaan lapangan kerja agar kualitas investasi bisa ditingkatkan,” ujarnya.

Sementara pada kredit modal kerja, Aviliani menjelaskan bahwa di tengah periode suku bunga tinggi, banyak pelaku usaha memilih memanfaatkan dana internal untuk menopang operasional. Selain itu, pelaku usaha juga melakukan berbagai langkah efisiensi untuk menekan biaya.

Ke depan, seiring dengan tren penurunan suku bunga, Aviliani berharap pelaku usaha kembali memanfaatkan pembiayaan perbankan untuk kebutuhan modal kerja sehingga dapat mendorong aktivitas ekonomi yang lebih luas.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *