RISKS.ID – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengecam keras serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran. Dia menilai peluang diplomasi dari perundingan nuklir yang sedang berjalan justru rusak dan “disia-siakan”.
Pernyataan itu disampaikan Guterres dalam pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB di Markas PBB, New York, Sabtu waktu setempat. Serangan terjadi tak lama setelah putaran ketiga perundingan tak langsung antara Amerika Serikat dan Iran yang dimediasi Oman.
“Saya sangat menyesalkan peluang diplomasi ini telah disia-siakan,” kata Guterres dalam pernyataan resminya.
Padahal, menurutnya, pembicaraan teknis sudah dijadwalkan berlangsung di Wina, Austria, pekan depan. Pertemuan itu sedianya menjadi jembatan menuju babak lanjutan negosiasi politik antara Washington dan Teheran.
Guterres pun mendesak penghentian permusuhan secepatnya. Dia mengingatkan, jika konflik dibiarkan melebar, dampaknya akan sangat serius bagi warga sipil dan stabilitas kawasan Timur Tengah.
“Saya menyerukan deeskalasi dan penghentian permusuhan segera. Jika tidak, yang terjadi adalah konflik yang lebih luas dengan konsekuensi serius bagi warga sipil dan stabilitas kawasan,” tegasnya.
Sekjen PBB juga meminta seluruh negara anggota mematuhi hukum internasional dan Piagam PBB, melindungi warga sipil sesuai hukum humaniter internasional, serta menjamin keamanan fasilitas nuklir.
Sebagaimana diketahui, Sabtu pagi (28/2) waktu setempat, AS dan Israel melancarkan serangkaian serangan ke Iran, termasuk Teheran. Serangan itu menyebabkan kerusakan infrastruktur dan korban sipil. Iran kemudian membalas dengan rudal ke wilayah Israel serta fasilitas militer AS di kawasan.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dikonfirmasi gugur akibat serangan rudal tersebut. Pemerintah Iran pun menetapkan masa berkabung 40 hari dan libur nasional selama sepekan.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump dalam wawancara bersama CBS News bahkan berseloroh bahwa perundingan dengan Iran “akan semakin mudah dibanding hari sebelumnya” setelah tewasnya Khamenei.
Pernyataan itu makin menambah panas situasi yang sudah berada di ujung tanduk. Dunia kini menanti, apakah diplomasi masih punya ruang, atau justru konflik kian melebar.






