Surplus Dagang RI Berlanjut, Inflasi Terkendali

Foto ilustrasi by Chaterine G Peter/RISKS.ID

RISKS.ID – Indonesia membuka awal tahun 2026 dengan kinerja perdagangan yang tetap solid di tengah tekanan global. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan masih mencetak surplus secara kumulatif sepanjang Januari hingga Februari 2026 sebesar US$2,23 miliar.

Capaian tersebut memperpanjang tren positif surplus perdagangan Indonesia yang telah berlangsung selama 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Kondisi ini menunjukkan daya tahan sektor eksternal Indonesia di tengah dinamika ekonomi dunia yang belum stabil.

Bacaan Lainnya

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan surplus tersebut masih ditopang oleh kinerja ekspor nonmigas. “Surplus sepanjang periode Januari-Februari 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas sebesar US$5,42 miliar, sementara migas masih defisit US$3,19 miliar,” ujarnya.

Dari sisi ekspor, nilai kumulatif pada dua bulan pertama tahun ini mengalami kenaikan 2,19 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sektor industri pengolahan menjadi motor utama dengan pertumbuhan 6,69 persen dan nilai ekspor mencapai US$37,06 miliar.

Pasar ekspor Indonesia masih terkonsentrasi pada tiga negara utama, yakni Tiongkok, Amerika Serikat, dan India. Ketiganya berkontribusi hampir 44 persen terhadap total ekspor nonmigas nasional, dengan Tiongkok menjadi tujuan terbesar.

Di sisi lain, impor Indonesia mengalami peningkatan cukup tinggi. Nilai impor kumulatif mencapai US$42,09 miliar atau tumbuh 14,44 persen secara tahunan, didorong oleh kenaikan impor barang modal serta bahan baku yang mengindikasikan aktivitas produksi dalam negeri masih ekspansif.

Tak hanya perdagangan, BPS juga mencatat inflasi Maret 2026 tetap terkendali di level 0,41 persen secara bulanan. Kenaikan harga terutama dipicu oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi.

“Atas dasar komponen, inflasi utamanya didorong oleh komponen bergejolak seperti daging ayam ras, beras, dan cabai rawit,” jelas Ateng. Meski demikian, beberapa komoditas seperti tarif angkutan udara justru menahan laju inflasi.

Secara tahunan, inflasi tercatat sebesar 3,48 persen, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang dipengaruhi oleh efek basis rendah akibat kebijakan diskon tarif listrik pada 2025. Kondisi ini membuat perbandingan harga terlihat meningkat meskipun secara fundamental masih stabil.

Sementara itu, Nilai Tukar Petani (NTP) pada Maret 2026 mengalami sedikit penurunan menjadi 125,35. Penurunan ini terjadi karena kenaikan harga yang dibayar petani lebih tinggi dibandingkan harga yang diterima.

Di sektor pertanian, produksi padi pada Februari 2026 menunjukkan lonjakan signifikan secara tahunan. Namun, BPS memperkirakan produksi pada periode Maret hingga Mei justru berpotensi menurun, seiring berkurangnya luas panen dibandingkan tahun sebelumnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *