EIGER Adventure Land Gaungkan Peduli Sampah Hulu

EIGER Adventure Land bersama relawan bergerak mengurangi timbulan sampah di kawasan Megamendung. Foto dok Eiger/RISKS.ID

RISKS.ID – Permasalahan sampah di kawasan hulu kembali menjadi sorotan, khususnya di wilayah Puncak, Kabupaten Bogor. Praktik pembuangan sampah yang tidak terkendali dinilai memperparah tekanan terhadap ekosistem sekaligus meningkatkan risiko bencana lingkungan.

Data Kementerian Lingkungan Hidup mencatat, timbulan sampah nasional pada 2023 mencapai sekitar 56 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, hanya sebagian yang tertangani secara optimal, sementara sisanya masih berakhir di tempat pembuangan terbuka atau mencemari lingkungan.

Bacaan Lainnya

Kondisi ini turut tercermin di tingkat daerah. Kabupaten Bogor sebagai salah satu wilayah penyangga ibu kota menghadapi lonjakan volume sampah harian yang signifikan, memicu munculnya titik-titik pembuangan liar, terutama di kawasan hulu seperti Puncak.

Situasi tersebut mendorong berbagai pihak untuk turun tangan. Salah satunya melalui aksi bersih lingkungan yang melibatkan puluhan relawan di kawasan Megamendung, tepatnya di Desa Sukagalih yang berada di zona pemanfaatan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 70 relawan berhasil mengumpulkan sekitar 6 ton sampah pada tahap awal. Volume ini diperkirakan baru sebagian kecil dari total timbulan sampah di lokasi yang mencapai puluhan ton.

Aksi bersih sampah di kawasan hulu jadi bukti nyata komitmen menjaga lingkungan. Foto dok Eiger/RISKS.ID

Proses pembersihan pun direncanakan berlangsung secara bertahap. Hal ini mengingat kondisi medan serta besarnya volume sampah yang telah menumpuk dalam kurun waktu lama.

Direktur Utama EIGER Adventure Land, Imanuel Wirajaya, menilai persoalan sampah tidak semata-mata terkait jumlah, melainkan juga perilaku masyarakat. “Masalah utama bukan hanya volume sampah, tetapi kebiasaan membuang sampah sembarangan yang masih terjadi,” ujarnya.

Ia menambahkan, perubahan perilaku menjadi kunci utama dalam menyelesaikan persoalan ini. “Kesadaran untuk memilah dan mengelola sampah dari sumber harus terus didorong agar dampaknya bisa dirasakan secara nyata,” katanya.

Pandangan serupa disampaikan Guru Besar IPB University, Arief Sabdo Yuwono. Ia menekankan perlunya pendekatan yang lebih menyeluruh dan berkelanjutan dalam sistem pengelolaan sampah. “Pendekatan lama seperti open dumping sudah tidak relevan. Kita butuh sistem yang terintegrasi dari hulu ke hilir,” jelasnya.

Ke depan, berbagai inisiatif kolaboratif diharapkan terus berkembang, tidak hanya dalam bentuk aksi bersih lingkungan, tetapi juga edukasi dan pembangunan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Upaya ini menjadi langkah penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem kawasan hulu sekaligus mengurangi risiko bencana di wilayah sekitarnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *