Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi
DULU, orang tua paling khawatir kalau anaknya susah makan. Sekarang, tantangannya berubah: anak-anak justru terlalu banyak mengonsumsi gula.
Lihat saja isi minimarket hari ini. Rak-rak penuh dengan minuman warna-warni, teh manis dalam kemasan, susu dengan tambahan gula tinggi, biskuit manis, sereal cokelat, permen, jelly, hingga minuman kekinian yang rasanya seperti “sirup dicampur gula lalu ditambah gula lagi.”
Masalahnya, semua itu dipasarkan dengan wajah ceria, gambar kartun lucu, bonus mainan, dan slogan seolah-olah sehat untuk tumbuh kembang anak. Padahal, di balik rasa manis itu, tersembunyi ancaman kesehatan jangka panjang yang tidak sederhana.
Anak-anak Indonesia sebenarnya sedang berada dalam kondisi yang bisa disebut: manis darurat.
Belum lama ini, publik dikejutkan oleh kisah seorang anak berusia 15 tahun yang sudah harus menjalani haemodialisis atau cuci darah rutin karena ginjalnya rusak parah.
Usianya bahkan belum cukup untuk memiliki SIM. Tetapi hidupnya sudah bergantung pada mesin cuci darah.
Menurut penjelasan dokter, kerusakan ginjal itu dipicu oleh diabetes yang tidak terkendali. Dan diabetes tersebut berkaitan erat dengan kebiasaannya mengonsumsi minuman manis berlebihan hampir setiap hari selama bertahun-tahun.
Bayangkan.
Di usia ketika anak-anak lain masih sibuk bermain game, nongkrong sepulang sekolah, atau bercita-cita menjadi YouTuber dan atlet sepak bola, seorang remaja justru harus bolak-balik rumah sakit untuk mempertahankan fungsi tubuhnya.
Kasus seperti ini mungkin terdengar ekstrem. Tetapi justru di situlah alarm bahayanya.
Tubuh anak memang membutuhkan energi. Tetapi kebutuhan itu bukan berarti anak boleh dibanjiri gula setiap hari.
Organisasi Kesehatan Dunia World Health Organization bahkan merekomendasikan agar konsumsi gula tambahan dibatasi seminimal mungkin pada anak-anak. Sebab, paparan gula berlebihan sejak kecil dapat membentuk kebiasaan makan yang buruk hingga dewasa.
Masalahnya bukan hanya soal gigi berlubang. Paparan gula berlebihan pada anak dapat meningkatkan risiko:
• obesitas,
• diabetes tipe 2,
• tekanan darah tinggi,
• gangguan hati berlemak,
• kerusakan ginjal,
• gangguan metabolisme,
• hingga penyakit jantung di masa depan.
Yang lebih mengkhawatirkan, diabetes tipe 2 yang dulu identik dengan orang tua, kini mulai banyak ditemukan pada usia muda, bahkan remaja.
Anak-anak zaman sekarang hidup dalam lingkungan yang sangat “ramah gula.” Minuman manis tersedia di mana-mana. Murah. Praktis. Dinginnya menggoda. Rasanya bikin ketagihan.
Satu botol minuman manis kadang mengandung gula setara 6 sampai 10 sendok teh. Celakanya, minuman itu dikonsumsi bukan seminggu sekali, melainkan setiap hari.
Tubuh anak akhirnya terbiasa dengan rasa manis berlebihan. Air putih terasa hambar. Buah terasa kurang manis. Sayur dianggap musuh. Di sinilah masalah besar itu dimulai.
Ironisnya, sebagian orang tua belum menganggap ini sebagai ancaman serius. Selama anak terlihat aktif, masih bermain, dan belum sakit, konsumsi minuman manis dianggap aman-aman saja.
Padahal efek gula tidak selalu muncul hari ini. Kadang “tagihannya” baru datang 10 atau 20 tahun kemudian.
Persis seperti menabung penyakit sedikit demi sedikit.
Kasus remaja 15 tahun yang harus cuci darah itu seharusnya menjadi alarm keras bahwa penyakit metabolik kini tidak lagi menunggu usia tua.
Pemerintah sebenarnya pernah mewacanakan kebijakan cukai minuman berpemanis dalam kemasan. Tujuannya jelas: mengendalikan konsumsi gula berlebihan sekaligus melindungi kesehatan masyarakat, terutama anak-anak. Banyak negara sudah lebih dulu menerapkannya.
Beberapa penelitian menunjukkan konsumsi minuman manis menurun setelah harga produk naik akibat cukai.
Namun di Indonesia, wacana itu seperti berjalan di tempat. Dibahas berkali-kali, lalu menghilang, muncul lagi, lalu tenggelam lagi.
Sampai hari ini, masyarakat masih lebih mudah menemukan minuman tinggi gula dibanding menemukan edukasi soal bahaya gula itu sendiri.
Padahal biaya kesehatan akibat diabetes dan penyakit metabolik jauh lebih mahal dibanding keuntungan sesaat dari penjualan minuman manis.
Tentu gula bukan musuh mutlak. Yang berbahaya adalah konsumsi berlebihan tanpa kontrol.
Anak tetap boleh menikmati makanan manis. Tetapi orang tua perlu mulai lebih kritis membaca label kemasan, membatasi minuman tinggi gula, dan membiasakan anak minum air putih sejak dini.
Karena kalau tidak dimulai sekarang, kita mungkin sedang membesarkan generasi yang sejak kecil sudah akrab dengan rasa manis… tetapi diam-diam sedang melangkah menuju masa depannya yang pahit.(jto)






