Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Diabetes Melitus sering dijuluki sebagai the mother of disease — induk dari berbagai penyakit. Julukan itu bukan tanpa alasan. Ketika kadar gula darah tidak terkendali dalam waktu lama, kerusakan bisa menjalar ke berbagai organ tubuh: mata, ginjal, saraf, pembuluh darah hingga jantung.
Karena itu banyak penderita diabetes yang pada akhirnya juga mengalami komplikasi penyakit jantung. Salah satu kisah datang dari seorang anggota grup diskusi WhatsApp yang menceritakan pengalaman pribadinya menghadapi serangan jantung setelah beberapa tahun hidup dengan gula darah tinggi.
Perjalanan masalah kesehatannya dimulai sekitar tahun 2000. Saat itu ia didiagnosis memiliki kadar gula darah mencapai 248. Namun pengalaman yang paling membekas terjadi tiga tahun kemudian, tepatnya pada bulan puasa tahun 2003.
Hari itu ia pulang kerja dari Gresik menuju rumahnya di Lawang. Jalur Gresik–Sidoarjo macet total. Karena masih terjebak di jalan saat waktu berbuka, ia hanya sempat membatalkan puasa dengan minuman seadanya tanpa makan cukup.
Ia baru tiba di rumah sekitar pukul 10 malam dalam kondisi sangat lelah. Setelah mandi dan mencoba beristirahat sambil menonton televisi, tubuhnya mulai terasa aneh. Gelisah tanpa sebab. Duduk tidak nyaman. Tidur pun tidak bisa.
Tak lama kemudian muncul rasa nyeri di dada sebelah kiri. Awalnya seperti ditekan, lalu berubah menjadi rasa sakit yang tajam dan menyiksa selama beberapa menit. “Jangan-jangan ini serangan jantung?”
Pikiran itu langsung muncul di kepalanya. Dalam kondisi pasrah, ia hanya bisa rebahan sambil beristigfar. Perlahan-lahan rasa sakit itu akhirnya mereda. Tetapi tubuhnya sangat lemah. Untuk berjalan ke kamar mandi saja ia harus melangkah pelan karena dada masih terasa nyeri.
Keesokan paginya ia memeriksakan diri ke dokter spesialis jantung. Hasil EKG dinyatakan normal. Namun karena merasa ada yang tidak beres, ia melanjutkan pemeriksaan ke rumah sakit.
Dari pemeriksaan USG jantung ditemukan adanya penebalan pembuluh darah meski masih dianggap dalam batas normal.
Pengalaman itu menjadi pengingat bahwa tubuh sering memberi tanda sebelum terjadi kerusakan yang lebih serius.
Hubungan Diabetes dengan Serangan Jantung
Hubungan Diabetes Melitus dengan Infark Miokard sebenarnya sangat erat. Kadar gula darah yang tinggi dalam waktu lama dapat merusak lapisan dalam pembuluh darah. Kerusakan kecil yang terjadi terus-menerus memicu penumpukan lemak, kolesterol dan peradangan.
Akibatnya pembuluh darah menebal, menyempit dan aliran darah terganggu.
Jika penyumbatan terjadi pada pembuluh darah jantung, terjadilah serangan jantung.
Karena itu diabetes sering dianggap sebagai penyakit pembuluh darah, bukan sekadar penyakit gula.
Yang berbahaya, proses ini berlangsung diam-diam selama bertahun-tahun. Banyak penderita diabetes merasa sehat karena masih bisa bekerja, masih kuat berjalan dan tidak mengalami keluhan berat. Padahal kerusakan pembuluh darah bisa saja sedang berlangsung perlahan di dalam tubuh.
Mengapa Penderita Diabetes Rentan Terkena Penyakit Jantung? Penderita diabetes biasanya juga memiliki faktor risiko lain yang saling berkaitan, seperti obesitas, hipertensi, kolesterol tinggi, kurang olahraga, stres, dan gangguan tidur.
Kombinasi inilah yang sering disebut sindrom metabolik. Ibarat api, diabetes bukan satu-satunya sumber panas. Tetapi ketika semua faktor berkumpul, risiko penyakit jantung meningkat jauh lebih besar. Bahkan pada sebagian penderita diabetes, serangan jantung bisa datang tanpa gejala khas.
Umumnya penderita hanya merasa cepat lelah, mual, sesak ringan, berkeringat dingin, atau nyeri di bagian ulu hati. Karena itu banyak kasus serangan jantung pada diabetesi yang terlambat diketahui.
Apa yang Harus Dilakukan untuk Mencegahnya?
Kabar baiknya, risiko komplikasi jantung pada penderita diabetes sebenarnya bisa ditekan. Langkah paling penting adalah menjaga gula darah tetap terkendali. Selain itu menjaga berat badan, mengurangi gula berlebih, rutin bergerak, tidur cukup,






