IHSG Dibuka Ambles 1,40 Persen, Sentimen Konflik AS-Iran Bikin Pasar Ketar-ketir

IHSG

RISKS.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka melemah pada perdagangan Senin, 18 Mei 2026. Tekanan terhadap pasar saham dipicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap era suku bunga tinggi di tengah memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang mendorong kenaikan harga minyak mentah.

IHSG pada pembukaan perdagangan turun 94,34 poin atau 1,40 persen ke level 6.628,98. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 ikut terkoreksi 9,37 poin atau 1,42 persen ke posisi 648,51.

Bacaan Lainnya

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, mengatakan IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan apabila menembus level psikologis tertentu.

“Diperkirakan jika IHSG breakdown level 6.700, berpotensi menguji level 6.500-6.550 pada pekan ini,” ujar Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Senin, 18 Mei 2026.

Dari sentimen global, konflik antara AS dan Iran diperkirakan masih membayangi pergerakan bursa saham dunia sepanjang pekan ini. Naik turunnya eskalasi ketegangan kedua negara turut memicu kekhawatiran terhadap inflasi global.

Kenaikan harga minyak mentah juga mendorong yield US Treasury naik. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun bahkan mencapai 5,1 persen di tengah kekhawatiran pasar terhadap inflasi dan potensi kenaikan suku bunga global.

Pelaku pasar saat ini menantikan rilis FOMC Minutes dari bank sentral AS, Federal Reserve, guna mencari petunjuk arah kebijakan suku bunga setelah data inflasi AS tercatat lebih tinggi dari perkiraan.

Di sisi lain, pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping dilaporkan berakhir tanpa kesepakatan besar. Kondisi tersebut memicu kekecewaan pelaku pasar.

Dari China, investor juga menunggu sejumlah data ekonomi penting seperti industrial production dan retail sales. Sementara Bank Sentral China atau People’s Bank of China diperkirakan mempertahankan suku bunga pinjaman utama tenor satu tahun dan lima tahun masing-masing di level 3 persen dan 3,5 persen.

Dari dalam negeri, pasar turut mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang diperkirakan mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen pada Rabu, 20 Mei 2026.

Selain itu, investor juga menunggu rilis data pertumbuhan kredit, transaksi berjalan kuartal I-2026, hingga M2 Money Supply sepanjang pekan ini.

Sementara itu, FTSE Russell menyatakan masih menunda pemeringkatan ulang indeks pasar modal Indonesia secara penuh, termasuk kenaikan free float dan penambahan saham baru hasil initial public offering (IPO), hingga evaluasi September 2026.

Pada perdagangan Jumat, 15 Mei 2026 lalu, bursa saham Eropa kompak ditutup di zona merah. Indeks Euro Stoxx 50 turun 1,81 persen, FTSE 100 Inggris melemah 1,71 persen, DAX Jerman terkoreksi 2,07 persen, dan CAC 40 Prancis turun 1,60 persen.

Tekanan juga terjadi di bursa AS Dow Jones Industrial Average yang melemah 1,07 persen ke level 49.526,17. Indeks S&P 500 turun 1,24 persen ke 7.408,50, sedangkan Nasdaq Composite terkoreksi 1,54 persen ke posisi 29.125,20.

Pelemahan juga terjadi di mayoritas bursa Asia pada perdagangan pagi ini. Indeks Nikkei 225 turun 591,79 poin atau 0,96 persen ke 60.817,50. Indeks Shanghai melemah 0,21 persen ke 4.126,51, Hang Seng turun 1,45 persen ke 25.587,50, serta Strait Times terkoreksi 0,33 persen ke level 4.972,5.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *