Selat Hormuz Ditutup, Kini Qatar di Ambang Krisis

qatar
Aktifitas di sebuah pasar di Qatar. Foto: NYT

RISKS.ID – Qatar, negara kecil di Semenanjung Arab yang menjorok ke Teluk Persia, kini menghadapi tekanan ekonomi serius setelah penutupan Selat Hormuz membuat ekspor gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) praktis lumpuh selama lebih dari dua bulan terakhir.

Selama puluhan tahun, kekayaan Qatar bertumpu pada gas alam. Negara itu sukses bertransformasi dari wilayah penghasil mutiara tradisional menjadi salah satu negara terkaya di dunia berkat ekspor LNG ke Asia dan Eropa melalui Selat Hormuz.

Bacaan Lainnya

Lebih dari 60 persen pendapatan negara berasal dari sektor gas dan turunannya. Dana jumbo dari ekspor energi tersebut digunakan untuk membangun Doha menjadi kota metropolitan modern dengan deretan gedung pencakar langit, jalan raya megah, hingga kawasan hijau di tengah gurun.

Qatar juga membangun sistem metro modern yang menghubungkan ibu kota Doha dengan Kota Lusail di bagian utara. Kawasan tersebut dikenal memiliki pusat perbelanjaan bergaya Paris hingga taman hiburan dengan salju buatan.

Kekayaan gas pula yang mendanai penyelenggaraan Piala Dunia termahal dalam sejarah serta sovereign wealth fund senilai USD 600 miliar yang memiliki investasi di berbagai aset global, mulai dari Bandara Heathrow di London hingga Empire State Building di New York.

Namun, situasi berubah drastis setelah jalur pelayaran strategis Selat Hormuz ditutup. Akibatnya, hampir tidak ada pengiriman gas yang keluar dari Qatar selama lebih dari dua bulan terakhir.

Penutupan jalur laut tersebut juga menghambat impor berbagai kebutuhan penting ke Qatar, mulai dari kendaraan hingga bahan pangan. Kondisi itu diperparah dengan meningkatnya kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan yang berdampak langsung terhadap sektor pariwisata dan kepercayaan pelaku bisnis.

Ras Laffan, pusat industri gas terbesar Qatar yang berada di utara Doha, kini dilaporkan berhenti beroperasi. Jalan-jalan menuju kawasan industri ditutup, sementara crane pemuat di pelabuhan besar tampak tidak lagi bergerak.

Suasana lesu juga mulai terasa di pusat Kota Doha. Sejumlah hotel dan butik dilaporkan sepi pengunjung. Pertumbuhan ekonomi Qatar pun dipangkas tajam seiring terhentinya perdagangan LNG.

Dikutip dari New York Times, Managing Director Asia Group, Ahmed Helal mengatakan, pengiriman gas merupakan fondasi utama perekonomian Qatar.

“Pengiriman gas adalah fondasi utama negara ini. Tidak ada yang bisa dibangun tanpa kekayaan energi,” ujar Ahmed Helal dalam wawancara di Doha baru-baru ini.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat Qatar berada dalam situasi fiskal yang sangat menantang.

Transformasi ekonomi Qatar sendiri dimulai sejak dekade 1990-an ketika negara itu mengambil langkah besar mengembangkan gas dari North Field, cadangan gas alam terbesar di dunia yang berada di wilayah timur laut Qatar.

Gas tersebut didinginkan hingga minus 162 derajat Celsius sehingga berubah menjadi cair. Teknologi itu memungkinkan Qatar mengirim LNG ke berbagai belahan dunia tanpa bergantung pada jaringan pipa regional.

Kini, ketika jalur utama distribusi energi dunia terganggu akibat konflik kawasan, fondasi ekonomi Qatar ikut terguncang.

Kebangkitan Qatar sebagai salah satu negara terkaya di dunia bermula dari sektor energi. Negara kecil di kawasan Teluk Persia itu menjelma menjadi kekuatan energi global setelah sukses mengembangkan ekspor gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) sejak pertengahan 1990-an.

Tonggak penting itu dimulai ketika Qatar mengirimkan ekspor LNG perdana sebanyak 60 ribu ton ke Jepang pada 1996. Sejak saat itu, kapasitas produksi gas Qatar melonjak drastis hingga mencapai 77 juta ton pada 2010.

Lonjakan produksi tersebut menjadikan Qatar sebagai negara dengan pendapatan per kapita tertinggi di dunia selama sebagian besar dekade berikutnya.

Warga lokal mengenang periode tersebut sebagai masa transformasi besar-besaran yang mengubah wajah negara secara drastis. Di utara Doha, kawasan industri Ras Laffan dibangun di tengah gurun dan berkembang menjadi pusat pengolahan gas raksasa seluas lebih dari 100 mil persegi.

Kawasan itu dipenuhi fasilitas pemrosesan dan pencairan gas modern yang menjadi jantung industri energi Qatar.

Sementara di selatan ibu kota, deretan fasilitas industri membentang di sepanjang garis pantai. Kawasan tersebut memproduksi amonia dan pupuk berbahan baku gas yang dialirkan langsung dari Ras Laffan.

Di sejumlah titik, kobaran api gas berwarna oranye terlihat menyala tinggi ke langit, menciptakan pemandangan khas kawasan industri energi yang diselimuti pasir dan kabut polusi.

Sepanjang periode 1990 hingga 2010-an, ekonomi Qatar melesat pesat dengan rata-rata pertumbuhan mencapai sekitar 13 persen per tahun. Ledakan pembangunan itu membuat negara tersebut membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar.

Untuk menopang ekspansi ekonomi, Qatar mengandalkan pekerja asing dari berbagai negara. Saat ini, sekitar 90 persen dari total 3,2 juta penduduk Qatar merupakan warga non-kewarganegaraan atau ekspatriat.

Transformasi besar itu menjadikan Qatar sebagai salah satu pusat ekonomi dan energi paling berpengaruh di dunia. Namun kini, ketergantungan besar terhadap ekspor gas juga menjadi titik rawan ketika jalur distribusi energi global mulai terganggu akibat konflik kawasan Timur Tengah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *