NGEMIL GULA

ngemil gula

Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi

 

Bacaan Lainnya

NGEMIL adalah kebiasaan makan makanan ringan di sela-sela waktu makan utama. Kebiasaan ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi hampir di seluruh dunia. Dari anak-anak hingga orang dewasa, dari pekerja kantoran sampai pelajar, ngemil telah menjadi bagian dari gaya hidup modern. Ada yang ngemil saat bekerja, menonton televisi, belajar, berkendara, bahkan saat sedang tidak lapar sekalipun.

Bagi sebagian orang, ngemil bukan lagi sekadar kebutuhan perut. Ngemil sudah menjadi hiburan, teman aktivitas, bahkan pelarian stres.

Hobi ngemil tanpa jeda bisa membuat tubuh bekerja terus sepanjang hari. Kondisi yang dikenal sebagai grazing pattern ini membuat insulin terus diproduksi. Jika camilannya tinggi gula dan tepung olahan, lama-lama risiko diabetes pun meningkat.

Mengapa orang suka ngemil?
Dari sudut pandang ilmiah, kebiasaan ngemil berkaitan erat dengan kerja otak manusia. Saat seseorang mengonsumsi makanan yang manis, gurih, renyah, atau berlemak, otak akan melepaskan hormon dopamin, yakni hormon yang menimbulkan rasa senang dan nyaman.

Efek inilah yang membuat orang merasa lebih rileks, lebih bahagia, dan ingin mengulanginya lagi. Karena itu tidak heran jika banyak orang tiba-tiba ingin makan cokelat saat stres, mencari keripik ketika menonton film, atau membeli kopi susu dan dessert saat sedang penat bekerja.

Industri makanan modern sangat memahami cara kerja otak manusia tersebut. Karena itu berbagai camilan masa kini dirancang sedemikian rupa agar orang sulit berhenti makan. Perpaduan gula, garam, lemak, penyedap rasa, aroma, hingga tekstur renyah dibuat dengan komposisi tertentu agar menghasilkan sensasi yang memanjakan lidah.

Akibatnya muncul dorongan untuk terus menambah konsumsi. Sudah habis satu genggam keripik, masih ingin tambah lagi. Sudah minum satu gelas minuman manis, rasanya masih kurang. Tanpa disadari, tubuh menerima banjir kalori, gula, dan lemak secara terus-menerus sepanjang hari.

Padahal, tidak semua camilan aman bagi kesehatan. Berbagai penelitian menunjukkan cukup banyak camilan modern mengandung gula, garam, lemak, dan bahan tambahan pangan dalam jumlah tinggi. Penelitian yang dipublikasikan dalam Gorontalo Journal of Public Health misalnya menemukan bahwa minuman boba yang populer di kalangan remaja mengandung gula dan kalori sangat tinggi sehingga berpotensi meningkatkan risiko obesitas dan diabetes jika dikonsumsi berlebihan.

Penelitian lain dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia juga menunjukkan banyak makanan ringan kemasan mengandung tepung olahan, gula tambahan, serta rendah serat sehingga cepat menaikkan kadar gula darah.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran berbagai pihak, termasuk pemerintah. Kementerian Kesehatan terus mengampanyekan pembatasan konsumsi gula, garam, dan lemak melalui berbagai program edukasi masyarakat. Masyarakat juga mulai diperkenalkan pada pentingnya membaca label gizi pada kemasan makanan dan minuman.

Selain itu, pemerintah mendorong penerapan label informasi gizi yang lebih mudah dipahami masyarakat agar konsumen mengetahui kandungan gula dan kalori sebelum membeli produk pangan tertentu.

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Saat ini jumlah penderita diabetes pada anak dan remaja terus meningkat. Gaya hidup sedentari, kurang aktivitas fisik, kebiasaan mengonsumsi minuman manis, serta budaya ngemil berlebihan menjadi faktor yang ikut berkontribusi.

Karena itu para orang tua perlu mulai melakukan langkah antisipatif sejak dini untuk melindungi anak-anaknya dari kebiasaan ngemil yang tidak sehat.

Beberapa langkah sederhana sebenarnya dapat dilakukan di rumah. Orang tua dapat mulai membatasi stok camilan ultra-proses dan minuman manis, menggantinya dengan pilihan yang lebih sehat seperti buah, kacang tanpa gula, yogurt plain, ubi rebus, atau jagung kukus.

Anak-anak juga perlu dibiasakan makan teratur sehingga tidak terus-menerus mencari makanan ringan. Selain itu, penting membangun budaya aktif bergerak, membatasi screen time, dan mengurangi kebiasaan makan sambil menonton atau bermain gawai.

Yang tidak kalah penting, orang tua perlu menjadi teladan. Sulit meminta anak berhenti ngemil jika orang tuanya sendiri rutin membuka keripik setiap malam.

Pada akhirnya, melindungi anak dari diabetes bukan hanya soal melarang makan manis, melainkan membangun pola hidup sehat sejak dini. Kebiasaan kecil yang dibentuk di rumah hari ini akan menentukan kesehatan mereka di masa depan.

Anak-anak tidak membutuhkan rumah penuh snack untuk merasa bahagia. Mereka justru membutuhkan keluarga yang peduli, lingkungan yang sehat, dan orang tua yang mau meluangkan waktu untuk menjaga masa depan mereka.(jto)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *