SKINNY FAT

skinny fat

Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi

SAAT ini ada fenomena baru yang sedang ngetren di kalangan remaja, yakni skinny fat. Orangnya tampak normal. Tidak gemuk. Tapi lemaknya tinggi. Kelompok ini memiliki risiko tinggi terkena diabetes.

Bacaan Lainnya

Fenomena skinny fat ini menarik karena banyak orang menganggap diabetes hanya mengincar mereka yang berbadan gemuk. Padahal sekarang mulai banyak remaja bertubuh ramping yang diam-diam mengalami gangguan metabolisme. Dari luar terlihat sehat, tetapi “mesin” di dalam tubuhnya mulai bermasalah.

Remaja zaman sekarang memang hidup di era yang unik. Makan sedikit dianggap keren. Perut rata dianggap estetika. Foto di media sosial harus terlihat langsing. Tetapi pada saat yang sama, konsumsi minuman manis, junk food, dan kebiasaan rebahan justru meningkat tajam. Akibatnya lahirlah generasi yang terlihat kurus, tetapi kualitas metabolisme tubuhnya kurang sehat.

Itulah yang dikenal sebagai skinny fat.

Apa Itu Skinny Fat?

Istilah skinny fat digunakan untuk menggambarkan seseorang yang tampak kurus atau berat badannya normal, tetapi kadar lemak tubuhnya tinggi dan massa ototnya rendah.
Secara sederhana: tubuhnya kecil, angka timbangan mungkin normal, tetapi komposisi tubuhnya tidak sehat.

Lemak yang menumpuk bukan hanya lemak di bawah kulit, melainkan juga lemak visceral, yaitu lemak yang mengelilingi organ-organ penting di dalam tubuh. Lemak jenis inilah yang berbahaya karena berhubungan dengan resistensi insulin, kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, hingga diabetes tipe 2.

Karena itu, kurus belum tentu sehat. Ada remaja yang tampak ramping, tetapi cepat lelah, gampang mengantuk setelah makan, jarang olahraga, lingkar perut mulai membesar, dan sering mengonsumsi makanan tinggi gula. Mereka tampak baik-baik saja, padahal metabolisme tubuhnya sedang bekerja keras.

Mengapa Remaja “Menyukai” Skinny Fat?
Sebenarnya tidak ada remaja yang sengaja ingin menjadi skinny fat. Yang mereka sukai adalah tampil kurus atau langsing. Masalahnya, banyak yang ingin tubuh ramping tanpa menjalani pola hidup sehat.

Akibatnya muncul pola hidup seperti makan sedikit tetapi gizinya buruk, sering melewatkan sarapan, lebih banyak ngemil daripada makan sehat, minim aktivitas fisik,
begadang, dan terlalu lama duduk sambil bermain gadget.

Mereka ingin tubuh terlihat ideal, tetapi tidak membangun massa otot dan kebugaran tubuh. Di media sosial, ukuran sehat sering kalah oleh ukuran estetika. Selama tubuh terlihat kecil di kamera, banyak yang merasa aman. Padahal tubuh manusia bukan sekadar pajangan foto profil. Tubuh membutuhkan otot, aktivitas fisik, tidur cukup, dan nutrisi seimbang agar metabolisme bekerja normal.

Akibatnya, banyak remaja terlihat kurus tetapi sebenarnya mengalami kelebihan lemak tubuh, kekurangan massa otot,
dan penurunan sensitivitas insulin.

Apa Risiko Skinny Fat?

Risiko skinny fat sering tidak disadari karena penampilannya tidak mencolok. Orang tua pun kadang merasa tenang karena anaknya tidak gemuk.

Padahal kondisi ini bisa memicu resistensi insulin, diabetes tipe 2, kolesterol dan trigliserida tinggi, fatty liver, hipertensi, hingga penyakit jantung di usia lebih muda.

Yang menarik, orang skinny fat sering merasa dirinya sehat karena, “Saya kan nggak gemuk.”

Padahal lemak di dalam tubuhnya bisa cukup tinggi. Kondisi ini ibarat rumah yang tampak rapi dari luar, tetapi instalasi listrik di dalamnya mulai korslet.

Skinny Fat dan Risiko Diabetes

Hubungan skinny fat dengan diabetes sangat erat, terutama melalui proses yang disebut resistensi insulin. Insulin adalah hormon yang membantu gula masuk ke sel tubuh untuk dijadikan energi. Tetapi ketika tubuh terlalu banyak lemak visceral dan terlalu sedikit otot, kerja insulin menjadi tidak efektif.

Akibatnya, gula darah lebih sulit dikendalikan, pankreas bekerja lebih keras, dan lama-kelamaan risiko diabetes meningkat.

Otot sebenarnya berfungsi sebagai “gudang pembakar gula”. Semakin baik massa otot seseorang, semakin baik pula tubuh mengelola gula darah.

Sebaliknya, pada orang skinny fat, massa otot rendah, aktivitas fisik minim, tetapi asupan gula tinggi.

Inilah kombinasi yang berbahaya. Kebiasaan yang paling sering memicu kondisi ini antara lain konsumsi minuman manis berlebihan,terlalu sering makan makanan ultra-proses, kurang olahraga,duduk terlalu lama, tidur larut malam, dan stres berkepanjangan.

Banyak remaja sekarang terbiasa nongkrong sambil minum kopi susu, ngemil snack tinggi kalori, rebahan sambil scrolling berjam-jam, lalu tidur lewat tengah malam.

Kalori terus masuk, tetapi pembakaran energi sangat minim. Tubuh akhirnya menyimpan kelebihan energi dalam bentuk lemak. Karena massa otot rendah, kemampuan tubuh membakar gula juga ikut menurun. Dalam jangka panjang, kondisi ini menjadi jalan tol menuju diabetes tipe 2.

Fenomena skinny fat mengingatkan kita bahwa sehat tidak bisa diukur hanya dari bentuk tubuh. Kurus belum tentu sehat, sebagaimana gemuk belum tentu pasti sakit.

Yang paling penting adalah kualitas metabolisme tubuh dan pola hidup sehari-hari.
Bagi remaja, menjaga kesehatan sebaiknya tidak hanya fokus pada penampilan, tetapi juga kebugaran tubuh.

Pola hidup sehat dapat dimulai dari langkah sederhana: mengurangi minuman manis,
memperbanyak makanan alami, rutin bergerak dan berolahraga, tidur cukup, serta membatasi waktu rebahan dan bermain gadget.

Tubuh manusia bukan mesin yang bisa terus dipaksa menerima gula, kurang tidur, dan minim gerak tanpa konsekuensi. Cepat atau lambat, tubuh akan memberikan tagihannya.
Karena itu, target hidup sehat seharusnya bukan sekadar “terlihat kurus”, melainkan memiliki tubuh yang kuat, bugar, dan metabolisme yang sehat.(jto)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *