SI HITAM MANIS

joko intarto

Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi

 

Bacaan Lainnya

PERNAHKAH Anda memperhatikan tanaman pagar di pojok jalan atau di halaman rumah tetangga yang buahnya kecil-kecil berwarna merah dan hitam? Itulah Murbai atau Mulberry.

Dulu, tanaman bernama latin Morus alba ini populer karena daunnya menjadi pakan utama ulat sutera.

Di Indonesia, murbai sudah dikenal sejak lama dan sering dijadikan “pagar hidup”. Lucunya, saking banyaknya, buah ini sering dibiarkan jatuh begitu saja. Padahal, bagi kita yang sedang berjuang menjaga kadar gula darah, murbai adalah “harta karun” yang tersembunyi!

Kenapa Murbai Sangat Bersahabat untuk Diabetesi?
Sebagai sesama diabetesi, saya sempat kaget saat tahu bahwa buah yang tumbuh liar ini punya manfaat luar biasa.

Secara ilmiah, murbai memiliki Indeks Glikemik (GI) yang rendah, yakni di angka 25-32. Sebagai perbandingan, makanan dianggap aman jika GI-nya di bawah 55.

Apa rahasianya? Ini yang menarik:
Buah murbai menghambat penyerapan gula: Murbai mengandung senyawa 1-deoxynojirimycin (DNJ). Senyawa ini bekerja “mengerem” enzim di usus agar tidak cepat-cepat mengubah karbohidrat menjadi gula. Hasilnya? Lonjakan gula darah setelah makan jadi lebih terkendali.

Buah murbai meningkatkan sensitivitas insulin: Ekstrak murbai membantu sel tubuh kita lebih efektif menyerap glukosa, sehingga kadar gula darah puasa dan HbA1c berpotensi turun.

Kaya antioksidan: Warna gelap pada murbai menandakan kandungan Anthocyanin yang tinggi, sangat baik untuk menangkal radang dan menjaga kebugaran tubuh kita di usia matang.

Meski manfaatnya banyak, mengonsumsi buah murbai tetap harus taat pada aturan main. Namanya juga diabetesi, harus patuh pada aturan moderasi. Berikut tips praktisnya:

Pertama, perhatikan porsi aman, cukup satu genggam kecil atau sekitar 50-80 gram per hari. Hindari makan berlebihan meski rasanya enak.

Kedua, selalu pilih murbai yang segar. Hindari versi yang dikeringkan karena biasanya kadar gulanya sudah terkonsentrasi dan indeks glikemiknya bisa naik.

Ketiga, usahakan makan murbai bersama protein atau lemak sehat, seperti dicampur dengan yogurt tawar atau kacang-kacangan. Strategi ini sangat efektif untuk membuat kenaikan gula darah jadi lebih lambat lagi.

Terakhir, hindari mengolahnya menjadi jus. Lebih baik buah murbai dikunyah langsung agar seratnya tetap utuh masuk ke tubuh. Jika dijus, serat seringkali hilang dan gula alami di dalamnya justru lebih cepat terserap ke aliran darah.

Jangan lupa untuk selalu cek gula darah 2 jam setelah makan guna melihat respon unik tubuh Bapak dan Ibu masing-masing.

Sebagai catatan, buah murbai bukan pengganti obat diabetes. Murbai adalah “asisten” yang baik, tapi bukan pengganti Metformin atau Insulin dari dokter. Bila Anda saat ini masih mengonsumsi obat resep dokter, tetap patuhi resep tersebut.

Tubuh setiap orang unik. Buah murbai bagi saya sangat bermanfaat. Namun belum tentu buat Anda. Untuk memastikan, coba makan buah murbai dan cek gula darah 2 jam setelahnya untuk melihat respon tubuh masing-masing.

Waspada Masalah Ginjal: Bagi Bapak/Ibu yang memiliki riwayat masalah ginjal (CKD), sebaiknya konsultasi dulu dengan dokter, karena murbai mengandung kalium cukup tinggi.

Murbai adalah camilan alami, murah (bahkan gratis kalau punya tetangga baik hati), dan berpotensi menurunkan gula darah setelah makan hingga 22 persen.(jto)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *