Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi
Sebagai diabetesi, saya merasakan betul manfaat puasa. Pada awal menjalankan metode pengendalian gula darah tanpa obat dan tanpa suntik insulin pada tahun 2024, saya memanfaatkan momentum puasa Ramadan untuk mengubah pola makan dan pola hidup.
Awalnya tidak mudah. Tubuh yang terbiasa ngemil, makan berlebihan, minum manis, dan makan tidak teratur harus “dididik ulang”. Namun justru di situlah kekuatan puasa bekerja. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi latihan disiplin terhadap diri sendiri.
Setelah sebulan menjalani puasa Ramadan dengan pola makan yang lebih sehat sesuai anjuran dokter, perlahan-lahan tubuh mulai beradaptasi. Nafsu makan lebih terkendali. Jam makan menjadi teratur. Keinginan mengonsumsi gula berlebihan berkurang. Berat badan lebih stabil. Yang paling penting, kadar gula darah mulai terkendali dengan baik.
Dzulhijah yang Istimewa
Pada tanggal 18 Mei 2026, umat Muslim memasuki 1 Dzulhijah 1447 Hijriyah. Dalam ajaran Islam, tanggal 1–9 Dzulhijah merupakan hari-hari yang sangat dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah, termasuk puasa sunah.
Bagi yang mampu, dianjurkan berpuasa selama sembilan hari. Bila belum mampu, bisa melaksanakan puasa tanggal 8 Dzulhijah (tarwiyah) dan 9 Dzulhijah (Arafah). Bahkan bila hanya mampu sehari, puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijah pun memiliki keutamaan yang sangat besar.
Bagi para diabetesi, momentum puasa beberapa hari berturut-turut ini bukan hanya latihan spiritual, tetapi juga kesempatan emas untuk melatih kembali pengendalian gula darah secara alami dan sehat.
Puasa: Ibadah yang Menyehatkan
Dalam Islam, puasa memiliki dimensi ibadah sekaligus kesehatan. Penilaian ini telah dibuktikan melalui penemuan metode autophagy oleh ilmuwan Jepang yang menghasilkan hadiah Nobel di bidang biologi.
Kalimat ”puasa itu menyehatkan” terasa relevan di zaman modern ketika berbagai penyakit metabolik, termasuk diabetes, meningkat akibat pola makan berlebihan dan gaya hidup kurang gerak.
Puasa memberi kesempatan kepada tubuh untuk beristirahat dari pola makan yang terus-menerus. Sistem pencernaan bekerja lebih ringan. Tubuh mulai menggunakan cadangan energi secara lebih efisien. Kadar insulin tidak terus-menerus melonjak akibat makan sepanjang hari.
Bagi diabetesi, kondisi ini sangat penting. Salah satu masalah utama diabetes tipe 2 adalah resistensi insulin, yakni kondisi ketika tubuh tidak lagi merespons insulin dengan baik akibat pola makan berlebihan, terutama karbohidrat sederhana dan gula.
Melalui puasa yang dilakukan dengan benar, tubuh belajar kembali mengatur ritme metabolisme.
Puasa Melatih Disiplin Makan
Banyak diabetesi sebenarnya bukan hanya bermasalah pada jenis makanan, tetapi juga kebiasaan makan. Sedikit lapar langsung ngemil. Ngopi harus pakai gula. Makan belum kenyang kalau belum tambah nasi. Malam hari masih mencari camilan.
Puasa memutus pola itu. Saat berpuasa, seseorang belajar bahwa tubuh ternyata tidak harus terus-menerus diisi makanan. Tubuh juga belajar membedakan mana lapar sungguhan dan mana sekadar keinginan lidah.
Ini sangat penting dalam pengendalian diabetes. Momentum puasa membantu diabetesi untuk mengurangi frekuensi makan berlebihan, mengurangi konsumsi gula tambahan. mengendalikan ngemil. menata ulang jam makan. mengurangi lonjakan gula darah, menurunkan berat badan berlebih dan melatih disiplin pola hidup sehat. Puasa pada akhirnya menjadi “sekolah pengendalian diri”.
Dzulhijah: Kesempatan Ketiga Setelah Ramadan dan Syawal
Banyak orang berhasil memperbaiki pola makan saat Ramadan, tetapi mulai kembali longgar setelah Lebaran. Karena itu, Islam sebenarnya menyediakan “program latihan berkala” agar umat tetap menjaga disiplin diri, termasuk dalam pola makan dan kesehatan.
Setelah Ramadan, umat Muslim dianjurkan menjalankan puasa sunah Syawal selama enam hari. Puasa ini sering disebut sebagai penyempurna ibadah Ramadan. Bagi para diabetesi, puasa Syawal juga menjadi masa transisi agar tubuh tidak langsung kembali pada pola makan berlebihan setelah sebulan berlatih menahan diri.
Lalu beberapa bulan kemudian datang lagi puasa Dzulhijah.
Karena itu, puasa Dzulhijah sesungguhnya kesempatan ketiga setelah Ramadan dan Syawal untuk kembali menata pola hidup sehat.
Dalam ajaran Islam, latihan pengendalian diri melalui puasa sebenarnya berlangsung sepanjang tahun. Di luar puasa Ramadan, Syawal, dan Dzulhijah, setiap bulan umat Muslim juga dianjurkan menjalankan puasa sunah ayamul bidh, yakni puasa tiga hari berturut-turut setiap tanggal 13, 14, dan 15 kalender Hijriyah, bertepatan dengan datangnya bulan purnama.
Islam seperti mengingatkan manusia agar tidak terlalu lama “lepas kontrol”. Setiap bulan selalu ada momentum untuk kembali menahan diri, memperbaiki pola makan, mengendalikan hawa nafsu, sekaligus menjaga kesehatan tubuh.
Bagi diabetesi, pola puasa berkala seperti ini sangat membantu untuk menjaga disiplin makan, mengurangi kebiasaan ngemil, mengontrol berat badan, menstabilkan gula darah, dan melatih konsistensi gaya hidup sehat.
Tubuh yang terlalu sering “dimanjakan” dengan makan tanpa kontrol cenderung lebih mudah mengalami gangguan metabolisme. Sebaliknya, tubuh yang secara berkala dilatih berpuasa biasanya menjadi lebih peka terhadap rasa lapar, kenyang, dan kebutuhan energi yang sebenarnya.
Dengan kata lain, puasa bukan sekadar ibadah musiman, tetapi juga sistem latihan kesehatan yang berlangsung sepanjang tahun. Puasa Dzulhijah membantu diabetesi untuk kembali mengingat makan secukupnya, berhenti sebelum kenyang, memperbanyak air putih, mengurangi gula, mengendalikan emosi makan, dan kembali disiplin menjaga kesehatan.(jto)






