MENDADAK KURUS

joko intarto

Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi

 

Bacaan Lainnya

BAGI seorang yang baru saja didiagnosis menyandang diabetes, perjalanan awal sering kali penuh dengan kejutan yang menguras emosi. Salah satu momen yang paling sering memicu kepanikan adalah ketika melihat angka di timbangan yang merosot tajam tanpa direncanakan.

Sebelum diabetes, seseorang memiliki berat ideal 55 Kg. Setelah diabetes, berat badannya mendadak menyusut menjadi 48 Kg. Mengapa tubuh seolah “habis” setelah divonis diabetes?

Secara medis, penurunan berat badan secara drastis adalah salah satu gejala klasik dari kadar gula darah yang belum terkontrol. Fenomena ini diawali dari kondisi sel tubuh yang mengalami “kelaparan”.

Normalnya, hormon insulin bertindak sebagai “kunci” untuk memasukkan gula dari makanan ke dalam sel agar diubah menjadi energi. Namun pada penyandang diabetes, kunci ini rusak atau tidak memadai sehingga gula menumpuk di darah, sementara sel-sel tubuh justru menjerit kelaparan karena tidak mendapat pasokan bahan bakar.

Karena mengira tidak ada makanan yang masuk, otak akhirnya mengirim sinyal darurat untuk membongkar cadangan energi lain. Tubuh terpaksa membakar massa otot dan jaringan lemak dengan sangat cepat untuk bertahan hidup.

Proses pembongkaran otot secara besar-besaran inilah yang membuat tubuh Anda tampak menyusut drastis.

Kondisi ini diperparah oleh adanya kebocoran kalori lewat urine. Karena kadar gula di dalam darah sudah terlalu tinggi, ginjal tidak mampu lagi menyaringnya sehingga kelebihan gula tersebut terpaksa dibuang keluar setiap kali Anda buang air kecil.

Gula yang terbuang itu sebenarnya adalah kalori berharga yang gagal diserap oleh tubuh.
Namun perlu diketahui bahwa kondisi ini tidak bersifat permanen.

Tubuh kita sangat mungkin kembali ke berat badan ideal semula, melalui proses alamiah yang sehat. Kunci utamanya adalah gula darah terkendali secara konsisten terlebih dahulu. Anda juga harus mematuhi pengobatan dan anjuran dokter agar fungsi insulin kembali optimal.

Ketika kadar gula darah mulai stabil, sel-sel tubuh akan kembali bisa menyerap energi dari makanan dengan normal. Di titik inilah proses pembakaran otot dan lemak akan langsung berhenti, dan tubuh mulai membangun kembali jaringannya secara bertahap.

Selain pengobatan, Anda juga perlu menjadikan olahraga sebagai habit atau kebiasaan baru. Untuk menaikkan berat badan secara aman, seorang diabetesi tidak boleh sekadar “makan banyak” karena hal itu justru berbahaya bagi stabilitas gula darah. Cara terbaik adalah dengan rutin berolahraga, seperti jalan kaki atau jogging santai setiap hari.

Aktivitas fisik yang konsisten ini akan merangsang sel-sel otot menjadi lebih sensitif terhadap insulin. Hasilnya, penyerapan nutrisi dari makanan yang Anda konsumsi—terutama sumber protein dan karbohidrat alami (real food)—akan menjadi jauh lebih maksimal untuk membentuk massa otot yang sehat, bukan menumpuk lemak jahat.

Sebagai pelengkap informasi, saya ingin membagikan perjalanan pribadi saya sendiri dalam menaklukkan fase ini. Jauh sebelum dinyatakan menyandang diabetes, berat badan saya berada di angka 64 kg dengan tinggi badan 160 cm. Melihat komposisi tersebut, bisa disimpulkan bahwa perawakan saya memang “agak gemuk”, meskipun saat itu masih dalam batas yang bisa ditoleransi.

Tanpa saya sadari, diabetes mulai menggerogoti metabolisme tubuh. Saat akhirnya saya resmi dinyatakan menyandang diabetes pada akhir Februari 2024, berat badan saya ternyata sudah merosot drastis menjadi 58 kg. Ada rasa kaget dan khawatir, sama seperti yang mungkin Anda rasakan sekarang.

Namun, keajaiban disiplin itu nyata. Enam bulan setelah vonis tersebut—melalui kontrol gula darah yang konsisten serta komitmen total untuk berolahraga secara disiplin setiap hari—berat tubuh saya mulai membaik. Karena metabolisme kembali normal, berat badan saya perlahan-lahan naik kembali secara sehat. Saking suburnya pasca-pemulihan, seusai momen Lebaran yang lalu, timbangan saya sempat menyentuh angka 66,3 kg.

Mengingat angka tersebut sudah melewati batas ideal, saat ini saya menjalani program penurunan berat badan yang terukur dengan mengatur pola makan secara ketat. Hasilnya, saat ini berat badan saya sudah berhasil turun dan stabil di angka 63,5 kg.

Namun program saya belum selesai. Saya masih akan melanjutkan program pengelolaan makanan ini dengan target menurunkan berat badan sedikit lagi hingga mencapai angka 60 Kg yang jauh lebih fit dan proporsional bagi tubuh saya.

Setelah membaca kisah di atas, Anda mungkin bertanya-tanya: “Lalu, berapa sebenarnya berat badan yang ideal untuk tinggi badan saya? Apakah saya saat ini terlalu kurus atau justru terlalu gemuk?”

Untuk mengetahuinya secara cepat, ada satu rumus medis standar yang sangat mudah diingat, yaitu Rumus Broca. Anda tidak perlu kalkulator rumit, cukup gunakan patokan tinggi badan Anda dalam satuan sentimeter (cm) dengan perhitungan sederhana berikut:
Berat Badan Ideal (Pria) = (Tinggi Badan – 100) – 10 persen (Catatan: Untuk wanita, potongan di akhir adalah 15 persen, atau jika usia di atas 40 tahun/pria berotot bisa disesuaikan menjadi kurangan genap 10 persen).

Sebagai contoh praktisnya, mari kita hitung menggunakan tinggi badan saya, yaitu 160 cm:
1. Pertama, kurangi tinggi badan dengan angka 100. Berarti 160 – 100 = 60.
2. Kedua, kurangi hasil tersebut dengan 10 persennya, atau 60 – 6 = 54.

Berdasarkan rumus mudah ini, berat badan ideal murni untuk tinggi badan 160 cm adalah sekitar 54 kg. Namun, dunia medis memberikan batas toleransi normal (tidak mutlak harus di satu angka itu saja). Batas toleransi aman biasanya berkisar di angka angka dasar (60) hingga hasil akhir (54).
• Jika berat badan Anda berada di bawah 54 kg, tubuh Anda cenderung terlalu kurus.
• Jika berat badan Anda berada di antara 54 kg hingga 60 kg, Anda berada di zona ideal dan proporsional.
• Jika berat badan Anda berada di atas 60 kg (seperti saya yang sempat 64 kg atau 66,3 kg), perawakan Anda sudah masuk kategori agak gemuk / kelebihan berat badan.

Cobalah hitung tinggi badan Anda sendiri sekarang. Angka ini bisa Anda jadikan target atau papan penanda yang realistis saat menjalani program kestabilan gula darah dan olahraga.

Ingat, tujuannya bukan sekadar mengejar angka di timbangan, melainkan mencapai tubuh yang bugar, fit, dan bebas dari komplikasi diabetes.

Selamat mencoba dan tetap semangat!(jto)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *