BESER

JOKO INTARTO

Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi

ANDA sering ‘’beser’’ pada malam hari? Waspadalah. Jangan-jangan, gula darah Anda tinggi. Periksakan segera, sebelum terlambat. Gunakan kartu BPJS Kesehatan Anda di Fasilitas Kesehatan I yang terdekat.

Bacaan Lainnya

Bagi banyak orang, malam hari adalah waktu terbaik untuk beristirahat. Tubuh rebah di kasur, lampu dimatikan, lalu tidur nyenyak sampai pagi. Namun, beberapa tahun lalu, malam bagi saya justru terasa seperti siksaan kecil yang berulang-ulang.

Bayangkan saja. Baru saja mata terpejam, beberapa saat kemudian saya harus bangun karena ingin buang air kecil. Begitu terus, sampai empat hingga enam kali dalam semalam. Tidur menjadi kacau. Badan lelah. Kepala pening. Besok paginya, tubuh terasa seperti belum tidur sama sekali.

Saat itu saya belum tahu bahwa beser itu berhubungan dengan diabetes. Belakangan saya memahami, sering pipis di malam hari—dalam istilah medis disebut poliuria—adalah salah gejala bahwa gula darah sedang terlalu tinggi.

Dalam kondisi normal, ginjal bekerja seperti petugas penyaring yang cerdas. Ia menyaring darah, lalu mengembalikan zat-zat penting ke tubuh, termasuk gula. Namun ketika kadar gula darah melonjak terlalu tinggi, ginjal mulai kewalahan. Gula yang berlebihan tidak lagi bisa diserap kembali. Akibatnya, gula “bocor” masuk ke urine.

Masalahnya, gula memiliki sifat seperti magnet air. Ia menarik cairan tubuh dalam jumlah besar. Akibatnya, produksi urine meningkat drastis dan kantong kemih cepat penuh. Itulah sebabnya penderita diabetes sering bolak-balik ke kamar mandi.

Kondisi ini biasanya lebih parah pada malam hari. Saat tubuh berbaring, aliran darah menuju ginjal menjadi lebih lancar. Ginjal bekerja lebih aktif. Jika darah penuh gula, produksi urine pun seperti keran bocor yang sulit dihentikan.

Gejala Umum

Tubuh penyandang diabetes sebenarnya mengirim banyak sinyal lain. Salah satunya adalah rasa haus. Rasa ingin minum itu seolah tidak pernah selesai. Baru saja minum segelas air, beberapa menit kemudian tenggorokan terasa kering lagi.
Ini terjadi karena tubuh kehilangan terlalu banyak cairan lewat urine. Otak kemudian mengirim sinyal darurat agar kita terus minum demi mencegah dehidrasi.

Mudah lapar. Aneh memang. Sudah makan banyak, tetapi masih merasa lapar. Seolah nasi sepiring tidak pernah benar-benar sampai ke tubuh. Penyebabnya ternyata sederhana tetapi mengerikan: gula memang ada di dalam darah, tetapi tidak bisa masuk ke sel tubuh karena insulin tidak bekerja optimal.

Akibatnya, sel-sel tubuh seperti orang kelaparan yang hanya bisa melihat makanan dari balik kaca. Gula beredar di mana-mana, tetapi tidak bisa dimanfaatkan menjadi energi. Tubuh akhirnya mengambil langkah darurat. Lemak dibakar. Otot diurai. Berat badan turun drastis tanpa direncanakan. Banyak diabetesi pemula mendadak kurus dalam waktu singkat, padahal makannya tetap banyak.

Gampang ngantuk. Saya pernah berada di fase itu. Badan seperti kehabisan tenaga sepanjang hari. Mengantuk terus. Tidak bersemangat. Rasanya seperti membawa baterai yang tidak pernah penuh.

Pada tahap lebih lanjut, diabetes juga mulai mengacaukan proses penyembuhan tubuh. Luka kecil menjadi lama sembuh. Goresan ringan bisa berubah menjadi koreng. Kulit terasa gatal tanpa sebab yang jelas. Bahkan penglihatan mendadak kabur seperti kamera yang kehilangan fokus.

Semua itu terjadi karena gula darah tinggi merusak pembuluh darah kecil dan mengganggu sistem kekebalan tubuh. Karena itulah, memahami tanda-tanda diabetes menjadi sangat penting.

Kendalikan Gula Darah

Hari ini, malam-malam panjang penuh drama ke toilet itu hampir tinggal kenangan bagi saya. Setelah berusaha keras mengendalikan gula darah secara konsisten, frekuensi pipis saya berangsur normal kembali.

Sekarang saya hanya bangun sekitar dua kali dalam semalam, biasanya sekitar pukul 01.30 dan 04.30. Itu pun masih tergolong normal bagi tubuh yang sehat dan cukup minum.

Perubahan ini membuat saya sadar bahwa tubuh manusia sebenarnya punya kemampuan luar biasa untuk pulih, asalkan diberi kesempatan. Ketika gula darah berhasil dikendalikan, ginjal tidak lagi dipaksa bekerja ekstra. Tidak ada lagi “sampah gula” yang bocor ke saluran kemih.

Tanpa gula yang menarik cairan tubuh secara berlebihan, produksi urine kembali normal. Kantong kemih pun tidak lagi “panik” sepanjang malam. Tidur menjadi lebih nyenyak. Tubuh terasa lebih segar. Energi perlahan kembali.

Bagi saya, perubahan terbesar justru bukan berasal dari obat, melainkan dari keberanian untuk mengubah kebiasaan hidup. Mulai dari memperbaiki pola makan dengan makanan alami, rutin bergerak dan berolahraga, menjaga kualitas tidur, hingga belajar mengelola stres.(jto)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *