Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi
BANYAK penderita diabetes sangat disiplin mengurangi makan. Nasi dikurangi. Gula dihindari. Teh pahit mulai diminum. Tetapi ada satu yang sering diabaikan: olahraga.
Tidak sedikit diabetesi yang enggan bergerak. Ada yang takut lemas. Ada yang merasa cepat capek. Ada pula yang berpikir cukup minum obat dan menjaga makan saja. Padahal, semakin jarang tubuh bergerak, massa otot akan terus melemah dan mengecil.
Ini masalah serius. Sebab, menurut banyak ahli metabolisme, otot merupakan gudang penyimpanan gula terbesar dalam tubuh kita. Gudang itu hanya bisa dipertahankan, bahkan diperbesar, melalui aktivitas fisik dan olahraga.
Ketika otot jarang dipakai, tubuh menganggap otot tidak penting. Massa otot pun perlahan menyusut. Akibatnya, kapasitas tubuh menyimpan gula ikut berkurang. Ibarat gudang yang makin sempit, sementara kiriman gula terus datang setiap hari dari nasi, roti, mi, gorengan, minuman manis, dan berbagai sumber karbohidrat lainnya.
Kalau gudangnya kecil, gula akhirnya menumpuk di darah. Di situlah masalah diabetes bermula.
Setiap kali kita makan karbohidrat — nasi, roti, kentang, mi, atau gula — makanan itu akan dipecah menjadi glukosa. Glukosa masuk ke aliran darah sehingga kadar gula darah meningkat.
Tubuh tentu tidak bisa membiarkan gula menumpuk terlalu lama di darah. Karena itu pankreas akan mengeluarkan insulin untuk membantu gula masuk ke dalam sel tubuh.
Nah, salah satu tempat penyimpanan gula terbaik adalah otot. Di dalam otot, gula disimpan dalam bentuk glikogen, yaitu cadangan energi yang sewaktu-waktu digunakan saat tubuh bergerak.
Semakin besar dan aktif massa otot seseorang, semakin besar pula kemampuan tubuh menyerap dan menyimpan gula dari darah. Sebaliknya, jika massa otot sedikit dan tubuh pasif, gula akan lebih lama beredar di darah.
Pankreas dipaksa memproduksi insulin lebih banyak. Lama-kelamaan tubuh mengalami resistensi insulin dan diabetes makin sulit dikendalikan.
Karena itu olahraga sebenarnya bukan sekadar membakar kalori. Olahraga adalah cara membuka dan memperbesar gudang gula.
Saat seseorang berjalan cepat, jogging, bersepeda, berenang, atau senam, otot langsung membutuhkan energi. Dalam kondisi itu, otot menyedot gula dari darah untuk dijadikan bahan bakar. Itulah sebabnya gula darah sering turun setelah olahraga.
Yang menarik, otot aktif bisa menyerap gula dengan bantuan insulin yang sangat sedikit. Karena itu olahraga sering disebut sebagai “insulin alami”.
Selain olahraga aerobik, diabetesi juga membutuhkan latihan beban atau latihan kekuatan. Push-up, squat, resistance band, angkat dumbbell, naik turun tangga, atau latihan sederhana menggunakan berat badan sendiri membantu memperbesar massa otot. Artinya, Anda sedang memperluas gudang penyimpanan gula.
Semakin besar massa otot, semakin besar kapasitas tubuh menyimpan gula secara aman. Tubuh juga menjadi lebih sensitif terhadap insulin sehingga pengendalian gula darah menjadi lebih baik. Inilah yang sering tidak dipahami banyak orang. Mereka fokus menurunkan berat badan, tetapi lupa menjaga massa otot.
Padahal tubuh kurus belum tentu sehat. Sekarang banyak orang terlihat tidak gemuk, tetapi ototnya sedikit dan lemak tubuhnya tinggi. Kondisi ini dikenal sebagai skinny fat. Dari luar tampak normal, tetapi metabolisme tubuh sebenarnya buruk dan risiko diabetes tetap tinggi.
Karena itu tujuan hidup sehat bukan membentuk tubuh menjadi kurus. Yang lebih penting adalah memperbaiki komposisi tubuh:
• lemak dikurangi,
• otot dipertahankan,
• tubuh dibuat aktif bergerak.
Tubuh manusia memang dirancang untuk bergerak. Ketika otot terus dipakai, tubuh mempertahankannya. Bahkan memperbesarnya. Tetapi ketika tubuh terlalu lama pasif, otot perlahan mengecil dan melemah. Kebanyakan diabetes yang malas bergerak menjadi ‘’lebih tua’’ daripada usianya.(jto)






