Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi
SEBAGAI diabetesi yang memilih hidup berdampingan dengan diabetes tanpa bergantung pada obat maupun suntik insulin, saya harus disiplin berolahraga.
Selama dua tahun terakhir, pilihan olahraga saya adalah: jalan kaki atau jogging. Murah, mudah, meriah, dan bisa dilakukan di sekitar rumah. Namun sekitar enam pekan lalu, saya memutuskan membeli sebuah sepeda.
Alasannya: saya ingin berolahraga sambil jalan-jalan menikmati sudut-sudut Kota Jakarta.
Sepeda yang saya beli sebenarnya kurang ideal untuk kebutuhan saya: Tipe mountain bike (MTB) dengan roda 27,5 inci, padahal hampir seluruh perjalanan dilakukan di jalan aspal perkotaan. Ukurannya pun sedikit terlalu besar untuk saya yang minimalis ini.
Tapi tidak apa-apa. Selain sudah terlanjur dibeli, saya juga ‘kadung’ suka. Sampai hari ini, si Element Cyber X itu belum pernah rewel, meski beberapa kali diajak berkeliling hingga tujuh jam dalam sehari.
Namun tulisan ini bukan tentang sepeda. Saya ingin berbagi pengalaman mengelola diabetes melalui olahraga bersepeda.
Sejak memiliki sepeda, hampir setiap hari Sabtu dan Minggu saya gunakan untuk gowes. Awalnya hanya sekitar 10 kilometer pulang-pergi. Lama-kelamaan jaraknya bertambah. Minggu lalu saya berhasil menempuh 29 kilometer.
Apa bedanya dibanding jogging?Setidaknya ada dua hal yang saya rasakan.
Pertama, otot paha menjadi jauh lebih aktif. Massa otot di bagian atas lutut terasa semakin kuat dan padat. Sensasinya sangat terasa ketika mengayuh pedal, terutama saat menghadapi jalan menanjak atau melawan angin.
Kedua, otot inti tubuh, terutama di sekitar perut, ikut bekerja. Dampaknya cukup menyenangkan. Lingkar perut saya yang sebelumnya 89 sentimeter kini menjadi 87,5 sentimeter. Memang belum dramatis, tetapi cukup mengejutkan. Padahal sebelumnya saya sudah rutin jogging rata-rata satu jam setiap hari.
Yang paling tidak saya duga justru berkaitan dengan kesehatan jantung dan kebugaran. Menurut rekomendasi WHO, orang dewasa setidaknya membutuhkan aktivitas fisik setara 150 menit intensitas sedang setiap minggu. Dalam aplikasi Google Fit, target tersebut diterjemahkan menjadi poin kardio mingguan.
Menariknya, ketika bersepeda selama tiga jam, saya bisa mengumpulkan sekitar 300 poin kardio dalam sehari. Artinya, target mingguan bisa terlampaui hanya dalam satu kali gowes.
Kok bisa? Karena bersepeda memiliki satu keunggulan yang tidak saya dapatkan saat jogging. Bersepeda selama satu jam biasanya belum menimbulkan rasa lelah yang berarti. Akibatnya durasi olahraga menjadi lebih panjang tanpa terasa.
Berdasarkan catatan Google Fit, bersepeda santai selama dua jam dapat membakar kalori yang kurang lebih setara dengan berjalan kaki selama satu jam. Bedanya, saya bisa menikmati perjalanan yang lebih jauh, melihat lebih banyak tempat, dan tentu saja tidak cepat bosan.
Bagi saya, bersepeda bukan pengganti jogging. Keduanya saling melengkapi. Jogging tetap menjadi olahraga harian yang praktis. Sedangkan bersepeda menjadi bonus menyenangkan pada akhir pekan.
Yang terpenting, keduanya membantu saya menjaga gula darah tetap terkendali, memperkuat otot, mengurangi lemak perut, dan membuat hidup bersama diabetes terasa lebih ringan.
Tergoda Minion
Terus terang, selama bersepeda saya sering tergoda oleh jenis sepeda lain, yaitu Minion.
Sepeda ini bukan barang baru bagi saya. Saat naik kelas 5 sekolah dasar, ayah membelikan saya sepeda Minion merek Five Rams. Pada era 1970-an, merek itu cukup terkenal. Namun sekarang namanya nyaris tak pernah terdengar lagi.
Karena itulah, sesekali saya membuka marketplace hanya untuk melihat-lihat sepeda Minion bekas yang dijual para kolektor atau pemilik lama. Bentuknya sederhana, rodanya kecil, dan entah mengapa selalu berhasil membangkitkan kenangan masa kecil.
Beli atau tidak? Setiap kali muncul keinginan untuk membeli, saya segera mengurungkannya. “Tidak urgent,” kata hati saya.
Alhasil, sampai hari ini saya masih setia menggunakan MTB Element Cyber X yang ukurannya kegedean untuk saya.
Lagipula, sepeda itulah yang telah menemani saya mencapai sebuah pencapaian penting. Minggu ini, saya mencatat kadar gula darah 92 mg/dL. Itulah angka terbaik yang pernah saya raih selama lebih dari 800 hari menjalani hidup sebagai diabetesi tanpa obat dan tanpa suntik insulin.
Angka itu tentu bukan semata-mata hasil bersepeda. Ada pola makan, disiplin memantau gula darah, dan kebiasaan hidup sehat yang ikut berperan. Namun saya merasakan sendiri bahwa bersepeda telah memberikan kontribusi yang cukup besar dalam perjalanan tersebut.
Pesan Penting
Pesan penting dari cerita ini bukanlah soal sepeda apa yang saya gunakan. Bukan pula soal merek atau ukuran rodanya.
Yang jauh lebih penting adalah manfaat olahraga dalam membantu mengendalikan gula darah.
Saat berolahraga, otot membutuhkan energi. Sebagian energi tersebut diperoleh dari glukosa yang beredar di dalam darah. Karena itu, aktivitas fisik menjadi salah satu cara paling efektif untuk membantu tubuh memanfaatkan gula darah sebagai sumber energi.
Bagi saya, olahraga bukan lagi sekadar iseng. Olahraga sudah menjadi kebutuhan, bahkan bisa dibilang kewajiban.
Karena itu, saya pilih olahraga yang tidak mahal. Tidak harus dilakukan di pusat kebugaran. Tidak pula harus mengikuti tren tertentu.
Jalan kaki, jogging, bersepeda, berenang, atau olahraga apa pun, semuanya baik selama dilakukan secara rutin dan membuat kita bahagia.
Karena pada akhirnya, olahraga yang paling efektif adalah olahraga yang sanggup membuat kita terus melakukannya dengan gembira.
Kalau boleh jujur, saya membeli sepeda karena ingin jalan-jalan. Ternyata bonus kesehatannya jauh lebih besar daripada yang saya bayangkan.(jto)






