INTERMITTEN FASTING (LAGI)

joko intarto

Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi

ADA seorang diabetesi bertanya seperti ini:
“Selamat siang, Coach. Saya baru tahu terkena diabetes tipe 2 sekitar setahun yang lalu, tetapi berat badan saya turun dari 58 kilogram menjadi 48 kilogram. Saya menjalani intermittent fasting (IF) 16:8. Oh ya, tinggi badan saya 147 cm.
Yang ingin saya tanyakan:
Apakah aman kalau IF tersebut saya perpanjang? Saya takut jadi kurus berlebihan.
Terima kasih.”

Bacaan Lainnya

Terus terang, saya sulit menjawab pertanyaan itu karena saya bukan dokter, bukan ahli gizi, dan bukan pula tenaga medis. Saya hanyalah seorang diabetesi yang pernah mengalami fase-fase serupa dan sekarang sudah hidup normal tanpa bergantung pada obat diabetes maupun suntik insulin.

Saya harus memberi jawaban, tetapi jawabannya harus aman, bijak, dan sesuai kapasitas sebagai sesama diabetesi. Saya tidak boleh mencoba mendiagnosis atau memberi instruksi medis yang berada di luar kompetensi saya.

Karena itu, saya memberikan jawaban yang tidak menghakimi pilihan IF-nya, mengarahkan pada pemantauan data objektif (gula darah dan berat badan), mendorong konsultasi dengan dokter, serta tidak memberikan saran yang berpotensi berbahaya.

Penurunan Berat Badan

Terkait dengan penurunan berat badan yang terjadi, saya menyarankan agar yang bersangkutan mencermati kondisinya secara objektif. Dengan tinggi badan 147 cm dan berat badan 48 kg, secara kasar IMT-nya sekitar 22,2. Artinya, masih termasuk normal.

Dengan kata lain, persoalan yang lebih mendasar bukan pada “kurus atau tidak kurus”, melainkan:
• Apakah berat badan masih terus turun?
• Apakah gula darahnya sekarang terkendali atau masih tinggi?
• Apakah yang hilang lemak atau massa otot?
• Apakah ada penyakit lain yang menyertai?

Banyak diabetesi yang mengalami penurunan berat badan saat gula darahnya masih tinggi karena tubuh tidak mampu memanfaatkan glukosa dengan baik. Sebelum didiagnosis diabetes, berat badan saya 64 kilogram. Setelah terkena diabetes dengan gula darah 596 mg/dL, berat badan saya turun menjadi 57 kilogram.

Sekarang saya sudah lebih dari 800 hari hidup normal tanpa bergantung pada obat diabetes maupun suntik insulin, dengan berat badan 52,7 kilogram. Gula darah saya relatif normal, berkisar antara 92–135 mg/dL.

Intermittent Fasting

Sering kali para diabetesi terlalu fokus pada durasi IF. Mampu menjalani IF yang “lebih berat” kerap dianggap sebagai sebuah “keberhasilan”. Padahal, bagi para diabetesi, IF hanyalah alat untuk membantu mengendalikan gula darah.

Karena itu, yang perlu menjadi perhatian bukan IF-nya, melainkan:
• Apakah gula darah membaik?
• Apakah berat badan tetap sehat?
• Apakah tubuh tetap bertenaga?
• Apakah massa otot tetap terjaga?

Sederhananya, jika IF 16:8 sudah memberikan hasil yang baik, belum tentu memperpanjang atau meningkatkannya menjadi 18:6 atau bahkan 20:4 akan memberikan manfaat tambahan bagi tubuh.

Dengan IF, gula darah mungkin saja terkendali. Namun, penurunan berat badan belum tentu teratasi. Bisa jadi frekuensi olahraga justru menjadi minimal. Hal-hal seperti ini perlu mendapat perhatian.

Bila berat badan terus turun, tubuh terasa lemas, atau massa otot mulai menyusut, sebaiknya evaluasi kembali pola makan dan konsultasikan kepada dokter atau ahli gizi. Jangan sampai gula darah membaik, tetapi tubuh justru kehilangan terlalu banyak massa otot.

Ini penting karena banyak diabetesi yang terlanjur senang melihat angka timbangan turun. Padahal, yang hilang justru massa otot akibat berkurangnya aktivitas fisik dan olahraga.

Pengalaman Pribadi

Keputusan untuk memperpanjang atau memperpendek jam puasa (IF) sebaiknya dasarkan pada data gula darah, berat badan, dan kondisi tubuh secara keseluruhan. Karena respons setiap orang berbeda, apa yang cocok untuk seseorang belum tentu cocok untuk orang lain.

Menurut saya, yang perlu diperhatikan bukan hanya durasi IF, tetapi juga tren gula darah dan berat badannya. Berat badan 48 kilogram dengan tinggi badan 147 cm sebenarnya masih dalam rentang normal.

Namun, jika berat badan terus turun, sebaiknya dicari penyebabnya. Saya sarankan:
1. Pantau gula darah secara rutin dengan glucometer.
2. Catat berat badan secara berkala.
3. Perhatikan apakah ada gejala lemas atau penyusutan massa otot.
4. Bawa catatan tersebut saat kontrol ke dokter.
5. Keputusan untuk memperpanjang atau menghentikan IF sebaiknya didasarkan pada evaluasi dokter yang mengetahui kondisi kesehatan secara menyeluruh.

Berdasarkan pengalaman pribadi, data-data tersebut lebih bernilai daripada perasaan atau dugaan. Karena itu, glucometer dan catatan harian sering kali menjadi sahabat terbaik diabetesi sekaligus dokter konsultan dalam memantau perkembangan kondisi kesehatan.(jto)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *