WAKTU menunjukkan pukul tiga dini hari.
Ketika sebagian besar warga Tasikmalaya masih terlelap dalam tidur, Engkos Kosasih sudah berdiri di teras rumahnya di Desa Tuguraja, Cihideung, Tasikmalaya, Jawa Barat.
Udara dingin menusuk kulit. Langit masih gelap. Lampu teras yang temaram memantulkan warna hijau muda dinding rumah sederhana berukuran enam kali sepuluh meter yang telah lama menjadi tempatnya membangun kehidupan bersama keluarga.
Di depan rumah itu berdiri sebuah warung kecil berukuran tiga kali tiga meter.
Warung sederhana yang dibangun di atas teras tersebut mungkin tidak menarik perhatian orang yang melintas. Namun bagi Engkos dan istrinya, Komariyah, atau yang akrab dipanggil Kokom, warung itu adalah pusat kehidupan mereka.
Dari situlah mereka membesarkan dua anak.
Dari situlah mereka bertahan menghadapi berbagai perubahan zaman.
Dan dari situlah mimpi-mimpi keluarga kecil itu terus dijaga agar tetap hidup.
Di dalam rumah, Kokom masih merapikan keranjang dan kantong plastik untuk tempat sayuran yang sebentar lagi akan datang dari pasar.
Sementara di salah satu kamar, anak bungsu mereka masih tertidur lelap. Beberapa jam lagi ia harus mengenakan seragam putih abu-abu dan berangkat ke sekolah.
Setiap kali melihat anaknya berangkat sekolah, Engkos selalu merasakan semangat yang sama.
Semangat untuk terus bekerja.
Semangat untuk terus berjuang.
Karena ia percaya, pendidikan adalah jalan yang dapat membawa anak-anaknya menuju kehidupan yang lebih baik.
Itulah sebabnya, di usia 58 tahun, ketika sebagian orang mulai mengurangi aktivitas, Engkos justru masih setia menjemput rezeki sebelum matahari terbit.
Hidup tidak pernah memberi kemudahan secara cuma-cuma kepada Engkos.
Sejak muda, ia memahami bahwa setiap rupiah yang dibawa pulang harus diperjuangkan.
Bertahun-tahun lalu, ia dan Kokom memutuskan membuka warung sayur di depan rumah. Keputusannya sederhana, mereka ingin memiliki usaha sendiri agar dapat memenuhi kebutuhan keluarga dengan lebih mandiri.
Sejak saat itu, kehidupan mereka berjalan dalam ritme yang hampir sama setiap hari.
Pukul tiga dini hari, Engkos berangkat ke pasar.
Pukul lima pagi, sayuran harus sudah tersusun rapi di warung.
Ketika matahari mulai muncul dari balik perbukitan Tasikmalaya, pelanggan pertama biasanya datang.
Ada ibu rumah tangga yang mencari cabai dan bawang.
Ada pedagang makanan yang membutuhkan sayuran segar.
Ada tetangga yang sekadar mampir membeli tomat atau kangkung untuk makan siang.
Hari demi hari berlalu.
Tahun demi tahun berganti.
Warung kecil itu tetap berdiri.
Mungkin tidak membuat mereka kaya raya.
Tetapi cukup untuk menjaga dapur tetap mengepul dan anak-anak tetap bersekolah.
Bagi Engkos, itu sudah lebih dari cukup.
Selama lebih dari lima belas tahun, perjuangannya ditemani sebuah motor Honda Astrea Supra.
Motor tua itu bukan sekadar kendaraan.
Motor itu adalah saksi hidup.
Saksi ketika anak-anaknya tumbuh besar.
Saksi ketika usaha kecil mereka berkembang perlahan.
Saksi ketika keluarga itu melewati masa-masa sulit maupun masa-masa penuh syukur.
Namun usia tidak pernah bisa dilawan.
Seiring waktu, motor yang selama ini menjadi andalannya mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan.
Mesinnya tidak lagi sekuat dulu.
Biaya perawatannya semakin sering muncul.
Sesekali motor itu harus masuk bengkel.
Dan setiap kali itu terjadi, kekhawatiran mulai muncul di hati Engkos.
Bagaimana jika suatu hari kendaraan itu tidak bisa lagi digunakan?
Bagaimana jika ia terlambat ke pasar?
Bagaimana jika usahanya terganggu?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di benaknya.
Karena bagi seorang pedagang sayur, kendaraan bukan sekadar alat transportasi.
Kendaraan adalah bagian dari mata pencaharian.
Tanpa kendaraan yang andal, roda usaha bisa tersendat.
Dan jika usaha tersendat, kehidupan keluarga ikut terkena dampaknya.
Di tengah kegelisahan itulah sebuah impian sederhana tumbuh.
Engkos ingin memiliki motor baru.
Bukan untuk gaya hidup.
Bukan untuk kemewahan.
Ia hanya ingin bekerja dengan lebih tenang.
Ia ingin berangkat ke pasar tanpa dihantui rasa khawatir.
Ia ingin memastikan warung kecil di depan rumah tetap memiliki dagangan setiap pagi.
Setelah mempertimbangkan berbagai pilihan, Engkos menjatuhkan pilihannya pada Honda Vario 160 CBS.
Motor tersebut dikenal memiliki performa yang tangguh, nyaman digunakan, serta didukung jaringan dealer dan bengkel yang luas. Bagi Engkos yang setiap hari mengandalkan kendaraan untuk bekerja, keandalan adalah hal yang sangat penting.
Namun mewujudkan impian tidak selalu mudah.
Sebagai kepala keluarga, ia harus mempertimbangkan segala sesuatunya dengan matang.
Di satu sisi, ia membutuhkan kendaraan baru.
Di sisi lain, ia harus memastikan kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.
Termasuk pendidikan anak bungsunya yang masih duduk di bangku SMA.
Di saat itulah Engkos kembali teringat pada sebuah nama yang telah dikenalnya selama bertahun-tahun.
FIFGROUP.
Lima belas tahun sebelumnya, Honda Astrea Supra yang menemaninya bekerja juga diperoleh melalui pembiayaan FIFGROUP.
Pengalaman itulah yang membangun kepercayaan dalam dirinya.
Ia masih mengingat bagaimana proses pengajuan saat itu berjalan dengan mudah.
Tidak berbelit-belit.
Tidak menyulitkan.
Dan yang terpenting, membantu dirinya memiliki kendaraan yang dibutuhkan untuk mencari nafkah.
Karena itulah, ketika membutuhkan motor baru, langkahnya kembali menuju FIFGROUP melalui layanan FIFASTRA.
“Saya memilih FIFGROUP karena pengalaman saya sebelumnya sangat baik. Prosesnya mudah dan cepat. Cukup membawa KTP dan KK, pengajuan saya langsung diproses,” kenang Engkos.
Melalui pembiayaan FIFASTRA, ia akhirnya dapat memiliki Honda Vario 160 CBS impiannya.
Di Tasikmalaya, harga motor itu Rp28.650.000. Dengan angsuran Rp1,273 juta selama 35 bulan, Engkos jelas tak akan kesulitan membayarnya.
Mungkin bagi sebagian orang, persetujuan pembiayaan hanyalah sebuah proses administratif.
Namun bagi Engkos, kabar itu terasa jauh lebih berarti.
Kabar itu menghadirkan rasa tenang.
Rasa optimistis.
Dan keyakinan bahwa usahanya dapat terus berjalan dengan baik.
Kepala Cabang FIFGROUP Tasikmalaya, Asep Mulyana mengatakan, setiap pelanggan memiliki latar belakang, kebutuhan, dan impian yang berbeda-beda.
Karena itulah FIFGROUP berupaya menghadirkan layanan pembiayaan yang mudah, cepat, dan aman agar masyarakat dapat memperoleh kendaraan yang mendukung aktivitas maupun usaha mereka.
Menurut Asep, kemudahan proses merupakan salah satu komitmen yang terus dijaga.
Selain didukung jaringan layanan yang luas, pelanggan juga mendapatkan berbagai kemudahan pembayaran serta perlindungan yang memberikan rasa aman selama masa pembiayaan.
Namun bagi Asep, yang paling penting bukan hanya soal pembiayaan.
Yang jauh lebih penting adalah bagaimana perusahaan dapat menjadi bagian dari perjalanan pelanggan dalam mewujudkan harapan mereka.
“Kami percaya setiap pelanggan memiliki mimpi dan perjuangannya masing-masing. Karena itu kami ingin hadir lebih dekat, memahami kebutuhan mereka, dan membantu mewujudkan mimpi-mimpi tersebut,” ujarnya.
Kalimat itu terasa sangat dekat dengan kehidupan Engkos.
Sebab sesungguhnya yang sedang diperjuangkan pria itu bukan sekadar sebuah kendaraan.
Melainkan keberlangsungan usaha yang menjadi tumpuan keluarganya.
Hari ketika Honda Vario 160 itu tiba di rumah Engkos menjadi hari yang membahagiakan.
Tidak ada pesta.
Tidak ada perayaan mewah.
Namun ada senyum yang sulit disembunyikan dari wajah Engkos dan Kokom.
Bagi mereka, kendaraan itu bukan sekadar motor baru.
Motor itu adalah teman seperjalanan yang akan membantu menjaga usaha keluarga tetap berjalan.
Kini, setiap pukul tiga dini hari, Engkos kembali melaju menuju pasar dengan perasaan yang berbeda.
Lebih tenang.
Lebih nyaman.
Lebih percaya diri.
Ia tidak lagi dihantui kecemasan yang dulu sering muncul ketika motor lamanya mulai bermasalah.
Kini, ia dapat lebih fokus memilih sayuran terbaik untuk pelanggan-pelanggannya.
Setelah kembali ke rumah, Kokom akan menyusun dagangan satu per satu di warung kecil mereka.
Cabai merah.
Tomat.
Bawang.
Kangkung.
Sawi.
Semua tertata rapi menunggu pembeli yang datang sejak pagi.
Pemandangan sederhana itu mungkin terlihat biasa.
Namun di baliknya tersimpan kerja keras yang tidak pernah berhenti.
Di sudut depan rumah, Honda Astrea Supra tua itu masih ada.
Catnya mulai pudar.
Usianya tidak lagi muda.
Namun setiap kali melihatnya, Engkos selalu teringat perjalanan panjang yang pernah mereka lalui bersama.
“Motor itu pernah mengantar kami mencari nafkah. Dan motor itu pernah membantu kami membesarkan anak-anak,” kata dia.
Yah, Astrea Supra itu pernah menjadi bagian dari perjuangan sebuah keluarga sederhana yang tidak pernah menyerah pada keadaan.
Kini sebuah babak baru dimulai.
Honda Vario 160 CBS itu melanjutkan perjalanan yang pernah dimulai oleh motor tua itu.
Kendaraannya boleh berganti.
Waktu terus berjalan.
Usia terus bertambah.
Namun satu hal tetap sama.
Harapan yang hidup di hati Engkos Kosasih.
Sebab bagi pria sederhana itu, mimpi bukanlah sesuatu yang datang begitu saja.
Mimpi harus diperjuangkan.
Mimpi harus dijaga.
Dan kadang-kadang, mimpi harus dijemput ketika sebagian besar orang masih terlelap dalam tidur.
Besok dini hari, ketika langit Tasikmalaya masih gelap dan fajar belum menyingsing, Engkos akan kembali menyalakan motornya dan berangkat menuju pasar.
Seperti hari-hari sebelumnya.
Seperti tahun-tahun sebelumnya.
Karena ia percaya, selama masih mau berusaha, selalu ada harapan yang menunggu di ujung jalan.
Dan selama masih ada harapan yang ingin diwujudkan, ia akan terus menjemput mimpi itu, bahkan sebelum fajar menyingsing. (wsa)






