Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi
SUATU hari, Bu Ulfa, yang baru saya kenal, “curhat” melalui aplikasi WhatsApp.
“Saya stres, Pak. Sudah beberapa minggu ini saya menjalani diet karbohidrat yang ketat. Saya juga menerapkan intermittent fasting 16:8. Tetapi gula darah saya masih tetap tinggi, yakni mencapai tiga digit,” katanya.
“Tiga digit itu berapa?” tanya saya.
“Gula darah dua jam setelah makan berkisar antara 105 mg/dL sampai 115 mg/dL,” jawabnya.
“Gula darah Ibu sudah bagus. Lalu apa masalahnya?” tanya saya, sedikit heran.
“Di grup Facebook banyak yang posting gula darahnya bisa sekitar 80 sampai 90 mg/dL. Berarti gula darah saya masih tinggi. Saya takut suatu saat ginjal saya rusak,” jawabnya.
“Ibu diabetes atau tidak?” tanya saya lagi.
“Iya, Pak. Saya diabetes. Dulu gula darah dua jam setelah makan saya pernah mencapai 310 mg/dL. Dokter kemudian memberi obat. Berangsur-angsur gula darah saya turun menjadi sekitar 125 mg/dL. Setelah obat dihentikan, saya diet karbohidrat dan intermittent fasting 16:8 sampai sekarang,” terangnya.
“Oh… saya kira di situlah letak salah pahamnya,” kata saya.
“Angka 70–90 mg/dL yang Ibu lihat itu merupakan kisaran gula darah orang yang tidak menderita diabetes. Sedangkan Ibu seorang diabetesi, sama seperti saya. Jadi, jangan menggunakan patokan orang yang tidak diabetes untuk menilai kondisi diri sendiri yang diabetes,” jawab saya.
Bu Ulfa terdiam beberapa saat.
“Jadi gula darah saya tidak jelek, Pak?” tanyanya.
“Justru angka itu sangat bagus. Dari 310 mg/dL bisa turun menjadi sekitar 105–115 mg/dL dan mempertahankannya tanpa obat merupakan kemajuan yang luar biasa,” kata saya.
Salah Paham Membaca Tabel
Percakapan singkat di atas menunjukkan bahwa masih banyak diabetesi yang keliru membaca tabel kategori kadar gula darah. Akibatnya, mereka justru cemas ketika sebenarnya hasil pemeriksaannya sudah baik.
Secara umum, tabel membagi kadar gula darah menjadi tiga kategori, yaitu normal, pra-diabetes, dan diabetes. Pengelompokan ini didasarkan pada hasil pemeriksaan gula darah puasa maupun gula darah dua jam setelah makan atau setelah uji toleransi glukosa.
Kesalahan yang sering terjadi adalah diabetesi melihat angka pada kolom normal, lalu menjadikannya sebagai target pribadi. Ketika hasil pemeriksaan masih berada di atas kisaran tersebut, mereka merasa gagal, padahal kenyataannya tidak demikian.
Perlu dipahami bahwa status diabetes seseorang tidak otomatis hilang hanya karena kadar gula darahnya sudah turun ke angka yang baik. Maka, seorang diabetesi yang berhasil menjaga gula darah dua jam setelah makan pada kisaran 105–115 mg/dL bukan berarti kondisinya buruk. Justru itu menunjukkan pengendalian gula darahnya berjalan dengan baik.
Bahkan, bagi banyak diabetesi, mempertahankan kadar gula darah yang stabil jauh lebih penting daripada memaksakan diri mengejar angka serendah mungkin. Sebab, gula darah yang terlalu rendah (hipoglikemia) juga dapat membahayakan.
Karena itu, jangan mudah minder jika melihat unggahan orang lain di media sosial yang menunjukkan angka 80-an atau 90-an. Belum tentu kondisi mereka sama dengan kondisi kita. Bisa jadi mereka memang tidak menderita diabetes, atau diperiksa dalam kondisi yang berbeda.
Yang terpenting bukanlah berlomba mendapatkan angka paling rendah, melainkan menjaga agar gula darah tetap berada dalam kisaran yang aman, stabil, dan sesuai dengan target yang dianjurkan oleh dokter.
Sebagai diabetesi, kita tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain. Bandingkanlah kondisi diri kita saat ini dengan kondisi kita beberapa bulan atau beberapa tahun yang lalu. Kalau dulu gula darah mencapai 300 mg/dL, lalu sekarang bisa dipertahankan di kisaran 100–120 mg/dL, artinya itu sebuah kemajuan yang patut disyukuri.(jto)






