RAPOR DIABETES

joko intarto

Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi

“Pak, Anda sudah pernah tes HbA1c atau belum?”

Bacaan Lainnya

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari seorang diabetesi kepada temannya seusai mereka berolahraga pagi.

“Hb… apa? Saya rutin kok cek gula darah pakai alat di rumah,” jawab temannya dengan wajah bingung.

“Nah, itu memang penting. Tapi HbA1c berbeda. Kalau cek gula darah hanya menunjukkan kondisi saat itu saja, HbA1c adalah rapor pengendalian gula darah selama dua hingga tiga bulan terakhir.”

Percakapan sederhana itu ternyata cukup sering terjadi. Banyak penyandang diabetes rajin memeriksa gula darah harian, tetapi belum pernah menjalani pemeriksaan HbA1c.

Padahal, pemeriksaan inilah yang menjadi salah satu tolok ukur utama keberhasilan pengelolaan diabetes.

HbA1c adalah pemeriksaan darah yang menggambarkan rata-rata kadar gula darah selama sekitar dua hingga tiga bulan terakhir. Pemeriksaan ini mengukur persentase hemoglobin—protein di dalam sel darah merah yang membawa oksigen—yang berikatan dengan glukosa.

Semakin tinggi kadar gula darah dalam jangka panjang, semakin tinggi pula nilai HbA1c.
Karena sel darah merah memiliki usia sekitar 120 hari, hasil HbA1c tidak mudah dipengaruhi oleh apa yang baru saja kita makan atau minum. Itulah sebabnya pemeriksaan ini sering disebut sebagai “rapor” pengendalian diabetes.

Mengapa HbA1c Penting?

Bagi penyandang diabetes, angka HbA1c memberikan gambaran apakah pola makan, olahraga, obat-obatan, dan gaya hidup yang dijalani selama beberapa bulan terakhir sudah berhasil mengendalikan gula darah.

Hasil pemeriksaan ini juga membantu dokter menentukan apakah terapi yang sedang dijalani sudah tepat atau perlu disesuaikan.

Selain itu, menjaga HbA1c tetap dalam target akan membantu menurunkan risiko berbagai komplikasi diabetes, seperti kerusakan mata, ginjal, saraf, maupun penyakit jantung.

Siapa yang Perlu Menjalani Tes HbA1c?

Pemeriksaan HbA1c terutama dianjurkan bagi:
– Penyandang diabetes tipe 1 maupun tipe 2.
– Orang yang baru didiagnosis diabetes.
– Mereka yang memiliki risiko tinggi terkena diabetes atau prediabetes.
– Penyandang diabetes yang sedang menjalani evaluasi pengobatan.

Bagi masyarakat umum, HbA1c juga dapat digunakan sebagai salah satu pemeriksaan untuk mendeteksi diabetes maupun prediabetes.

Mengapa Harus Berkala?

Diabetesi tidak cukup hanya mengandalkan pemeriksaan gula darah sewaktu. Gula darah harian memang penting, tetapi nilainya bisa berubah-ubah tergantung makanan, aktivitas, maupun kondisi tubuh saat itu.

Sebaliknya, HbA1c memberikan gambaran yang lebih utuh karena mencerminkan pengendalian gula darah selama beberapa bulan.

Umumnya, pemeriksaan HbA1c dilakukan setiap tiga bulan apabila target gula darah belum tercapai atau ada perubahan terapi. Bila kondisi sudah stabil dan target tercapai secara konsisten, pemeriksaan biasanya cukup dilakukan setiap enam bulan. Dengan pemeriksaan berkala, dokter dan pasien dapat mengevaluasi apakah strategi pengelolaan diabetes sudah berjalan dengan baik.

Kabar baiknya, pemeriksaan HbA1c kini semakin mudah diakses. Tes ini dapat dilakukan di rumah sakit, laboratorium klinik, klinik penyakit dalam, klinik diabetes, maupun sejumlah puskesmas yang telah memiliki fasilitas pemeriksaan HbA1c.

Pemeriksaannya pun praktis. Tidak perlu berpuasa. Petugas hanya mengambil sedikit sampel darah, kemudian hasilnya biasanya dapat diketahui pada hari yang sama atau keesokan harinya.

Bagaimana jika hasil HbA1c masih tinggi? Jangan berkecil hati. Ingatlah bahwa HbA1c adalah rapor selama dua hingga tiga bulan terakhir.

Nilai yang belum memuaskan bukan berarti usaha selama ini sia-sia. Justru hasil tersebut menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki pola makan, meningkatkan aktivitas fisik, lebih disiplin mengonsumsi obat, serta berkonsultasi dengan dokter bila diperlukan.

Ingat, yang terpenting bukan mengejar angka semata, melainkan menjaga tubuh tetap sehat dan mencegah komplikasi diabetes di masa depan.

Setiap langkah kecil yang dilakukan secara konsisten akan tercermin pada hasil HbA1c berikutnya. Dan ketika rapor itu membaik, bukan hanya angkanya yang turun, tetapi juga risiko komplikasi dan kualitas hidup yang semakin meningkat.(jto)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *