Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi
PERNAHKAH Anda melihat seseorang yang tubuhnya tampak kurus, lengannya kecil, kakinya ramping, tetapi perutnya justru menonjol? Fenomena seperti ini sangat sering dijumpai, terutama pada orang dewasa dan lanjut usia.
Menurut standar Kesehatan, lingkar perut pria Indonesia tidak lebih dari 90 sentimeter. Sedangkan lingkar perut perempuan tidak melebihi 80 sentimeter.
Lucunya, banyak orang menganggap perut buncit pada orang bertubuh kurus hanyalah bagian dari proses penuaan atau sekadar tanda hidup berkecukupan. Apalagi jika berat badan masih tergolong normal, mereka merasa tidak perlu khawatir.
Padahal, anggapan tersebut bisa menyesatkan. Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai TOFI (Thin Outside, Fat Inside) atau sering disebut skinny fat.
Secara fisik seseorang memang tampak kurus, tetapi di dalam tubuhnya tersimpan lemak berbahaya, terutama di rongga perut. Kondisi ini merupakan peringatan dini (early warning) terhadap meningkatnya risiko diabetes tipe 2 dan berbagai penyakit metabolik lainnya.
Mengapa orang kurus bisa berperut buncit? Penyebab utamanya adalah penumpukan lemak viseral, yaitu lemak yang berada jauh di dalam rongga perut dan menyelimuti organ-organ penting seperti hati, pankreas, dan usus. Berbeda dengan lemak di bawah kulit yang dapat dicubit, lemak viseral justru tersembunyi dan jauh lebih berbahaya.
Ada beberapa penyebab utama mengapa lemak viseral mudah menumpuk. Perubahan hormon akibat bertambahnya usia, stres berkepanjangan, terlalu banyak mengonsumsi gula dan rendahnya massa otot atau sarkopenia merupakan penyebab utamanya.
Lemak viseral secara biologis menghasilkan berbagai zat yang mengganggu metabolisme tubuh, yang menyebab hati mengalami perlemakan (fatty liver) dan kemampuannya mengatur kadar gula darah menjadi terganggu.
Lemak viseral menghasilkan berbagai zat pemicu peradangan kronis yang menyebabkan terjadi resistensi insulin. Gula yang seharusnya masuk ke dalam sel justru tetap berada di dalam aliran darah. Lama-kelamaan kadar gula darah meningkat dan risiko diabetes tipe 2 pun semakin besar.
Masalahnya menjadi semakin berat apabila seseorang juga memiliki massa otot yang rendah akibat malas berolahraga. Padahal, otot merupakan tempat utama penyimpanan glukosa setelah makan. Ketika massa otot berkurang, tubuh kehilangan “gudang” untuk menyimpan gula sehingga kadar gula darah lebih mudah melonjak.
Banyak orang merasa aman karena berat badannya normal. Padahal, angka timbangan tidak selalu mencerminkan kesehatan metabolik. Seseorang yang kurus tetapi memiliki perut buncit dapat memiliki risiko diabetes yang sama.
Karena itu, jangan abaikan lingkar perut. Perut buncit bukan sekadar masalah penampilan, melainkan sinyal bahwa tubuh sedang mengalami gangguan metabolisme.
Kabar baiknya, lemak viseral termasuk jenis lemak yang relatif responsif terhadap perubahan gaya hidup. Maka untuk mengatasi perut buncit, lakukan beberapa langkah sederhana berikut ini:
• Batasi konsumsi gula dan minuman manis;
• Kelola stres dengan baik;
• Kakukan aktivitas fisik secara rutin;
• Tambahkan latihan beban untuk meningkatkan massa otot;
• Kombinasikan dengan olahraga aerobik.
Pada usia saya yang menuju 58 tahun, lingkar perut saya dalam dua bulan terakhir ini telah menyusut dari 88 sentimeter menjadi 85 sentimeter. Penyusutan itu terjadi berkat olahraga jogging setiap hari dan bersepeda setiap akhir pekan. (jto)






