Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi
“Saya sedang berjuang supaya diabetes saya remisi.” Kalimat seperti itu semakin sering terdengar di kalangan diabetesi. Banyak orang berlomba-lomba menurunkan berat badan, mengubah pola makan, berolahraga lebih keras, bahkan mencoba berbagai metode yang sedang viral, dengan satu tujuan: mencapai status remisi diabetes.
Semangat itu tentu patut diapresiasi. Masalahnya, tidak sedikit yang salah memahami arti remisi.
Begitu dinyatakan remisi, mereka merasa telah sembuh. Sebagian mulai kembali menikmati makanan manis, berhenti berolahraga, atau menghentikan kontrol ke dokter. Mereka menganggap perjuangan telah selesai. Padahal, justru di situlah kesalahan berpikir yang cukup berbahaya.
Remisi bukanlah kesembuhan. Remisi adalah kondisi ketika kadar gula darah kembali berada pada kisaran normal atau hampir normal dalam jangka waktu tertentu tanpa menggunakan obat penurun gula darah.
Artinya, diabetes memang tidak tampak lagi dari hasil pemeriksaan. Namun, kecenderungan tubuh untuk mengalami diabetes tetap ada.
Bayangkan seperti api yang berhasil dipadamkan. Api memang sudah tidak terlihat, tetapi bara masih tersimpan di bawah abu. Jika diberi bahan bakar lagi, api dapat menyala kembali.
Begitu pula diabetes. Selama faktor-faktor pemicunya masih ada—seperti kelebihan berat badan, pola makan yang buruk, kurang bergerak, atau penurunan fungsi pankreas—gula darah bisa kembali meningkat kapan saja.
Hingga saat ini, diabetes tipe 2 belum dapat disembuhkan secara permanen. Yang dapat dilakukan adalah mengelolanya dengan baik sehingga kadar gula darah tetap terkendali dan risiko komplikasi dapat ditekan serendah mungkin.
Karena itu, remisi sebenarnya bukanlah garis finis. Remisi hanyalah salah satu kondisi dalam perjalanan panjang pengelolaan diabetes.
Bahkan setelah mencapai remisi, seseorang tetap perlu menjaga pola makan, aktif bergerak, tidur cukup, mengendalikan stres, serta rutin memeriksa kadar gula darah dan melakukan evaluasi kesehatan.
Jangan Mengejar Gelar
Ada kecenderungan sebagian diabetesi menjadikan remisi sebagai semacam “gelar kehormatan”. Mereka merasa lebih berhasil dibandingkan diabetesi lain yang masih mengonsumsi obat.
Padahal, ukuran keberhasilan mengelola diabetes bukanlah status remisi. Ada banyak diabetesi yang tidak pernah mencapai remisi, tetapi mampu menjaga kadar gula darah tetap stabil selama bertahun-tahun. Mereka tetap produktif, terhindar dari komplikasi, dan menikmati kualitas hidup yang baik.
Sebaliknya, ada pula yang pernah mencapai remisi, tetapi beberapa tahun kemudian gula darahnya kembali melonjak karena kembali ke pola hidup lama.
Tujuan utama seorang diabetesi seharusnya bukan mengejar label “remisi”. Tujuan yang jauh lebih penting adalah menjaga gula darah tetap berada dalam rentang aman setiap hari.
Jika suatu saat remisi berhasil dicapai, anggaplah itu sebagai bonus dari gaya hidup sehat, bukan tujuan akhir.
Selama gula darah terkontrol, tekanan darah baik, kadar kolesterol terjaga, berat badan ideal, dan komplikasi dapat dicegah, seorang diabetesi dapat menjalani hidup yang panjang, aktif, dan berkualitas. Itu sudah cukup.(jto)






