Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi
BARU-baru ini saya membaca berita di Detik tentang seorang wanita berusia 29 tahun di Surabaya yang didiagnosis menderita diabetes tipe 1,5. Terus terang, saya baru tahu bahwa ternyata ada jenis diabetes yang disebut tipe 1,5. Selama ini kita lebih akrab dengan diabetes tipe 1 dan tipe 2.
Ternyata, diabetes tipe 1,5 memang ada. Dalam dunia kedokteran, penyakit ini dikenal dengan nama Latent Autoimmune Diabetes in Adults (LADA) atau disingkat LADA. Penyakit ini tergolong langka sehingga tidak banyak dibicarakan.
Penyakit ini dijuluki diabetes tipe 1,5 karena memiliki sifat yang berada di tengah-tengah antara Type 1 Diabetes dan Type 2 Diabetes.
Pada diabetes tipe 1, tubuh hampir tidak bisa memproduksi insulin karena sel-sel penghasil insulin di pankreas diserang oleh sistem kekebalan tubuh. Akibatnya, penderita harus menggunakan insulin sejak awal.
Sedangkan pada diabetes tipe 2, pankreas sebenarnya masih memproduksi insulin. Masalahnya, tubuh tidak lagi merespons insulin dengan baik. Kondisi ini disebut resistensi insulin. Karena itu, diabetes tipe 2 sering berkaitan dengan kelebihan berat badan, pola makan yang kurang sehat, dan kurang berolahraga.
Nah, LADA berada di antara keduanya. Penyakit ini juga disebabkan oleh serangan sistem kekebalan tubuh, seperti diabetes tipe 1.
Bedanya, kerusakan pankreas berlangsung sangat lambat. Akibatnya, gejalanya baru muncul saat seseorang sudah dewasa dan pada awalnya tampak seperti diabetes tipe 2.
Mengapa sering keliru didiagnosis?
Saat pertama kali didiagnosis, penderita LADA biasanya masih mampu menghasilkan sedikit insulin. Karena itu, dokter sering mengira pasien mengalami diabetes tipe 2 dan memberikan obat minum.
Pada awalnya, obat tersebut memang bisa membantu menurunkan gula darah. Namun, beberapa bulan atau beberapa tahun kemudian, kadar gula darah kembali naik karena kemampuan pankreas memproduksi insulin terus menurun.
Barulah setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, diketahui bahwa penyebabnya bukan diabetes tipe 2, melainkan LADA.
Siapa yang perlu waspada?
LADA umumnya muncul pada orang dewasa. Kebanyakan berusia di atas 30 tahun, meskipun bisa juga terjadi pada usia yang lebih muda.
Beberapa ciri yang sering ditemukan antara lain:
– Berat badan normal atau bahkan kurus,
– Tidak memiliki faktor risiko khas diabetes tipe 2,
– Gula darah sulit dikendalikan meskipun sudah minum obat,
dalam beberapa waktu akhirnya membutuhkan suntikan insulin,
atau memiliki riwayat penyakit autoimun dalam keluarga.
Tentu saja, ciri-ciri tersebut bukan berarti seseorang pasti menderita LADA. Namun, kondisi itu patut dicurigai sehingga perlu pemeriksaan lebih lanjut.
Bisakah dicegah? Sayangnya, hingga sekarang belum ada cara untuk mencegah LADA. Penyebabnya adalah gangguan pada sistem kekebalan tubuh, bukan semata-mata karena pola makan atau gaya hidup.
Meski demikian, kita tetap bisa mengantisipasi dampaknya dengan mengenali gejalanya sejak dini. Jika seseorang masih relatif muda, tidak gemuk, tetapi gula darahnya sulit dikendalikan dengan obat minum, jangan ragu berkonsultasi kembali kepada dokter.
Bila perlu, mintalah pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan apakah benar diabetes tipe 2 atau justru LADA.
Kabar baiknya, LADA tetap bisa dikendalikan. Kuncinya adalah diagnosis yang tepat dan pengobatan yang sesuai. Sebagian besar penderita pada akhirnya memang membutuhkan insulin, tetapi itu bukan berarti hidup mereka akan berakhir.
Dengan pola makan yang sehat, rutin berolahraga, menjaga berat badan ideal, memantau gula darah secara berkala, serta mengikuti anjuran dokter, penderita LADA tetap dapat hidup aktif dan produktif.
Mengenal diabetes tipe 1,5 bukan untuk membuat kita takut, melainkan agar kita semakin memahami bahwa diabetes ternyata tidak hanya terdiri atas tipe 1 dan tipe 2. Ada jenis lain yang memang lebih jarang, tetapi sama pentingnya untuk dikenali agar tidak salah penanganan.(jto)






