HIPOGLIKEMIA

joko intarto

Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi

SEORANG tetangga saya, penyandang diabetes, suatu pagi dilarikan ke rumah sakit. Ia ditemukan dalam kondisi tidak sadar di rumahnya. Seorang tetangga lain yang berprofesi sebagai dokter menduga penyebabnya adalah hipoglikemia. Kok bisa?

Bacaan Lainnya

Selama ini kebanyakan diabetesi lebih sibuk menurunkan gula darah. Padahal, diabetesi juga bisa mengalami kondisi gula darah yang terlalu rendah atau hipoglikemia. Dalam kondisi tertentu, hipoglikemia bahkan dapat mengancam nyawa hanya dalam hitungan menit.

Karena itu, setiap diabetesi, anggota keluarga, dan orang-orang di sekitarnya perlu mengenali kondisi hipoglikemia.

Hipoglikemia adalah keadaan ketika kadar gula darah turun di bawah 70 mg/dL. Angka tersebut diketahui melalui pemeriksaan Gula Darah Sewaktu (GDS), baik menggunakan glukometer di rumah maupun pemeriksaan di fasilitas kesehatan.

Sebagai gambaran, kadar gula darah diabetesi umumnya dibagi sebagai berikut:
• Di atas 200 mg/dL: hiperglikemia (terlalu tinggi).
• Di bawah 180 mg/dL: target 1–2 jam setelah makan.
• 70–130 mg/dL: target sebelum makan.
• Di bawah 70 mg/dL: hipoglikemia atau gula darah terlalu rendah.

Mengapa Hipoglikemia Berbahaya?

Glukosa adalah bahan bakar utama bagi otak. Ketika persediaannya menurun drastis, otak akan kekurangan energi. Tubuh kemudian mengirimkan sinyal bahaya agar kita segera mencari sumber gula.

Hipoglikemia biasanya terjadi karena keseimbangan antara obat, makanan, dan aktivitas fisik terganggu. Ada beberapa faktor yang sering menjadi penyebab.

Pertama, dosis obat terlalu tinggi. Misalnya penggunaan insulin atau obat diabetes seperti glimepirid dan glibenklamid melebihi kebutuhan tubuh.

Kedua, terlambat makan atau melewatkan jam makan. Obat tetap bekerja menurunkan gula darah, tetapi tidak ada cukup karbohidrat yang masuk ke dalam tubuh.

Ketiga, aktivitas fisik terlalu berat. Berolahraga lebih lama atau lebih berat dari biasanya tanpa tambahan makanan membuat tubuh menghabiskan lebih banyak glukosa.

Keempat, mengonsumsi alkohol, terutama saat perut kosong. Alkohol menghambat hati melepaskan cadangan glukosa sehingga gula darah dapat turun drastis.

Gejala Hipoglikemia

Saat gula darah mulai turun, tubuh akan mengeluarkan hormon adrenalin sebagai alarm darurat. Gejala awal yang sering muncul antara lain:
• Keluar keringat dingin,
• Tangan gemetar,
• Wajah pucat,
• Jantung berdebar,
• Lapar yang sangat hebat,
• Tubuh lemas,
• Sulit berkonsentrasi,
• Mudah marah,
• Bicara mulai tidak jelas atau melantur.

Bila tidak segera ditangani, kondisinya dapat berkembang menjadi:
• Berjalan sempoyongan,
• Kejang,
• Penurunan kesadaran,
• Hingga pingsan atau koma.

Apa yang Harus Dilakukan?

Apabila diabetesi masih sadar dan masih bisa menelan, lakukan Aturan 15–15 (Rule of 15).
Langkah pertama, segera berikan sekitar 15 gram karbohidrat yang cepat diserap tubuh.
Misalnya salah satu dari berikut ini:
• Tiga hingga empat tablet glukosa; atau
• Tiga sendok teh gula pasir yang dilarutkan dalam air (air gula); atau
• Sekitar 150 ml minuman manis biasa (bukan yang rendah gula); atau
• Satu sendok makan madu; atau
• Beberapa butir permen gula.

Langkah kedua, tunggu selama 15 menit. Biarkan penderita beristirahat agar gula dapat diserap tubuh.

Langkah ketiga, periksa kembali gula darah. Jika masih di bawah 70 mg/dL atau gejalanya belum membaik, ulangi pemberian 15 gram karbohidrat cepat serap, lalu tunggu lagi selama 15 menit.

Setelah gula darah kembali normal dan waktu makan berikutnya masih cukup lama, berikan makanan ringan yang mengandung karbohidrat dan protein, misalnya sepotong roti dan telur rebus atau biskuit dengan susu rendah gula. Tujuannya agar gula darah tidak turun kembali.

Bagaimana kalau sudah dalam kondisi pingsan? Inilah kondisi yang paling berbahaya.

Jangan pernah memasukkan makanan, minuman, gula, madu, ataupun obat ke dalam mulut orang yang tidak sadar. Tindakan tersebut dapat menyebabkan tersedak dan menyumbat saluran napas.

Segera baringkan penderita dengan posisi miring agar jalan napas tetap terbuka, lalu hubungi ambulans atau segera bawa ke Unit Gawat Darurat (UGD). Di rumah sakit, pasien akan mendapatkan glukosa melalui infus atau suntikan sesuai kondisinya.

Hipoglikemia adalah keadaan darurat, tetapi dapat ditangani dengan baik bila dikenali sejak dini. Karena itu, setiap diabetesi sebaiknya selalu membawa “bekal darurat”, seperti beberapa butir permen, gula pasir dalam sachet, atau tablet glukosa ketika bepergian.

Bagi diabetesi, menjaga gula darah bukan hanya soal mencegah agar tidak terlalu tinggi. Sama pentingnya adalah memastikan gula darah tidak turun terlalu rendah. Keduanya sama-sama berbahaya dan sama-sama harus dihindari.

Semoga bermanfaat.(jto)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *