RISKS ID – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan pemerintah akan mengutamakan pemanfaatan gas dari Proyek Strategis Nasional (PSN) LNG Abadi Blok Masela untuk memenuhi kebutuhan energi nasional. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri.
Penegasan itu disampaikan Bahlil saat menghadiri peletakan batu pertama proyek LNG Abadi Blok Masela di Desa Lermatang, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, Kamis (16/7/2026). Menurutnya, mayoritas produksi gas dari proyek tersebut akan dialokasikan bagi pasar domestik, sedangkan sisanya tetap membuka peluang untuk ekspor.
“Nanti gasnya 60 persen minimal untuk memenuhi kebutuhan domestik dan 40 persen maksimal untuk kami melakukan ekspor,” kata Bahlil.
Bahlil mengatakan dimulainya pembangunan proyek ini menandai babak baru setelah pengembangannya mengalami penundaan selama bertahun-tahun. Ia berharap operator proyek, INPEX Masela Ltd, dapat mempercepat tahapan pekerjaan sehingga target konstruksi yang dijadwalkan mulai pada 2027 dapat berjalan sesuai rencana. “Blok Abadi Masela ini puluhan tahun tertunda, tidak selesai-selesai. Setelah akhirnya sudah ada keputusan dan kajian, saya minta kepada Inpex untuk segera jalan. Sekarang alhamdulillah sudah berjalan dan tahun 2027 sudah masuk tahap konstruksi,” ujarnya.
Dikutip dari infopublik.id, Proyek LNG Abadi Blok Masela memiliki nilai investasi sekitar USD21 miliar atau setara Rp342 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar USD1 miliar dialokasikan untuk penerapan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) sebagai langkah mengurangi emisi karbon sekaligus mendukung target transisi menuju energi yang lebih bersih.
Secara produksi, fasilitas di Laut Arafura tersebut ditargetkan mampu menghasilkan 9,5 juta ton LNG per tahun, sekitar 35 ribu barel kondensat per hari, serta 150 juta kaki kubik gas pipa per hari. Selain memperkuat pasokan energi nasional, proyek strategis ini juga diperkirakan membuka sekitar 12.000 lapangan kerja selama masa konstruksi dan menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi di kawasan timur Indonesia.






