Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi
BELUM lama ini saya menyaksikan sebuah video pendek di media sosial. Durasinya hanya sekitar tiga menit, tetapi isinya cukup membuat saya geleng-geleng kepala.
Video itu memperlihatkan seseorang berpenampilan seperti ustad sedang “mengobati” penyandang diabetes. Caranya unik, bahkan terlihat ajaib. Ia mengaku mengeluarkan gula dari dalam tubuh pasien melalui pusar.
Cairan kental berwarna putih kecokelatan yang keluar dari pusar itu kemudian ditunjukkan sebagai “gula penyebab diabetes.”
Bagi orang awam, tontonan seperti ini mungkin tampak meyakinkan. Apalagi jika dibumbui dengan testimoni pasien yang mengaku sembuh.
Namun, benarkah demikian? Seorang dokter yang juga melihat video tersebut sampai mengunggah tanggapan dengan nada kesal. Menurutnya, praktik seperti itu merupakan contoh pseudosains.
Apa sebenarnya pseudosains? Secara sederhana, pseudosains adalah klaim yang tampak ilmiah, tetapi sebenarnya tidak didukung oleh bukti ilmiah yang dapat diuji dan dipertanggungjawabkan.
Pelakunya sering menggunakan istilah-istilah medis, memakai atribut yang meyakinkan, atau menunjukkan “hasil” yang terlihat nyata. Namun, ketika ditelusuri lebih jauh, tidak ada penelitian yang membuktikan bahwa metode tersebut benar-benar bekerja.
Dalam kasus video tadi, hingga kini tidak ada satu pun penelitian ilmiah yang menunjukkan bahwa gula penyebab diabetes dapat dikeluarkan melalui pusar. Dengan demikian, klaim dukun itu tidak didukung fakta ilmiah sama sekali. Kalau memang semudah itu, tentu rumah sakit di seluruh dunia sudah lama menerapkannya.
Salah Paham tentang Diabetes
Banyak orang mengira diabetes terjadi karena gula “menumpuk” di dalam tubuh. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu.
Pada diabetes, gula (glukosa) memang meningkat di dalam darah. Namun penyebabnya adalah gangguan produksi insulin, kerja insulin yang tidak efektif, atau kombinasi keduanya. Bukan karena ada gumpalan atau cairan gula yang bisa dikeluarkan dari tubuh seperti menguras air dari sebuah wadah. Karena itu, tidak ada prosedur medis yang bertujuan “mengeluarkan gula” dari pusar, telapak kaki, telinga, atau bagian tubuh lainnya.
Sejauh ini, pengendalikan gula darah secara ilmuah atau berdasarkan ilmu pengetahuan dilakukan melalui pola makan sehat, aktivitas fisik, obat-obatan bila diperlukan, serta pemantauan gula darah secara teratur. Tidak ada teknik ‘’mengeluarkan’’ gula dari dalam tubuh seperti ‘’menyedot’’ cairan gula dan semacamnya.
Bahaya yang Sesungguhnya
Masalah terbesar dari pseudosains bukan sekadar klaimnya yang tidak masuk akal. Yang lebih berbahaya adalah ketika penyandang diabetes menjadi yakin bahwa dirinya sudah sembuh.
Akibatnya, ia berhenti minum obat, tidak lagi memeriksakan gula darah, dan menunda berobat ke dokter. Sementara itu, kadar gula darah terus tinggi tanpa disadari.
Diabetes memang sering dijuluki silent disease. Pada tahap awal, penyakit ini bisa tidak menimbulkan keluhan apa pun. Namun diam-diam, gula darah yang tidak terkendali dapat merusak pembuluh darah dan saraf.
Komplikasinya bisa berupa serangan jantung, stroke, gagal ginjal, gangguan penglihatan hingga kebutaan, serta luka pada kaki yang sulit sembuh dan akhirnya memerlukan amputasi.
Jadilah Konsumen yang Kritis
Di era media sosial, informasi kesehatan datang dari mana saja. Sayangnya, tidak semuanya benar. Karena itu, setiap kali menemukan pengobatan yang terdengar terlalu mudah atau menjanjikan kesembuhan instan, ada baiknya kita bertanya terlebih dahulu.
• Apakah ada penelitian yang membuktikannya?
• Apakah metode itu diakui oleh dunia kedokteran?
• Apakah manfaatnya lebih besar daripada risikonya?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu dapat menyelamatkan kita dari jebakan pseudosains.
Sebagai diabetesi, saya memahami betul bahwa setiap orang ingin sembuh. Harapan itulah yang sering dimanfaatkan oleh orang-orang yang menawarkan pengobatan tanpa dasar ilmiah. Harapan tentu penting. Namun harapan harus berjalan bersama akal sehat.
Jangan mudah percaya pada sesuatu hanya karena videonya viral atau testimoni pasiennya terdengar meyakinkan. Dalam dunia kesehatan, bukti ilmiah selalu lebih penting daripada sensasi. Alih-laih sembuh, malah kena PHP alias pemberi harapan palsu.(jto)






