Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi
NAMA Indra Bekti sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia. Presenter dan artis yang dikenal ceria itu kembali menjadi perhatian publik pada tahun 2025. Kali ini bukan karena acara televisi yang dibawakannya, melainkan karena ia mengaku didiagnosis menderita fatty liver atau perlemakan hati.
Pengakuan Indra Bekti menarik perhatian banyak orang. Selama ini, banyak orang mengira fatty liver hanya dialami oleh mereka yang gemar mengonsumsi minuman beralkohol. Bekti justru mengaku tidak mengonsumsi alkohol. Lalu, mengapa ia bisa terkena fatty liver?
Ternyata, anggapan bahwa fatty liver selalu berkaitan dengan alkohol tidak sepenuhnya benar. Saat ini, sebagian besar kasus merupakan non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD), yaitu perlemakan hati yang tidak disebabkan oleh alkohol.
Penyakit ini terjadi ketika lemak menumpuk di dalam sel-sel hati sehingga mengganggu fungsinya.
Penyebabnya beragam. Berat badan berlebih, obesitas, diabetes, resistensi insulin, kolesterol dan trigliserida tinggi, konsumsi makanan tinggi gula dan lemak, kebiasaan mengonsumsi minuman berpemanis, serta kurang bergerak merupakan faktor risiko yang paling sering ditemukan.
Dengan kata lain, fatty liver lebih banyak berkaitan dengan gangguan metabolisme dan gaya hidup daripada kebiasaan mengonsumsi alkohol.
Bagi para diabetesi, fatty liver bukanlah penyakit yang asing. Bahkan, keduanya sering berjalan beriringan. Ketika tubuh mengalami resistensi insulin—ciri khas diabetes tipe 2—sel-sel tubuh tidak lagi mampu menggunakan insulin secara efektif. Akibatnya, hati mengubah kelebihan gula menjadi lemak yang kemudian disimpan di dalam organ tersebut.
Itulah sebabnya penderita diabetes memiliki risiko dua hingga tiga kali lebih besar mengalami fatty liver dibandingkan orang yang kadar gula darahnya normal.
Sebaliknya, keberadaan fatty liver juga dapat memperburuk resistensi insulin sehingga pengendalian gula darah menjadi semakin sulit. Keduanya membentuk semacam “lingkaran setan” yang saling memperparah.
Ironisnya, sebagian besar penderita fatty liver tidak merasakan gejala apa pun.
Penyakit ini sering dijuluki silent disease karena berkembang diam-diam tanpa keluhan yang berarti. Banyak orang baru mengetahuinya setelah menjalani pemeriksaan USG atau tes fungsi hati.
Padahal, jika dibiarkan bertahun-tahun, fatty liver dapat berkembang menjadi peradangan hati (steatohepatitis), fibrosis, sirosis, bahkan kanker hati.
Begitulah yang dialami Indra Bekti. Awalnya, sekitar April 2025, bertepatan dengan bulan Ramadan, ia mengira hanya mengalami sakit maag.
Perutnya terasa nyeri dan keluhannya terus berulang. Dalam waktu sekitar satu bulan, ia sampai tiga kali bolak-balik ke instalasi gawat darurat (IGD).
Setiap kali mendapat penanganan, kondisinya membaik, tetapi beberapa hari kemudian rasa sakit itu kembali muncul.
Dokter kemudian melakukan pemeriksaan lebih mendalam. Hasilnya cukup mengejutkan. Penyebab keluhannya ternyata bukan sekadar gangguan lambung, melainkan fatty liver.
Pada kunjungan terakhir ke rumah sakit, dokter memutuskan untuk merawatnya selama tiga hari agar kondisinya dapat dipantau sekaligus dilakukan pemeriksaan menyeluruh.
Sejak saat itulah Indra Bekti mulai menjalani perubahan gaya hidup secara serius. Ia mengurangi bahkan menghentikan konsumsi gorengan, minuman manis, jeroan, dan makanan tinggi lemak. Porsi nasi juga dikurangi. Sebaliknya, ia memperbanyak sayur, buah, makanan yang direbus, serta makanan utuh (real food).
Ia juga rutin menjalani kontrol ke dokter dan mengikuti seluruh anjuran medis.
Perubahan itu membuahkan hasil. Dalam beberapa bulan, berat badannya turun sekitar 12 kilogram. Kondisinya berangsur membaik dan ia mengaku tubuhnya terasa jauh lebih sehat dibanding sebelumnya.
Meski demikian, ia tetap menjalani pemeriksaan berkala untuk memastikan kondisi hatinya terus membaik.
Kisah Indra Bekti menjadi pengingat bahwa fatty liver dapat menyerang siapa saja, bahkan mereka yang tidak mengonsumsi alkohol.
Penyakit ini lebih berkaitan dengan gaya hidup dan kondisi metabolisme tubuh daripada sekadar kebiasaan minum alkohol.
Kabar baiknya, jika diketahui sejak dini, penumpukan lemak di hati umumnya masih dapat dikurangi, bahkan fungsi hati dapat membaik melalui penurunan berat badan, pola makan sehat, olahraga teratur, serta pengendalian gula darah, tekanan darah, kolesterol, dan trigliserida.
Hati merupakan salah satu organ yang memiliki kemampuan regenerasi yang luar biasa. Selama kerusakannya belum mencapai tahap lanjut, kesempatan untuk pulih masih terbuka lebar.
Karena itu, jangan pernah mengabaikan sinyal yang diberikan tubuh. Lakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, terutama bila Anda memiliki diabetes, kelebihan berat badan, atau kolesterol tinggi.
Semakin cepat fatty liver dikenali, semakin besar peluang untuk memulihkan kesehatan hati.
Kisah Indra Bekti membuktikan bahwa diagnosis fatty liver bukanlah akhir dari segalanya. Justru, bagi banyak orang, diagnosis itu bisa menjadi titik balik untuk menjalani hidup yang lebih sehat. Tidak ada kata terlambat untuk berubah.
Hati yang dirawat dengan baik akan memberi tubuh kesempatan untuk kembali pulih dan menjalani kehidupan yang lebih berkualitas.(jto)






