SLOW JOGGING

joko intarto

Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi

BELAKANGAN ini netizen ramai membicarakan tentang slow jogging. Di Threads, banyak video yang memperlihatkan orang-orang lanjut usia berlari dengan langkah sangat pendek. Menariknya, mereka mampu melakukannya hingga lebih dari satu jam tanpa terlihat kelelahan.

Bacaan Lainnya

Ada yang menyebutkan bahwa slow jogging berasal dari Korea Selatan, kemudian menyebar ke berbagai negara. Benarkah?

Ternyata tidak. Menurut berbagai referensi ilmiah, slow jogging dikembangkan di Jepang oleh Prof Hiroaki Tanaka, seorang ahli fisiologi olahraga dari Universitas Fukuoka.

Ia mulai mengembangkan konsep ini sejak tahun 1980-an sebagai olahraga yang aman, menyenangkan, dan dapat dilakukan hampir semua orang, termasuk lansia, penyandang obesitas, dan mereka yang baru mulai berolahraga.

Beberapa tahun terakhir slow jogging sangat populer di Korea Selatan. Popularitas itulah yang mungkin membuat banyak orang mengira olahraga ini berasal dari Negeri Ginseng.

Apa Itu Slow Jogging?

Slow jogging bukan sekadar lari pelan. Prinsip utamanya adalah berlari dengan kecepatan yang sangat nyaman sehingga kita masih bisa mengobrol tanpa terengah-engah. Orang Jepang menyebutnya “Niko-Niko Pace”, yaitu kecepatan yang membuat kita masih bisa tersenyum selama berlari.

Ciri-cirinya antara lain:
• langkah pendek;
• kecepatan lebih lambat daripada jogging biasa;
• mendarat dengan bagian tengah atau depan telapak kaki;
• irama langkah relatif cepat, tetapi panjang langkah pendek.

Karena intensitasnya rendah, tubuh tidak cepat lelah sehingga durasi olahraga bisa jauh lebih lama dibandingkan jogging biasa.

Cocok untuk Diabetesi?

Bagi penyandang diabetes, olahraga bertujuan membantu otot menggunakan glukosa sebagai sumber energi. Semakin aktif otot bekerja, semakin banyak glukosa yang diambil dari aliran darah.

Pada olahraga yang sangat berat, glukosa dapat digunakan dengan sangat cepat. Pada sebagian orang, terutama yang menggunakan insulin atau obat tertentu, kondisi ini dapat meningkatkan risiko hipoglikemia atau gula darah turun terlalu rendah.

Slow jogging bekerja dengan cara sedikit berbeda. Karena intensitasnya ringan hingga sedang, penggunaan glukosa berlangsung lebih bertahap. Tubuh memperoleh energi secara stabil sehingga risiko penurunan gula darah yang terlalu drastis menjadi lebih kecil.

Selain itu, olahraga dapat dilakukan lebih lama sehingga total kalori yang dibakar justru bisa cukup besar.

Namun, perlu dipahami bahwa tidak ada jaminan slow jogging pasti mencegah hipoglikemia. Risiko tetap dipengaruhi oleh kadar gula darah sebelum olahraga, jenis obat diabetes yang digunakan, lama berolahraga, dan apakah seseorang sudah makan sebelumnya.

Apa Kata Para Pakar?

Para ahli kesehatan olahraga umumnya menilai slow jogging sebagai bentuk latihan aerobik intensitas rendah yang memiliki banyak manfaat.

Beberapa manfaat yang paling sering dilaporkan antara lain:
• membantu mengendalikan gula darah;
• meningkatkan sensitivitas insulin;
• memperbaiki kebugaran jantung dan paru;
• membantu menurunkan berat badan;
• mengurangi tekanan pada lutut, pinggul, dan punggung dibandingkan lari biasa;
• mudah dilakukan oleh lansia dan pemula.

Karena itu, banyak dokter dan fisioterapis merekomendasikannya sebagai alternatif bagi orang yang merasa berjalan terlalu ringan, tetapi belum mampu melakukan jogging biasa.

Tetap Ada Batasannya

Meski terdengar ideal, slow jogging bukan berarti cocok untuk semua orang.
Penyandang diabetes yang mengalami gangguan saraf kaki (neuropati), luka pada telapak kaki, penyakit jantung yang belum stabil, atau gangguan keseimbangan sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum memulai program olahraga baru.

Selain itu, jangan lupa memeriksa gula darah sebelum dan sesudah berolahraga, terutama bila menggunakan insulin atau obat yang dapat menyebabkan hipoglikemia.

Banyak orang gagal berolahraga bukan karena tidak mampu, melainkan karena memilih olahraga yang terlalu berat.

Di sinilah keunggulan slow jogging. Gerakannya sederhana, tidak membuat napas ngos-ngosan, tidak membutuhkan perlengkapan mahal, dan bisa dilakukan di taman, di kompleks perumahan, bahkan mengelilingi halaman rumah.

Bagi penyandang diabetes, olahraga terbaik bukanlah yang paling berat, melainkan yang paling mungkin dilakukan secara rutin.

Kalau slow jogging membuat Anda bisa bergerak selama 60 hingga 90 menit dengan gembira, tersenyum, dan ingin mengulanginya lagi besok pagi, mungkin itulah olahraga yang paling tepat untuk Anda.(jto)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *