Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi
SETIAP kali melihat buah sukun, saya selalu menghadapi dilema. Ingin makan, tapi was-was. Tidak disangka-sangka, buah sukun ternyata masuk kategori superfood.
Istilah ini belakangan semakin populer. Superfood adalah sebutan bagi bahan pangan yang memiliki kandungan gizi sangat tinggi, memberikan manfaat besar bagi kesehatan, sekaligus diproduksi secara berkelanjutan sehingga ramah terhadap lingkungan.
Selama ini, ketika mendengar kata superfood, pikiran kita mungkin langsung melayang ke quinoa, chia seed, alpukat, atau blueberry. Padahal, Indonesia memiliki calon superfood yang sudah akrab di lidah masyarakat sejak lama: sukun.
Bahkan, seorang guru besar Institut Pertanian Bogor (IPB) menilai sukun sangat berpeluang menjadi superfood masa depan.
Bagi masyarakat Indonesia, buah sukun bukanlah makanan asing. Di banyak daerah, sukun lebih dikenal sebagai camilan sederhana yang digoreng atau dikukus. Karena citranya sebagai makanan kampung, banyak orang memandangnya sebelah mata.
Padahal, di balik kesederhanaannya, sukun menyimpan kualitas premium yang kini diakui dunia sains.
Prof Edi Santosa, Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, menjelaskan bahwa sukun memenuhi sejumlah syarat penting untuk menyandang predikat superfood.
Menurutnya, suatu pangan dapat disebut superfood apabila memiliki kandungan nutrisi tinggi tanpa antinutrisi yang berarti, memberikan manfaat bagi kesehatan, serta dibudidayakan dengan emisi karbon yang rendah dan mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim. Berdasarkan berbagai penelitian dan pengamatan di lapangan, sukun memenuhi ketiga kriteria tersebut.
Dari sisi gizi, sukun memiliki banyak keunggulan. Buah ini kaya serat, vitamin C, vitamin A, folat, zat besi, dan seng. Kombinasi berbagai zat gizi tersebut penting untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi harian sekaligus mendukung upaya pencegahan stunting pada anak.
Namun, satu hal perlu dipahami. Sukun tetap merupakan sumber karbohidrat. Dalam setiap 100 gram daging buah sukun segar terkandung sekitar 33 gram karbohidrat. Setelah dimasak, kandungannya menjadi sekitar 26 gram per 100 gram karena bertambahnya kadar air selama proses pemasakan.
Apakah sukun aman bagi diabetesi?
Jawabannya, ya, tetapi tetap harus memperhatikan porsi.
Prof. Edi menjelaskan bahwa sukun memiliki indeks glikemik yang relatif rendah sehingga kenaikan gula darah cenderung lebih terkendali dibandingkan beberapa sumber karbohidrat lainnya. Kandungan seratnya juga membantu memperlambat penyerapan glukosa.
Namun, penelitian lain menunjukkan bahwa nilai indeks glikemik sukun dapat berubah bergantung pada varietas, tingkat kematangan, dan cara pengolahannya. Karena itu, diabetesi sebaiknya tidak menganggap sukun sebagai makanan yang bebas dikonsumsi tanpa batas.
Bagi saya yang hidup sebagai diabetesi, informasi ini sangat menarik. Sukun boleh menjadi salah satu pilihan sumber karbohidrat, tetapi tetap harus dihitung sebagai bagian dari total asupan karbohidrat harian. Dengan kata lain, yang menentukan bukan hanya jenis makanannya, tetapi juga porsinya.
Prof Edi juga menegaskan bahwa kandungan gizi sukun lebih baik daripada singkong. Meski demikian, bukan berarti singkong menjadi pangan yang buruk. Setiap bahan pangan memiliki keunggulan masing-masing dan saling melengkapi.
Kehebatan sukun ternyata tidak berhenti pada kandungan gizinya.
Pohon sukun juga merupakan tanaman yang tangguh menghadapi perubahan iklim. Tanaman tahunan ini mampu tumbuh baik di daerah bercurah hujan tinggi, tetapi tetap dapat berbuah di wilayah yang relatif kering, seperti Nusa Tenggara Timur.
Dengan perawatan yang relatif sederhana, pohon sukun dapat terus menghasilkan buah hampir sepanjang tahun. Di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin nyata, kemampuan beradaptasi seperti ini menjadi nilai tambah yang sangat penting.
Karena itu, sukun bukan hanya baik untuk kesehatan manusia, tetapi juga ramah bagi bumi.
Potensi ekonomi sukun pun tidak kalah menjanjikan.
Selama ini, sebagian besar sukun dijual sebagai buah segar atau digoreng sebagai makanan ringan. Padahal, nilai tambahnya akan jauh lebih tinggi apabila diolah menjadi tepung sukun.
Tepung sukun dapat menjadi bahan baku aneka produk pangan, mulai dari mi, roti, biskuit, kue, hingga berbagai makanan bebas gluten yang permintaannya terus meningkat di pasar global.
Indonesia memiliki jutaan pohon sukun yang tumbuh hampir di seluruh pelosok negeri. Sayangnya, potensi sebesar itu belum dimanfaatkan secara optimal.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti menganggap sukun sebagai makanan kelas dua.
Siapa tahu, buah yang selama ini tumbuh di halaman rumah justru akan menjadi salah satu superfood kebanggaan Indonesia di masa depan.(jto)






