Penjualan Eceran Juni Mulai Pulih

Aktivitas konsumen berbelanja di supermarket
Aktivitas konsumen di pusat perbelanjaan. Foto IST/RISKS.ID

RISKS.ID – Aktivitas perdagangan ritel Indonesia mulai menunjukkan tanda pemulihan pada Juni 2026. Bank Indonesia mencatat penjualan eceran secara bulanan kembali tumbuh, meski kinerja tahunan masih mengalami tekanan.

Data Survei Penjualan Eceran (SPE) BI menunjukkan Indeks Penjualan Riil (IPR) Juni 2026 berada di level 225,0. Angka tersebut mencerminkan kontraksi 3,0 persen secara tahunan, tetapi lebih baik dibandingkan penurunan 3,9 persen pada Mei.

Bacaan Lainnya

Direktur Eksekutif BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan perkembangan tersebut menunjukkan aktivitas perdagangan mulai bergerak lebih stabil.

“Survei Penjualan Eceran (SPE) Juni 2026 mengindikasikan kinerja penjualan eceran relatif stabil,” kata Ramdan dalam keterangan resmi BI, Selasa (11/8/2026).

Secara bulanan, penjualan eceran justru tumbuh 0,7 persen. Kondisi ini berbalik dari kontraksi 1,5 persen pada bulan sebelumnya.

Perbaikan terutama berasal dari kelompok barang lainnya yang meningkat 6,9 persen secara bulanan. Suku cadang dan aksesori juga tumbuh 3,7 persen, sedangkan perlengkapan rumah tangga lainnya naik 2,8 persen.

Kinerja sejumlah kelompok tersebut menjadi penopang ketika konsumsi beberapa barang masih melemah. Penjualan makanan, minuman, dan tembakau misalnya hanya tumbuh tipis 0,1 persen secara bulanan.

BI melihat momentum hari besar keagamaan dan libur sekolah turut menjaga aktivitas belanja masyarakat. Kondisi ini memberikan ruang bagi pemulihan konsumsi domestik pada paruh kedua tahun ini.

Sinyal perbaikan juga terlihat dari proyeksi Juli 2026. BI memperkirakan IPR tumbuh 0,9 persen secara tahunan dengan indeks 224,4.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau diproyeksikan menjadi salah satu pendorong dengan pertumbuhan 1,6 persen. Suku cadang dan aksesori bahkan diperkirakan tumbuh 10,8 persen secara tahunan.

Namun, pemulihan konsumsi belum terjadi secara merata. Ekspektasi penjualan September tercatat menurun karena pelaku usaha memperkirakan aktivitas masyarakat kembali normal setelah momentum perayaan kemerdekaan.

Dari sisi wilayah, Manado menjadi salah satu daerah dengan pertumbuhan penjualan paling kuat. Pada Juni, penjualan eceran kota tersebut tumbuh 17,2 persen secara tahunan.

Medan dan Semarang juga mencatat pertumbuhan positif masing-masing 6,6 persen dan 9,7 persen. Perbedaan kinerja antardaerah menunjukkan daya beli masyarakat masih bergerak dengan kecepatan yang tidak sama.

BI tetap melihat peluang penguatan konsumsi menjelang akhir tahun. Ekspektasi penjualan Desember meningkat seiring potensi kenaikan aktivitas masyarakat pada periode Natal dan libur akhir tahun.

Perkembangan tersebut menjadi sinyal penting bagi perekonomian nasional. Jika tren perbaikan berlanjut, konsumsi rumah tangga berpeluang kembali menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester II 2026.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *