Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi
INI pengalaman pertama saya ketika mengetahui hasil tes HbA1C yang kurang baik: panik!
Berbagai pertanyaan langsung bermunculan. Intinya satu: Kok bisa?
Padahal saya aktif berolahraga hampir setiap hari. Gula darah sewaktu yang saya ukur secara berkala juga rata-rata berada pada kisaran yang cukup baik. Saya merasa sudah menjalani pola hidup yang benar. Karena itu, ketika melihat angka HbA1C yang belum sesuai harapan, saya benar-benar kecewa.
Mungkin pengalaman seperti ini pernah Anda alami juga.
Datang ke laboratorium dengan penuh harapan, tetapi pulang membawa rasa sedih. Berbagai usaha yang dilakukan selama berbulan-bulan terasa seperti tidak membuahkan hasil. Bahkan muncul pikiran, “Percuma saja saya menjaga makan dan rajin berolahraga.”
Kalau Anda sedang berada pada fase itu, saya ingin mengatakan satu hal: jangan panik.
Justru saat itulah kita perlu memahami apa sebenarnya HbA1C.
HbA1C, atau glycated hemoglobin, adalah pemeriksaan yang mengukur persentase hemoglobin dalam sel darah merah yang berikatan dengan glukosa. Karena umur sel darah merah sekitar 120 hari, hasil HbA1C menggambarkan rata-rata kadar gula darah selama dua hingga tiga bulan terakhir.
Berbeda dengan pemeriksaan gula darah puasa atau gula darah sewaktu yang hanya menunjukkan kondisi pada saat darah diambil, HbA1C memberikan gambaran yang jauh lebih utuh. Ibaratnya, jika gula darah sewaktu adalah sebuah foto, maka HbA1C adalah rekaman perjalanan selama tiga bulan.
Itulah sebabnya pemeriksaan HbA1C menjadi salah satu parameter penting dalam pengelolaan diabetes. Pemeriksaan ini membantu dokter dan diabetesi menilai apakah pengendalian gula darah selama beberapa bulan terakhir sudah berjalan baik atau masih perlu diperbaiki.
Banyak organisasi profesi, termasuk American Diabetes Association (ADA) dan Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), merekomendasikan pemeriksaan HbA1C setiap sekitar tiga bulan bagi diabetesi yang masih melakukan penyesuaian terapi atau yang target gula darahnya belum tercapai. Setelah pengendalian gula darah stabil, pemeriksaan dapat dilakukan setiap enam bulan.
Lalu bagaimana jika hasil HbA1C masih tinggi?
Sekali lagi, jangan panik, jangan sedih, dan jangan merasa gagal.
Anggaplah HbA1C sebagai rapor. Rapor yang nilainya belum memuaskan bukan berarti kita bodoh. Rapor hanya memberi tahu bahwa masih ada pelajaran yang perlu dipelajari lebih baik.
Begitu pula dengan HbA1C.
Hasil yang kurang menggembirakan bukanlah vonis. Itu hanyalah umpan balik bahwa masih ada “pekerjaan rumah” yang harus diselesaikan sebelum pemeriksaan berikutnya tiga bulan mendatang.
Lalu apa saja pekerjaan rumah itu?
Pertama, evaluasi pola makan. Bisa jadi yang perlu diperbaiki bukan hanya jumlah nasi, tetapi juga roti, mi, camilan, minuman manis, atau ukuran porsi makan. Perbanyak sayuran, protein, dan makanan tinggi serat agar lonjakan gula darah setelah makan lebih terkendali.
Kedua, tetap berolahraga secara konsisten. Olahraga tidak hanya membantu menurunkan gula darah, tetapi juga meningkatkan sensitivitas insulin. Namun ingat, olahraga saja belum tentu cukup bila pola makan masih belum terkendali.
Ketiga, lebih sering memantau gula darah. Jangan hanya sesekali memeriksa gula darah sewaktu. Sesekali lakukan pemeriksaan gula darah puasa dan dua jam setelah makan. Dari situ kita bisa mengetahui makanan atau kebiasaan apa yang menyebabkan lonjakan gula darah.
Keempat, perbaiki kualitas tidur. Tidur yang kurang atau tidak berkualitas dapat meningkatkan hormon stres yang akhirnya ikut menaikkan kadar gula darah.
Kelima, kelola stres. Beban pikiran yang berkepanjangan sering kali memengaruhi pengendalian diabetes, meskipun pola makan sudah cukup baik.
Keenam, patuhi terapi yang telah disepakati dengan dokter. Bila menggunakan obat atau insulin, jangan menghentikan atau mengubah dosis tanpa berkonsultasi.
Ketujuh, hindari godaan produk yang menjanjikan penurunan HbA1C secara instan. Hingga kini belum ada jalan pintas yang terbukti mampu menurunkan HbA1C secara ajaib. Perubahan gaya hidup yang dilakukan secara konsisten tetap menjadi kunci utama.
Yang juga perlu diingat, jangan hanya terpaku pada angka akhir.
Kalau HbA1C turun dari 9 persen menjadi 8 persen, itu sudah merupakan kemajuan. Bila turun lagi menjadi 7 persen, itu lebih baik lagi. Perjalanan mengendalikan diabetes memang sering kali tidak berlangsung lurus. Ada kalanya naik, ada kalanya turun. Yang penting adalah arah perjalanannya terus menuju kondisi yang lebih baik.
Saya sendiri memilih menjadikan hasil HbA1C yang kurang memuaskan sebagai bahan evaluasi, bukan sebagai alasan untuk menyerah.
Masih ada waktu tiga bulan sampai pemeriksaan berikutnya.
Masih ada kesempatan memperbaiki pola makan.
Masih ada kesempatan memperbaiki kualitas tidur.
Masih ada kesempatan berolahraga lebih konsisten.
Masih ada kesempatan belajar dari kesalahan.
Karena pada akhirnya, HbA1C bukan sekadar angka di selembar kertas hasil laboratorium. Ia adalah pengingat bahwa mengendalikan diabetes merupakan proses panjang yang membutuhkan kesabaran, disiplin, dan kemauan untuk terus belajar.
Jadi, bila suatu hari hasil HbA1C Anda belum sesuai harapan, jangan panik.
Anggap saja itu rapor semester ini.
Masih ada semester berikutnya untuk memperoleh nilai yang lebih baik.(jto)






