RISKS.ID – Kondisi ekonomi global dan domestik yang semakin sulit diprediksi mendorong kebutuhan nasabah perbankan terhadap solusi perlindungan kekayaan jangka panjang. Perubahan ekonomi yang berlangsung amat cepat membuat proyeksi kondisi lima hingga sepuluh tahun ke depan tidak mudah diperkirakan secara akurat.
Dalam acara konferensi pers Wealth Prestige Protection di Jakarta, Jumat, 3 Oktober 2026, Executive Vice President Wealth Management BCA Indrawan B menyampaikan pandangannya mengenai dinamika ekonomi saat ini.
“Kalau kita bicara ini kan ketidakpastian. Kita agak sulit untuk prediksi misalnya lima tahun ke depan mau bagaimana, 10 tahun ke depan mau bagaimana. Karena perubahannya sangat cepat,” kata Indrawan.
Menurut Indrawan, keterhubungan antara kondisi ekonomi global dan domestik membuat gejolak di suatu negara dapat berdampak langsung pada negara lain. Dalam konteks ini, masyarakat perlu mengantisipasi berbagai risiko jangka panjang, termasuk inflasi dan pergerakan nilai tukar mata uang.
Nilai nominal kekayaan yang sama saat ini berpotensi memiliki daya beli berbeda di masa depan akibat inflasi. Perhitungan atas kecenderungan nilai rupiah terhadap dolar AS dan laju inflasi menjadi pertimbangan utama saat merencanakan perlindungan aset.
“Uang Rp1 miliar sekarang dengan uang Rp1 miliar 10 tahun lagi mungkin akan sangat berbeda,” ujarnya.
Menjawab tantangan tersebut, BCA bermitra dengan AIA Indonesia menghadirkan solusi perlindungan seperti Prestige Pro yang dirancang memberikan perlindungan jangka panjang hingga usia 99 tahun. Penggunaan denominasi dolar AS pada produk ini menjadi salah satu strategi mengantisipasi ketidakpastian nilai tukar rupiah.
Indrawan menambahkan, instrumen perlindungan kekayaan harus dirancang agar nilainya mampu tumbuh mengimbangi tekanan inflasi maupun fluktuasi mata uang.
“Harus up supaya bisa meng-cover inflasi dan segala macam. Termasuk currency-nya,” katanya.
Mengenai strategi pemasaran, BCA memilih tidak menetapkan target penjualan produk tertentu yang dibebankan kepada tenaga pemasar. Pendekatan berbasis kebutuhan nasabah diutamakan agar solusi wealth management yang ditawarkan tepat sasaran dan sesuai dengan preferensi serta karakter masing-masing nasabah.
“Kita tidak mau penjualan kita itu di-drive dari keinginan kita menjual. Yang kita mau adalah kita menjual berdasarkan angka yang nasabah kita butuh,” ujarnya.






