MENIKMATI OPOR

joko intarto
Foto: Joko Intarto

Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi

HARI raya Idul Adha identik dengan pesta makanan berbahan daging dan santan. Di meja makan, lontong opor, kupat sayur, rendang, hingga gulai menjadi menu utama yang sulit ditolak. Masalahnya, bagi diabetesi atau mereka yang sedang menjaga gula darah, hidangan seperti ini bisa menjadi “jebakan betmen”.

Bacaan Lainnya

Itulah yang saya alami hari ini. Karena terlalu banyak makan opor ayam, tidak ada pilihan lain: harus olahraga. Sore hari saya kembali jogging selama satu jam di Sagoro Jogging Track, Kelapa Gading Barat. Jarak yang ditempuh sekitar 5,5 kilometer.

Tujuannya: “melawan” efek lontong, kupat, dan kuah opor bersantan yang sejak pagi masuk ke tubuh.

Sepulang olahraga, saya langsung mengecek gula darah. Hasilnya 142 mg/dL. Angka ini melonjak cukup tinggi, karena sehari sebelumnya, gula darah saya hanya 98 mg/dL.

Angka tersebut merupakan gabungan dari seporsi lontong opor setelah salat Idul Adha, seporsi kupat opor saat makan siang, lalu ditutup dengan jogging selama satu jam.

Kabar baik atau buruk? Semua bergantung pada cara membaca datanya. Bagi saya, itu kabar baik. Saya memilih berpikir positif agar tidak panik dan stres. Sebab, perasaan yang tertekan bisa memicu gula darah naik tinggi.

Saya membayangkan jika hari ini hanya rebahan dan malas bergerak, kemungkinan besar angka gula darah saya bisa jauh lebih tinggi.

Sejumlah penelitian memang menunjukkan bahwa olahraga aerobik seperti jogging dapat membantu menurunkan gula darah sekitar 15–20 persen. Aktivitas fisik membuat otot menggunakan glukosa sebagai sumber energi sehingga kadar gula dalam darah ikut turun.

Karena itu, sangat mungkin tanpa olahraga tadi sore, gula darah saya berada di kisaran 150–160 mg/dL, bahkan lebih.

Pengalaman sederhana ini memberikan pelajaran penting: apa pun menu makan kita hari ini, imbangi dengan aktivitas fisik yang cukup. Apalagi jika makanan tersebut tinggi karbohidrat dan lemak, seperti lontong, kupat, dan opor bersantan.

Bagi para diabetesi, membiasakan cek gula darah secara mandiri sangat penting. Dari sana kita bisa belajar memahami respons tubuh terhadap makanan tertentu. Hasil pengecekan itu dapat menjadi panduan untuk langkah berikutnya: apakah porsinya perlu dikurangi, frekuensinya dibatasi, atau bahkan harus dihindari sama sekali.

Nikmati makanan hari raya secukupnya. Setelah itu, bergeraklah. Begitulah cara paling sederhana para diebetesi menikmati opor.(jto)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *