NOVEL HITAM DAN PUTIH: Pertemuan Pertama (Bagian-1)

novel hitam dan putih
Ilustrasi Chaterine G Peter/RISKS.ID

KEDIRI, Januari 1998

Langit sudah gelap, bahkan sebelum Azan Maghrib selesai berkumandang.

Bacaan Lainnya

Awan hitam menggantung rendah di atas Kota Kediri, menekan udara menjadi lembap dan berat. Dari arah Sungai Brantas di sebelah barat, angin membawa bau tanah basah bercampur aroma kayu yang baru diguyur hujan pertama.

Di sepanjang jalan, toko-toko mulai menutup rolling door. Pedagang kaki lima buru-buru menarik gerobaknya lebih ke pinggir trotoar. Lampu-lampu neon menyala satu per satu, memantul di aspal yang mulai licin.

Motor Honda CB 100 warna putih milik Arga melaju pelan di tengah gerimis.

Suara knalpotnya kasar dan sesekali batuk kecil saat melewati genangan air. Bleduk…bleduk….greeeng…..

Di jok belakang, gulungan banner promosi dibungkus plastik hitam dan diikat tali rafia warna merah seadanya.

Arga menepuk-nepuk sisi kiri tangki motornya yang berwarna putih. Di tangki itu, ada stiker grup band Slank idolanya.

“Jangan mati sekarang, ya.”

Ia bicara seolah sedang membujuk manusia.

Motor itu memang lebih sering mogok daripada sehat. Tetapi, sejak ayahnya jatuh sakit tiga bulan lalu, hanya itu yang bisa dipakai Arga untuk mengantar pesanan sablon keliling kota.

Hujan makin lebat ketika ia membelok masuk kawasan pecinan di Kelurahan Pakelan, Kota Kediri.

Suasananya langsung berubah.

Gang-gang sempit dipenuhi cahaya merah lampion yang tergantung di depan ruko-ruko tua. Di kawasan itu, kebanyakan toko menjual oleh-oleh khas Kota Kediri.

Seperti tahu takwa, getuk pisang, sate 02 atau sate bekicot, keripik tahu, dan aneka jajanan lainnya.

Air hujan menetes dari kabel listrik yang kusut di atas kepala. Aroma khas menyeruak dari segala arah. Ada aroma bakpao kukus, minyak wijen, teh melati, dupa klenteng, dan bau kayu tua yang lembap.

Arga selalu merasa kawasan itu seperti dunia lain. Berbeda dari kampungnya di pinggir kota, tepatnya di Kelurahan Sukorame.

Di sini orang-orang berbicara lebih pelan. Pintu-pintu toko terlihat rapat. Dan tatapan mata orang terasa hati-hati pada orang asing.

Ia menghentikan motor di depan toko cat “Sinar Baru”.

Seorang lelaki tua setengah botak membuka pintu geser sedikit.

“Banner dari Pak Sastro,” kata Arga sambil menyerahkan gulungan plastik.

Pak Sastro adalah ayah Arga. Sedangkan Arga adalah anak satu-satunya pasangan Pak Sastro dan Bu Rini.

Orang tua itu menerima tanpa banyak bicara.

Hanya mengangguk.

Lalu pintu kembali ditutup.

Arga berdiri beberapa detik di bawah hujan yang makin deras. Ia mengembuskan napas panjang sambil melihat jam tangan merk Casio di pergelangan tangan kirinya.

Arloji itu adalah pemberian Bu Rini sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke 17 tahun empat tahun lalu.

Setengah tujuh.

Masih ada satu pesanan lagi sebenarnya. Tetapi hujan seperti ini biasanya membuat toko-toko cepat tutup.

Ia menyalakan rokok.

Gudang Garam Surya 12. Rokok kesukaannya dan warga Kota Kediri.

Api korek sempat mati dua kali tertiup angin.

“Nasib,” gumamnya.

Asap rokok bercampur udara dingin malam. Arga menghisapnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.

Dia begitu menikmati setiap hembusan asap rokok buatan PT Gudang Garam itu. Pabrik rokok raksasa yang berdiri megah di Kota Kediri.

Dari kejauhan terdengar suara petasan kecil. Mungkin latihan untuk Cap Go Meh minggu depan. Lampion-lampion merah bergoyang tertiup angin, memantulkan cahaya samar di genangan air.

Arga melanjutkan berjalan sambil mendorong motor pelan.

Lalu hujan deras disertai angin dan petir.

Orang-orang mulai berlari mencari tempat berteduh.

Seorang ibu menutup gerobak cakwe dengan terpal biru. Dua anak kecil berteriak sambil melompati genangan. Seorang pria Tionghoa buru-buru mengangkat kandang burung masuk ke toko.

Arga berhenti di bawah kanopi ruko tua bercat hijau kusam.

Catnya mengelupas di beberapa bagian. Besi rolling doornya dipenuhi bercak karat. Di samping pintu, tulisan Mandarin warna emas mulai memudar dimakan usia.

Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat halaman klenteng Tjoe Hwie Kiong di ujung tikungan.

Arga kemudian memilih pindah menuju klenteng.

Klenteng itu cukup besar, dan terlihat sangat hidup. Usia klenteng itu juga sudah cukup tua, kurang lebih 200 tahun.

Lampion merah menggantung di beranda depan. Asap dupa tipis menari keluar bersama suara lonceng kecil yang sesekali berbunyi tertiup angin.

Dan di sanalah Arga melihat sosok perempuan yang menarik perhatiannya.

Seorang gadis berdiri sendirian di depan altar luar klenteng.

Payung putihnya terbuka setengah. Rambut hitam panjangnya bergerak pelan diterpa angin hujan. Ia memakai sweater rajut warna krem dengan rok hitam selutut dan sepatu putih yang kini sedikit terkena cipratan air.

Tangannya memegang tiga batang dupa.

Namun korek api di tangannya terus mati.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Arga memperhatikannya tanpa sadar.

Mungkin karena gadis itu terlihat terlalu tenang di tengah hujan sebesar itu.

Atau mungkin karena ada kesedihan aneh di wajahnya.

Ia tidak tahu.

Yang jelas, untuk pertama kalinya sore itu, suara hujan seperti menjauh.

“Mas.”

Arga tersentak.

Gadis itu sedang menatap ke arahnya.

Matanya bening.

Sedikit sayu.

“Punya korek?”

Arga berkedip beberapa kali seperti orang baru bangun tidur.

“Oh… iya.”

Ia buru-buru merogoh saku jaket jins kumalnya. Jemarinya dingin dan agak gemetar karena kehujanan.

Arga mendekat sambil melindungi api korek dengan kedua tangan.

Begitu dekat sekarang.

Ia bisa mencium aroma parfum lembut bercampur hujan dari tubuh gadis itu.

Bukan aroma mencolok.

Tapi dari aroma Maison Francis Kurkdjian Baccarat Rouge 540.

“Sebentar,” kata Arga pelan.

Api kecil akhirnya menyala.

Gadis itu mendekatkan dupa perlahan sambil menangkupkan tangan di sekitar nyala api.

Wajah mereka hanya terpisah beberapa sentimeter.

Suara hujan memenuhi udara.

Lampion merah di atas mereka bergoyang pelan.

Untuk beberapa detik, dunia terasa seperti berhenti.

Dupa akhirnya menyala.

Asap tipis naik perlahan ke udara malam.

“Terima kasih,” ucap gadis itu.

Suaranya lembut.

Dan entah kenapa membuat dada Arga terasa sesak.

“Iya,” jawab Arga kikuk.

Gadis itu menancapkan dupa ke altar kecil di depan patung dewa. Ia menunduk sebentar, memejamkan mata, lalu menghela napas panjang seperti baru selesai memikirkan sesuatu yang berat.

Arga berdiri canggung di sampingnya.

Harus pergi.

Tapi anehnya, dia tidak ingin pergi.

“Sendirian?” tanyanya akhirnya.

Begitu pertanyaan itu keluar, Arga langsung merasa bodoh.

Siapa juga membuka percakapan seperti itu.

Namun gadis itu justru tersenyum. Senyumnya manis sekali.

“Saya memang sering sendiri.”

Kalimat itu sederhana.

Tetapi ada sesuatu di caranya mengucapkan kata sendiri yang membuat Arga diam.

Petir menyalak membelah derasnya hujan.

Air mulai mengalir di anak tangga klenteng.

“Kamu bukan orang pecinan ya?” tanya gadis itu lagi.

“Kelihatan banget ya?”

“Lumayan.”

“Dari mana tahunya?”

Gadis itu menatap motor tua Arga yang terparkir di luar halaman klenteng.

“Orang sini jarang naik motor bunyinya kayak kaleng dipukul.”

Arga tertawa keras untuk pertama kalinya sore itu.

Dan gadis itu ikut tertawa kecil.

Suara tawanya pendek.

Tetapi cukup membuat jantung Arga terasa aneh.

“Nama kamu siapa?” tanya gadis itu.

“Arga. Lengkapnya Arga Prasetyo.”

“Oh Arga…”

Cara ia mengucapkan nama itu pelan sekali.

Seperti sedang mencoba menyimpannya baik-baik di ingatan.

“Kalau kamu?”

Belum sempat gadis itu menjawab…

Sebuah sedan hitam Honda Accord berhenti mendadak di depan klenteng.

Lampunya memantul di jalanan basah.

Pintu depan terbuka keras.

Seorang pria muda turun sambil membawa payung hitam besar. Wajahnya mirip gadis itu, tetapi rahangnya lebih tegas dan matanya dingin agak sipit.

Ia langsung memandang gadis itu.

“Mama nyariin kamu. Cepat pulang!”

Nada suaranya datar.

Namun penuh tekanan.

Tatapannya lalu berpindah ke Arga.

Naik turun.

Menilai pakaian basahnya.

Jaket lusuhnya.

“Siapa dia?”

Arga bisa merasakan perubahan udara seketika.

Gadis itu menjawab lebih dulu.

“Tadi bantuin nyalain dupa.”

Pria itu masih menatap Arga cukup lama hingga suasana berubah tidak nyaman.

Lalu ia membuka payung.

“Ayo pulang.”

Gadis itu diam sebentar sebelum melangkah pergi.

Namun sebelum masuk ke mobil, ia menoleh sekali lagi pada Arga.

Tatapan mereka bertemu di tengah hujan.

“Semoga kita ketemu lagi ya Ga.”

Arga membeku.

Pintu mobil tertutup.

Mobil mewah buatan Honda itu bergerak perlahan meninggalkan klenteng, membelah hujan dan cahaya merah lampion yang memantul di jalan basah.

Arga masih berdiri di sana cukup lama.

Hujan terus turun membasahi pundaknya.

Dupa di altar masih mengepulkan asap tipis.

Dan untuk alasan yang belum ia pahami, malam itu terasa seperti awal dari sesuatu yang besar.

Sesuatu yang mungkin akan mengubah hidupnya selamanya.

Bersambung………..


Disclaimer: Cerita ini hanya fiksi semata. Jika ada kesamaan judul, nama tokoh, dan cerita, itu hanya kebetulan semata. 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *